Tampilkan postingan dengan label Sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sahabat. Tampilkan semua postingan

Aku & Partner


Semenjak kau datang pada malam gerimis itu dan membawa amplop bertuliskan namamu, aku berubah menjadi sosok yang ‘sok’ paling nelangsa. Kubiarkan perasaan paling nelangsaku hanya semalam. Keesokannya, aku mulai bangkit dan bukannya tidak mau peduli lagi padamu, aku masih akan tetap peduli padamu sebagai kawan baikku. Kuterima niat baikmu mengundangku ke moment terindahmu bersama Siti. Dulu, sempat kau tanyakan padaku, apa yang akan aku lakukan, tanpamu. Hari ini, detik ini aku sudah punya jawaban untuk itu. Aku akan melanjutkan hidupku, meski tanpamu. Ya, aku bersedia datang dengan membawa doa terbaik agar kebahagiaan selalu melingkupimu. Aku bawa seseorang yang tentu juga kau kenal dengan baik, agar aku tak terlihat terlalu kesepian. Kusiapkan sebuah kado terbaik kemudian kububuhkan ucapan singkat agar kalian bahagia dan selalu dilingkupi kasih Tuhan.

Dulu pernah kutulis sebuah surat untukmu yang kemudian kau kembalikan karena kau malas membacanya dan memintaku untuk berbicara langsung. Seandainya kamu mengenalku sebaik aku mengenalmu dulu, bahwa aku tak pandai berbicara sepertimu. Kutulis sebuah surat panjang melalui dinding buku mayaku agar kau tak tertarik membacanya. Aku tahu betul bahwa kau bukan pembaca yang baik. Kau pernah bilang bahwa alasanmu ‘menyukai’ status pendek pada sosial mediaku daripada catatan-catatan panjang yang kutulis di sana adalah karena kau tak pernah membaca catatan tersebut. Ya, kamu tidak menyukai membaca catatanku yang panjang. Kali ini aku sengaja membuat catatan panjang ini, agar kamu tidak tertarik membukanya apalagi membacanya.

Selalu kusimpan rasa sesal setiap kali aku memikirkanmu. Aku tidak begitu paham dengan semua sikap sederhanamu namun selalu membuatku takjub. Niat baikmu mengundangku hampir membuatku lupa bahwa perasaanku ini tidak boleh berjalan terlampau jauh. Dulu seringkali aku tertarik terlalu dalam hingga aku tak sadar, segala hal menarik dan menakjubkan darimu telah membuatku tak sengaja jatuh cinta pada kawan baikku.

Terakhir. Sungguh aku tak akan tinggal terlalu lama pada rindu yang tak benar ini. Selepas ini, aku berjanji akan jatuh cinta dengan cara yang benar. Rahasia ya.



...Ketika ku mendengar bahwa kini kau tak lagi dengannya, dalam benakku timbul tanya Masihkah ada dia di hatimu bertahta atau ini saat bagiku untuk singgah di hatimu. Namun, siapkah kau tuk jatuh cinta lagi?... Meski bibir ini tak berkata bukan berarti kutak merasa ada yang berbeda di antara kita. Dan tak mungkin ku melewatkanmu hanya karena diriku tak mampu untuk bicara bahwa aku inginkan kau ada di hidupku. [HiVi - Siapkah Kau Tuk Jatuh Cinta Lagi ]




Note: Cerita ini hanya fiksi. Label nama wedding invitation ditulis sesuai request saya, alasannya sama, agar saya tidak terlihat terlalu kesepian. Haha. Tragis.

Iman & Siti

Man...

Malam ini hujan gerimis, sama seperti malam itu. Hari di mana kamu datang ke rumah mengetuk pintu dan membawa sebuah amplop bertuliskan namamu dengan seseorang bernama Siti.

“Maaf, aku tidak pernah cerita.” Katamu saat itu.

