...Ana Udan Salah Mangsa...

Apakah hujan masih melemparkan sejuta pesona bagimu sehingga kau harus keluar rumah membuka pintu, menawarkan telapak tanganmu? Bagiku, tentu. 

Apa yang kau cari dari balik hujan? Matahari tak pernah bersembunyi saat hujan turun siang hari. Mungkin, matahari hanya sedang luruh dalam seluruh tawa kita ketika kau lempar sebuah cerita.
Dari sanalah, kulihat diam-diam matahari terbit bersama bias pelangi.

Aku mulai tidak peduli pada perjanjianku dengan hujan. Ia pernah berjanji hanya akan turun pada bulan Januari. Aku tidak peduli, karena bukankah setiap kali hujan, kamu akan tersenyum? Yang terpenting, meskipun kamu terlalu mencintai hujan, jangan sampai lupa jalan pulang.

[fiktif] Aku Memilih Setia

...ada banyak cara Tuhan menghadirkan cinta, mungkin engkau adalah salah satunya.
Namun engkau datang di saat yang tidak tepat. Cintaku telah dimiliki...
Inilah akhirnya harus kuakhiri, sebelum cintamu semakin dalam.
Maafkan diriku memilih setia, walaupun kutahu cintamu lebih besar darinya..

Maafkanlah diriku tak bisa bersamamu, walau besar dan tulusnya rasa cintamu..
Ku tak mungkin membagi cinta tulusmu, karena ku memilih setia..

Seribu kali logikaku untuk menolak, tapi ku tak bisa bohongi hati kecilku.
Bila saja diriku ini masih sendiri, pasti ku kan memilihmu..
[Aku Memilih Setia - Fatin Shidqia Lubis]


...aku benar-benar merasa kehilangan sesuatu, seseorang lebih tepatnya.. Meski separuh perjalanan hidupku bersamanya, kami tidaklah bisa disebut saling memiliki, memang bukan semacam status seperti yang dibenak orang lain. Kami tanpa status, yang aku tahu bahwa kami saling menyukai, saling memberi perhatian, tapi tanpa deklarasi. Sampai pada akhirnya, salah satu diantara kami memutuskan untuk menyudahi ketidakjelasan hubungan kami, tentu saja bukan aku. Dia. Bukan mengikat, tapi dia justru memilih untuk pergi tanpa memberi penjelasan. Easy come easy go, itu kamu. Datang dengan mudah, pergi tanpa penjelasan. Aku kehilangan, meski tidak ada yang bilang kalau kami saling memiliki. Tak pernah sekalipun aku berpikir untuk mengirimi ia pesan singkat, karena aku mulai terbiasa dengan dikirimi pesan terlebih dahulu olehnya. Aku kehilangan, tapi aku tak berpikir untuk mencarinya. Jika ia memilih pergi, ya sudah. Bukan berarti aku tidak berniat memperjuangkan apa yang selama ini kami alami bersama, tapi aku lebih berpikir bahwa justru inilah jawaban yang sesungguhnya menjadi pertanyaanku selama aku bersamanya. Aku akui bahwa aku kehilangan, sangat kehilangan, lalu aku mulai rindu, tapi aku tidak tau akan berkata apa jika akhirnya aku bertemu dengannya lagi. Juga, tidak ada lagi yang perlu kudengarkan, karena memang tidak perlu ada kelanjutan. Ini jelas bukan tentang siapa yang mengakhiri, sebab kita juga belum memulai.


Laki-laki yang mencintaiku, sedang ada di sini, di sampingku kini. Menyaksikan aku menuliskan semua kisah yang pernah kami alami bersama. Dia menungguku, menyaksikanku untuk menulis, mencoba jujur pada dunia ini, dunia yang sempat aku bohongi tentang perasaanku. Merangkai sebuah kisah baru yang lebih menyenangkan untuk bisa dibaca kembali, bersama-sama nanti. 2 tahun kami menjalin ikatan, dan selama itu pula aku membangun kenangan-kenangan di kota kecil ini bersamanya. Mungkin bagi orang lain, belum bisa dibilang lama, tapi kami bersyukur, karena selama itu pula simpul-simpul dalam ikatan kami, bisa kami urai dan kami kembali berjalan beriringan lagi. Aku bahagia, dan anggap saja kami juga bahagia. Meski kadang karakternya yang cool namun cenderung acuh (menurutku) sering kelewatan, tak pernah aku berpikir untuk mengakhiri ikatan ini dengannya. Aku tidak bisa marah padanya, jika aku marah padanya, dia selalu punya caranya sendiri hingga aku lupa dengan marahku. Aku tau, dia itu gengsinya gedhe, namun rasa cintanya padaku sangat besar. Seiring berjalannya waktu yang aku lewati bersamanya, aku bertemu dengan seorang laki-laki yang kemudian kami saling memberi perhatian. Ya, laki-laki ini adalah laki-laki yang sekarang memilih mundur, membiarkanku bersama dengan laki-laki 2tahunku.