Meski bisa kulihat air mata di ujung matamu sebenarnya sudah tak bisa lagi kamu bendung. Belum sempat aku merespon, kamu pergi menjauh. Aku diam. Berdiri mematung melihat bayanganmu yang semakin jauh ditelan gelap di ujung gang. Aku tertawa getir, kemudian menangis setelah kamu pergi, Man.

Apa kau pernah mencoba berlagak tegar, meski hatimu sedang pedih? Aku sedang mencoba melakukannya selepas kamu pergi.

Apa kamu pernah berkata padaku bahwa kau menyukaiku? Tidak. Juga tak sekalipun aku pernah mendengar nama Siti selama kau berada di sampingku, ya sebagai kawan baikmu. Aku tak pernah pandai menerjemahkan sikap baikmu, perhatianmu padaku. Kuanggap bahwa kau kawan yang amat baik padaku. Perempuan bukan ahli penerjemah kode. Setidaknya, jika suka, katakan suka. Maka aku akan mengerti.

Beberapa kali kau kugoda, bahwa kau adalah lelaki sempurna yang perempuan idam-idamkan. Lalu kau bilang bahwa kau tak sebaik yang aku kira. Aku terlalu ‘tinggi’ bagimu. Aku hanya perempuan biasa saja yang tetap ingin kadang bersedih dan juga ingin sesekali bahagia. Aku juga perempuan biasa saja yang menginginkan seorang pelipur lara dengan cara yang benar. Ah, kamu itu lelaki baik. Aku mengenalmu bukan hanya sehari atau dua hari saja, Man. Belasan tahun kita tumbuh bersama. Aku tahu sebaik apa dirimu. Atau untuk menolakku, kamu akan bilang bahwa kamu tidak pantas untukku?

Iman, penilaian manusia itu seperti permen kapas, yang mudah larut jika terkena air. Percayalah, bahwa kamu orang baik yang juga pantas mendapatkan yang baik. Ya, jika aku tidak terlalu baik untukmu, setidaknya Siti adalah pilihan yang terbaik.

Sebelum kedatanganmu malam itu, beberapa pesanku tak pernah kau balas. Aku seharusnya cukup pandai menerjemahkan sinyal tersebut, yaitu bahwa ‘kau telah berubah, dan tidak tertarik lagi padaku. Atau kau memang telah bosan mendekatiku.’ Sedikit khawatir bercampur rasa rindu. Aku hanya ingin tahu bagaimana kabarmu. Aku akan lega jika pesanku setidaknya kau baca. Ya, aku memang sering bilang padamu bahwa hobimu yang lambat membalas pesanku kadang membuatku kesal. Hingga akhirnya mungkin kamu benar-benar jenuh hingga tak membalas pesanku. Saat itu aku hanya ingin kau membaca pesanku, bahwa aku rindu. Seharusnya, saat itu aku lontarkan candaanku padamu agar kau berkenan membalasnya. “Firman Tuhan yang pertama, adalah Iqra’ ‘bacalah!’” ya setidaknya bacalah, agar tanda di telepon pintarku berubah menjadi dua centang berwarna biru.

Belasan tahun kita bermain bersama membuat orang di sekitar kita mengira kita akan saling berjodoh. Namun, sekali lagi namun... manusia hanya bisa menduga, sedang Tuhan tau segalanya. Untuk apa menjelaskan rasa kepada manusia, jika Tuhan sudah menampung segalanya.

Looking Up Together

[Looking Up Together]


Rise up, you dreamer,
stand strong forever, when life tosses you around and keeps you down
Imagine, you dreamer,
how much I love you
I will help you in times of need, when the darkness makes you cry
As you trust me and as you love me,
Every dream will be come true!

We look up as one together
We all fly up high together
to see beyond
move forward to one future
Dream whatever you want to dream
Go wherever you want to go
'cause you and I trust and love forever more

Call me for your help, I'll stand beside you
I still just believe in you, I see sunrise in your eyes
As you trust me and as you love me,
You know that we can make it true
I am thankful that I found you
You're the one who can hold my hand and go forth

I know that you won't give up.
I'm giving you all of my heart.
I'm giving you my love.


adalah seorang laki-laki seperempat abad yang sedang menjemput segala mimpinya. Kekasih hidupnya, rejekinya, masa depannya. Hidup seorang diri di perantauan setelah separuh hidupnya ia habiskan di kota kelahirannya. Ia bertemu dengan seorang laki-laki lain yang menjadi tempatnya membuang segala keluh kesah, sekaligus kebahagiaan saat ia menempuh pendidikan pasca sekolah menengah. Ia yang dia sebut sebagai seorang sahabat. Siapa sangka persahabatan sepasang lelaki justru eratnya melebihi persahabatan sepasang perempuan. Dia mungkin tidak menyadari bahwa apa yang mereka berdua lakukan, biasa orang lain sebut dengan persahabatan, karena mereka berdua tidak pernah mengikrarkan hal tersebut. Yang mereka tahu, mereka hanya perlu saling berkunjung, saling mendengarkan, saling tertawa menertawakan, saling menangis tanpa perempuan ketahui, saling membuka diri, saling bercerita, saling berdebat, saling marah, saling membentak, saling memaafkan. Itu yang mereka lakukan setiap kali marah, selalu berujung saling memaafkan kemudian pergi ke kampus bersama dengan mengayuh sepeda.

Hingga suatu ketika, tanpa disadari tahun keempat mereka di kampus sudah di depan mata. Mereka berdua diwisuda. Mereka berdua berpisah, salah satunya mengenyam pendidikan lanjutan di di kota lain, sedangkan seorang lagi bekerja di ibukota dan memutuskan untuk menikahi perempuan yang ia cintai. Mereka berdua saling berjanji bahwa apapun yang terjadi pada diri mereka masing-masing, meskipun terpisah ruang dan waktu, mereka akan saling mengabari. Prinsipnya adalah kabar tentang apapun, keduanya harus mengetahuinya langsung dari sahabatnya. Bukan dari orang lain. Benar saja, kabar tentang sahabatnya yang menikah, mendapatkan pekerjaan, pindah rumah, rencana memiliki anak kembar, ia ketahui langsung dari sahabatnya bukan dari orang lain. Dan siapa sangka, doa dari siapapun itu, kini sang sahabat itu dalam rahim istrinya sedang dititipkan sepasang anak kembar. Ia tidak pernah berkoar bahwa selama ini ia memanjatkan doa agar sang sahabat selalu mendapatkan segala yang ia inginkan. Kini ia menyadari bahwa prioritas kepentingan dirinya di mata sahabatnya tidak akan sama seperti ketika mereka berdua hidup hanya seorang diri. Kini, sahabatnya memiliki list pertama pada prioritas kepentingannya, yaitu istri dan calon anaknya. Ia menyadari hal itu. Lalu kemanakah is harus berlari ketika seisi dunia ini justru akan memberatkan langkah kakinya? Ia menyadari bahwa sahabatnya kini, sudah menemukan sahabat sejatinya untuk kehidupannya, yaitu istri dan anaknya. Kini, ia hanya perlu untuk berupaya bertemu dengan sahabat sejati yang belum sempat ia temui. Mimpinya bukan lagi bisa tumbuh menjadi sarjana yang baik, atau tumbuh menjadi pengusaha yang sukses, atau pejabat pemerintahan yang mulia. Mimpinya sederhana, hanya ingin tumbuh menjadi seorang ayah yang baik, dan terus tumbuh menjadi anak yang baik bagi bapak ibunya yang semakin renta.

Meskipun terlihat tertawa dan jenaka, sesungguhnya di dalam hatinya ada perasaan yang masih ia sembunyikan; "setelah berbagai upaya kutempuh untuk memenuhi semua mimpiku, aku hanya takut justru aku tidak akan mendapatkan apapun. Kemanakah aku harus berlari dan menyampaikan perasaanku, kalau bukan padaMu?"