Memang kehadiran laki-laki itu di antara kami berdua, tidak membuat sikapku padanya berubah..mungkin, karena dia tidak tau. Aku tetap selalu hangat, selalu perhatian, tapi sebenarnya sedikit demi sedikit aku mulai banyak menuntut. Yah, mungkin karena aku menginginkan supaya dia seperti dia yang lain, yang wujud cintanya padaku lebih bisa kurasakan, yang cintanya padaku kuanggap justru lebih sempurna dibandingkan dengan cinta 2 tahunnya. Secara tidak sadar mungkin aku akan membandingkan segala sesuatu yang dia miliki, apa yang pernah dia berikan padaku selama 2 tahun dengan segala hal yang ia lakukan beberapa bulan terakhir untukku tanpa pernah kuceritakan padanya kenapa alasannya.
Yang aku ceritakan padanya hanya sebatas bahwa ada seorang laki-laki baru, yang kuanggap teman dekat karena dia baik. Toh, kami memang bukan siapa-siapa untuk siapa. Toh, juga tidak selayaknya waktu 2 tahun harus dibandingkan dengan hitungan bulan.

Mungkin dia bosan, atau apa. Dia merelakanku berbahagia dengan laki-laki 2tahunku. Kini, aku akan rela dia meninggalkanku begitu saja, jika aku tau kalau dia juga bahagia dengan perempuan lain. Kalau aku bisa tanpamu, kamu juga harus bisa tanpaku. Kalau aku bisa beriringan dan bahagia dengan laki-laki lain, kamu juga harus bisa beriringan dan bahagia dengan perempuan lain. Aku melupakanmu, kamu juga melupakanku. Itu baru adil. Berbahagialah, maka aku juga akan bahagia.
Aku memilih setia dengan laki-lakiku, itu jawaban dari Tuhan. Dan kamu pergi, itu bagus untukku dan untukmu, untuk laki-lakiku juga. Aku menyesal untuk membiarkanmu mengganggu perasaanku yang seharusnya tidak boleh kamu tempati.
Pada akhirnya, kita memang tidak bersama-sama dalam jalan ini, tidak berjalan seiringan, tapi semoga kita sedang saling mendoakan. Kita bisa memilih bahagia, tentu dengan cara kita masing-masing, juga tentu tanpa perlu menyakiti satu sama lain.

Maaf laki-lakiku, aku yang pernah sempat memiliki cinta terpendam selain darimu dalam hatiku ketika aku bersamamu, dan kamu kini dengan berbesar hati memaafkanku, dan menerimaku kembali. Dan justru kamu berjanji, tak kan membiarkanku juga merasakan sakit seperti ketika kau kuduakan. Kamu lebih dari sempurna.

Hai, aku tunggu kamu untuk bertemu denganku lagi, entah kapan itu. Jika kamu bertemu denganku lagi, maka jadilah kita untuk saling memberikan senyum sapa pertanda bahwa kita bahagia dengan jalan kita masing-masing. Jangan lupa, bahwa aku orang baik, yang juga pantas mendapatkan yang baik. Kamu juga orang yang baik, yang juga pantas mendapatkan yang baik.

"Life can be so funny, anyway..you miss someone so much, but you have nothing to say.."

[fiktif]
@nomention

If

..if a picture paints a thousand words, then why i can't paint you..
Jika saja waktu itu bukan melulu soal masa depan dan masa lalu..
Jika saja waktu adalah soal bilangan jam digital atau analog, maka akan mudah bagi siapa saja memutar cuplikan-cuplikan tertentu dalam hidupnya untuk dapat ia putar kembali, mengulangi momen, memperbaiki, atau hanya sekadar mengenang kembali..
ah ya, aku curhat..

Eh apa kabarmu di sana?
Selalu saja aku tak pernah sampai hati untuk sekadar menanyakan kabarmu.
mmm...aku sampai lupa kegemaran memotoku akhir-akhir ini.. Katanya, foto dapat bercerita banyak hal.. Dan kini aku tau betapa sulitnya aku memutar kembali memoriku tentangmu tanpa gambar..