Surat Cinta

Cinta tak harus terucap lewat bibir, namun kadang tertancap di dalam hati, menjadi kata-kata yang tertulis dalam sebuah surat yang sering tak pernah tersampaikan, apalagi terbaca.

Penyesalan selalu jadi ujung sebuah cerita, ketika cinta yang tulus dan sungguh baru terbaca di kemudian hari,... ya setelah semuanya tiada.

...Tenang, melalui surat meski (bisa jadi) akan terlambat, namun yang pasti - akan terkirim...

Hei, sudahkah kalian menulis surat kemudian mengirimkannya, atau boleh lah kalian menyimpannya hanya sebagai tanda bahwa cinta atau cerita cinta itu pernah ada untuk seseorang?

Ayoooooook nulis surat :)


-I Love you so much, mumumumumuuuuua-
dari saya yang pernah mengirim surat cinta :D

[sebuah bingkisan ulang tahun yang ke23, novel Surat Cinta]

tag: mamah, bapak, mas angga, dek eno, dek Lia, mbak eka, evi, debi, dinka, tikak, septi, mbak ami, mbak resti

Ditolak? Ya Datengin Lagi

Sebuah catatan seorang kawan...
--------------------------------------------------------------------------

Saya selalu saja tertarik dan suka dengan lagu-lagu "jantan" nan membawa aura heroik perjuangan kaum bujang. Dua diantaranya adalah "Sampai Akhir Waktu"nya Yovie&Nuno dan "Marry Your Daughter"nya Brian McKnight.

Buat yg masih asing, begini penggalan liriknya:
"Ku akan datang lagi Meski ibumu melarang | Ku tunjukkan kesungguhan| Untuk miliki dirimuYang ku ingin bukan sekedar Hanya untuk pacaran | Yang ku mau memberikan seluruh cinta Sampai akhir waktu nantiWalau rintangan yang selalu datang | Aku takkan pernah mundur | Walau tantangan tak pernah berhenti Cinta takkan pernah mati" Yovie & Nuno 

"Laki", kan, lagunya? Seorang teman pernah bersungut-sungut datang kepada saya dan saya dapati dia baru saja ditolak prosesnya oleh seorang wanita. Bukan karena si wanita tidak cocok, tetapi, alasannya satu: Orang tua wanita maunya dapat mantu PNS. Pokoknya PNS, kalau bukan PNS, tidak! Begitu si wanita menyampaikan ini kepada si lelaki, dia lantas lemas dan melangkah gontai, mundur perlahan.

Hai Maaaannn! Tunggu dulu!Yang seringkali Anda lupa adalah bahwa Anda terburu-buru untuk mengibarkan bendera putih atas perjuangan Anda mendapatkan gadis pujaan di depan orang tuanya. Padahal baru sekali, dua kali, tiga kali Anda ditolak.
Kalau Anda ditolak karena memang si gadis pujaan tidak mau menikah dengan Anda, memang benar bahwa Anda harus kembali 'berkaca' dan menimbang lg untuk berjuang. Tapi, jika tiada masalah dengan si gadis, tunggu apa lagi untuk kembali mencoba lagi?

Salah satu hal yang membuat Anda menjadi pemenang dalam menakhlukkan hati orang tua gadis 'pujaan' Anda adalah kesungguhan Anda. Hai Mas, bukankah Anda adalah seorang aktivis yang jago berargumen di depan forum-forum diskusi? Apa salahnya jika Anda pergunakan skill Anda ini untuk kekeuh di depan calon mertua?

Sekali lagi. Orang tua mana sih yang tidak mau jika anaknya dilamar seorang yang 'mapan' secara finansial? Kesannya memang materialistik, tetapi yang namanya orang tua memang berfikirnya sudah pada wilayah realitas. Sementara kita, kaum muda, masih bergerak pada wilayah idealitas, dimana yang namanya hidup berumah tangga kan ya tidak mengapa dimulai dari titik "prihatin" bersama-sama. Namun, jika Anda tanyakan ke ayah ibu Anda, "Pak/Bu, bagaimana Bapak dan Ibu memulai pernikahan dulu?"