*karena mungkin aku sudah lupa.. Aku lupa cara bicaramu, aku lupa gesturmu, aku lupa potongan rambutmu, aku lupa caramu menyapaku pertama kali, aku lupa kamu.

Baik - baiklah..
Bahagialah..

@nomention

"Kamu mau jadi apa?"

Anehnya hidup di dunia alien ini adalah serba mainstreem. Lihat ketika dua hari yang lalu, saya duduk seorang diri di dalam kereta, kemudian seorang perempuan yang usianya lebih muda dari saya bertanya pada  saya, "Mau kemana mbak?" kalimat yang sebenarnya tujunnya adalah meminta ijin supaya saya membolehkan dia duduk di samping saya. Saya jawab, "ke Solo."

"Kuliah?" ia lanjut bertanya pada saya.
"iya."
"jurusan?" pertanyaan nampak semakin kepo.
saya ladeni,
"Linguistik."
"itu... terus besok mau jadi apa?"
begitu pertanyaan terakhir yang terlontar darinya, sesaat setelah saya terdiam cukup lama untuk memikirkan suatu hal. Belum sempat kujawab, lalu kulempar pertanyaan yang sama kepada mbaknya,
"mbaknya jurusan apa emangnya?"

Apa keliatannya saya ini nggak punya masa depan, atau jurusan yang saya sebutkan keliatan nggak punya masa depan? aiiiiiih, apa saya harus jawab, "jurusan Kedokteran." supaya jelas setelah lulus saya akan jadi apa? pasti jadi dokter, begitu? Apa tidak akan makin lucu jika bertanya pada seseorang yang ternyata kuliah di jurusan Pertanian, kemudian dia juga merespon dengan hal yang sama? "Mau jadi apa setelahnya?" dia pikir, lulusannya hanya bisa jadi petani. Begitu?

"mbaknya jurusan apa emangnya?"
"akutansi."
"memangnya rencana mbak setelah lulus apa?"
"belum tau."

nah that's it, Anda hanya belum punya kepercayaan diri. Ragu, ingin tau langkah apa yang akan diambil orang, kemudian hanya akan ada dua kemungkinan, pertama mengikuti jejaknya, atau yang kedua bertanya kepada orang lain lagi, untuk mencari alternatif jalan menuju jalan kesuksesan menurutnya.

Ah, saya teringat kata bapak,
"Bapak menyekolahkan kamu bukan karena bapak pengen kamu jadi pegawai negeri, atau mendapatkan pekerjaan kantoran. Bagi bapak itu nilai plus, tapi bapak cuma berharap kamu mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya selama itu masih bisa dicari dan diperjuangkan. Supaya kamu bisa bertemu dengan banyak orang, kemudian belajar. Intinya kamu harus kreatif. Sukses itu caranya bukan cuma dari gaji pegawai negeri, ada banyak jalan kalau kamu kreatif, cerdas."

saya diam, kemudian waktu tetap terus berputar.
think.think.thing.pray.pray.pray.hope.hope.hope.fight.fight.fight.faith.faith.faith.wish.wish.

Ya, Aku Tau

Aku tau, memang tak baik mengingat ingat kesalahan orang lain.
Aku juga tau, tak baik membawa muka murung kita di hadapan orang lain,
aku tau pasti, tak baik mendiamkan orang tanpa orang tersebut tau alasannya,
aku juga tau pasti, tidak baik mengoreksi orang lain tanpa mengoreksi diri sendiri terlebih dahulu.
Sama tau nya aku, bahwa terlalu banyak makan makanan manis tidak baik untuk kesehatan penderita diabetes.
Terserah, itu pilihan..
Boleh sedih, boleh juga cuek sok nggak peduli.
Itu pilihanmu,
itu juga pilihanku.
Toh aku masih punya pilihan, menangis bukan satu-satunya cara untuk bersedih.

*cukup, dari saya yang (masih) mengharapkan perubahan yang baik dari Anda

Listen

Kebiasaan burukku memang menutup telpon di tengah perbincangan kita..
Kamu bilang akan mendengarkan..
Aku hanya butuh 1 menit untuk bercerita,kemudian aku akan berganti mendengarkan sepanjang apapun kamu bercerita, karena aku rindu..
Aihh,lagi lagi nada suaramu meninggi kemudian aku diam saja. Tahukah kamu? Diseberang telepon aku menahan tangis, menahan suaraku yang bergetar..anggap saja aku tak merespon, diam saja..
Biar, kamu kira aku acuh.. Mungkin akan lebih baik ketimbang kamu tau aku menangis karena kata katamu.
Sorry, karena aku menutup teleponmu ditengah kamu berbicara dg nada yg meninggi.
Sorry