Jawaban mereka kurang lebih pasti sama. "Walah Le... dulu Bapak Ibu itu kontraktor, ngontrak sana, pindah sini, begitu seterusnya. Buat makan aja susah. Kendaraan belum punya, bla bla...."

Nah, kan? Yang perlu kita fahami adalah bahwa setiap orang tua tentu bersemboyan "biar saya saja yang rekasa (susah), anak saya jangan!"

Tetapi, jika kita sedikit bersabar untuk meluluhkan hati orang tua, dengan membawa mereka bernostalgia dengan masa-masa awal pernikahan, tentulah mereka akan meluluh bahwa memang demikian 'tabiat' membangun rumah tangga. Tidak ada yang mulai dari titik mapan sebenarnya, kecuali anaknya AR* yg hartanya tak habis tujuh turunan

Yang perlu Anda lakukan sebagai laki-laki adalah meyakinkan kalau Anda akan amanah dan akan membahagiakan putri beliau.

"Very soon I'm hoping that I...
Can marry your daughter
And make her my wife
I want her to be the only girl that I love for the rest of my life
And give her the best of me 'till the day that I die
I'm gonna marry your princess
And make her my queen
She'll be the most beautiful bride that I've ever seen"
[Brian McKnight]

Jadi, bukan janji untuk memberikan harta melimpah. Memberikan kebahagiaan, kan? Jelas. Dan kebahagiaan tidak hanya sebatas 'kecukupan' materi. Bahwa cukupnya materi akan membuat hidup damai, iya. Tetapi, kalaupun dalam kesempitan rizki nanti, jika bersabar dan dijalani berdua oleh dua orang yg saling mencintai, tidakkah itu ringan-ringan saja?

Sebagaimana misalnya orang tua kita yg datang ke rumah kita dan mendapati kita tidurnya lantai beralas tikar seadanya. Mereka pasti akan berkata "Mbok ya di kasur...", tapi kita ya nyaman-nyaman saja kan, asal berdua?

Dan yang seringkali terjadi adalah Anda, laki-laki,keburu mundur duluan, padahal si gadis mau untuk memperjuangkan Anda di depan orang tuanya. Nyesek kan? Sebagaimana teman saya curhatkan, "Aku ya mau buat memperjuangkan dia di depan orang tuaku, tapi kalau dia nggak sama-sama berjuang, ya yg aku lakukan percuma kan?"

Nah, tugas mengkondisikan orang tua yg punya prinsip keukeh inilah tugas Anda, mbak-mbak... Yang paling tau bagaimana meluluhkan hati orang tua Anda ya Anda. Kalimat-kalimat positif akan banyak membantu. Juga pandangan-pandangan baru tentang 'kemapanan' dan 'profesi yang menjanjikan'. Boleh jadi, orang tua Anda keukeh mengizinkan Anda menikah hanya dengan PNS, karena yang menurut orang tua Anda mapan ya PNS, karena saudara-saudara dan orang-orang di sekeliling orang tua Anda adalah PNS. Sehingga yanng beliau lihat ya hanya itu. Umumnya ini jadi 'prinsip'nya orang tua suku Jawa. Berbeda lagi dengan orang-orang Sumatera/Sulawesi yang banyak diantaranya sukses dengan berdagang. Termasuk warga Cina keturunan. PNS tentu bukan menjadi ukuran utama. Anda pasti akan ditanya "punya usaha apa?"

Tampillah di depan orang tua sebagai sosok lelaki bertanggung jawab. Yang bertanggung jawab itu bagaimana? Tiada jalan menunjukkan kesungguhan selain dengan melamar. Pasanglah wajah gentleman yg berpotensi tidak akan menyiakan istri Anda nanti dengan berperilaku buruk padanya.

Yang Anda butuhkan adalah sama-sama berjuang di depan orang tua. Sambil terus menunjukkan bahwa Anda (Mas, Mas) memang berusaha betul-betul memapankan diri. Disamping itu, do'a Anda pada Allah juga tak boleh putus. Karena Dialah pelunak dan pembolak-balik hati manusia.

Ikuti dengan proses ikhtiar yang benar. Jangan melakoni jalan yg tidak disukaiNya. Jika keberkahan pernikahan yg Anda berdua cari, Anda juga harus mengupayakan keberkahan dalam proses menuju pernikahan..

Keep Calm and, Fighting!


--Iva Wulandari via facebook, 2013--

Selamat :*

19 Januari - 17 Februari - 25 februari - 27 Februari - 4 Maret - 12 April - 27 April - 30 April - 8 Mei - 9 Juni - 6 Juli - 28 Juli - 13 Agustus -16 September - 4 Oktober - 31 Oktober - 4 November - 8 November - 2 Desember

Hidup terlalu sempurna untuk sekadar dirayakan...


Ratusan ucapan selamat dan doa berdesakan dalam inbox sms, twitter, dan pesan dinding di facebook. Dari orang-orang yang benar-benar aku kenal sampai orang orang yang benar-benar tidak aku kenal. Aku membacanya satu persatu, meski tak bisa terjawab semuanya. Dalam hati ku sampaikan, "terimakasih banyak, mumumumah...cinta kalian semua". Aku benar-benar terharu. Doa yang datang dari orang-orang yang tak benar-benar kukenal dan tak pernah kutemui--terasa nyata sebagai doa yang tulus dan tak meminta balasan apapun. Kebanyakan mereka adalah fans-fans (saya) :p

Aku tak mengerti mengapa mereka tergerak untuk memberi selamat dan mendoakanku. Ah ya sudahlah, hidup memang bukan melulu soal mengerti atau tidak mengerti. Aku hanya percaya, konon 40 orang yang berdoa saja sudah cukup menggetarkan langit dan membuat Tuhan tak kuasa untuk tak mengabulkannya. Kini, aku membaca hampir ratusan doa untukku? Apakah Tuhan punya cukup alasan untuk tak mengabulkannya? Semoga tidak. hehehe'

Hidup terlalu sempurna untuk sekadar dimengerti...

Hidup terlalu sempurna untuk dihitung..

Kini aku yakin benar, hidup adalah karunia. Perkara hidup, kita tak pernah meminta, tetapi kita 'diberi'. Betapa banyak yang sudah aku dapatkan selama 17 tahun ini, yah tanpa aku meminta. Eh barangkali sesekali aku memang berdoa karena menginginkan sesuatu, tetapi Tuhan memberiku hidup yang isinya berwarna warni. Yah, hidup terlalu sempurna untuk dihitung jumlahnya, terlalu berwarna untuk diingat warnanya.

Kini usiaku 17 tahun. itu setara dengan 204 bulan, atau 816 minggu, atau 5712 hari atau 137088 jam, atau 8225280 menit, atau 493516800 detik. Semoga usiaku tak terperangkap dalam jarum arloji atau bilangan digital sistem kalkulator. Hitungan waktu hanyalah cermin dari proses; ada yang sudah kita capai, ada yang belum. Ada yang bertambah, ada yang berkurang, dan sesungguhnya hidup terlalu sempurna untuk dikalkulasikan.

Kini, aku di sini. Mengakrabi waktu yang terus berlalu, menghitung detik-detik berguguran. Seraya merapalkan doa-doa, aku meneguhkan janji itu sekali lagi, berkali-kali hingga aku tak pernah berpikir untuk bosan mengikrarkannya, "Yeaaah, aku akan selalu mencintaiMu!"

[selamat ulang tahun :* ]
ps. pesanku: kalau usiamu ternyata menjelang kadaluarsa, dan esok adalah batas waktunya, daftarilah apa saja yang sudah dan belum kamu lakukan dalam hidupmu! Bayarlah hutang budimu pada Tuhan!

Cerita Tentangmu

Aku berjanji padamu untuk menuliskan sebuah catatan tentangmu.

"Di mata arik , aku orang yang kayak mana?"

27 jam yang lalu..
Aku baru saja mengubah setting profile ponsel dari silent ke normal ketika mesin komunikasi mungil itu berdering. Dering sms tepatnya. Ah, sms kadang datang tanpa diduga. iya, itu dari kamu... Rasanya sudah lama kita tidak saling berkirim pesan, terakhir kali kita saling mengomentari status di sosial media. dan aku hampir lupa kapan terakhir kali kita bertemu. Saat kita terjebak di halaman parkir kampus karena bapak penjaga parkir sedang solat jumat itukah? setelah saat kita saling berbagi cerita, menanyakan kabar satu sama lain itu?

isi pesan singkat itu, benar benar singkat, "Arrrik" hanya itu

rasanya nggak enak, kalau sebenarnya kita ingin membalas suatu pesan, tetapi pulsa di dalam hape tidak mendukung. Dibalas satu kali takutnya nanti 'moler-moler' panjang, dan takutnya kalau di tengah jalan saat saling berkirim pesan, aku yang tiba-tiba tidak membalas pesan. Alasannya cuma satu, = nggak ada pulsa sayang... maaf :(

saat itu sebenarnya aku cuma pengen bilang... "tunggu" aku pasti akan merespon pesan singkatmu. Sms memang mendekatkan yang jauh, tapi kalau hape nggak ada pulsanya, rasanya sisksaan. So sorry :')

Lalu aku berjanji akan segera membalas pesanmu :)
soon

Kembali lagi, "Di mata arik , aku orang yang kayak mana?"
cuma kamu yang ketika aku mengendap-endap dari balik punggungmu dan menutup matamu menggunakan kedua tanganku... dan aku diam saja, menunggu kamu menebak siapa yang menutup matamu, dan kamu dapat menebak bahwa itu aku, ya cuma kamu... yah, meski kadang dengan beberapa kali menyebut nama yang salah...hhhee...

Eh kamu itu perempuan yang bahagia. Mungkin orang lain menyebutmu ceria. Tapi bagiku kamu itu perempuan yang bahagia dan membahagiakan. Ah senangnya aku dipertemukan denganmu. Eh, aku nangis nulis ginian. Bagiku, bahagia itu adalah jika apa yang kita pikirkan, apa yang kita katakan, dan apa yang kita lakukan berada dalam keharmonisan. efek bahagia ya ceria, senyum, ramah sama semua orang. Ah iya, itu kamu deh.. kamu itu keren...

Keren karena kamu perempuan tegar. Kamu nangis kan? udah, gapapa gapapa.. *pukpuk.. Tegar itu bukan berarti nggak nangis loh... kalau sekarang aku bisa meluk kamu, aku pasti udah meluk kamu.. Allah sayang banget sama kamu yas, tenan... cerius ini.. Aku pengen deh, nanti kalo aku mbaca salah satu tulisanmu, ada cerita tentang aku nya, meskipun diselip-selipin dikit aku relaaa :) *maksa...

Kamu itu perhatian sama orang-orang disekitarmu. Buktinya, kamu bikin semacam gerakan sosial buat anak-anak yang kurang mampu biar bisa dapet pendidikan... ya kan? Ibaratnya, kadang kita memang nggak suka pelajaran tertentu, tetapi memperhatikan bukan soal suka atau nggak suka. Memperhatikan - perhatian adalah soal menghargai. Orang yang kamu tolong bukan berarti orang yang bener-bener membutuhkan pertolongan, tetapi kamu nolong ya karena kamu baik, itu saja.

Oh iya, aku hampir lupa... nyadar nggak kalo suatu ketika kita lagi ngobrol banyaaaaak banget, entah cuma kita berdua atau ada orang lain diantara kita, terus tiba-tiba aku diem. Diem aja,nganeh-anehi dhewe. Kenapa coba? hayooo... itu karena aku cemburu. Cemburu karena kamu begitu dekat denganNya. Cemburu, karena pengetahuanku segala tentangNya nggak sebanyak dengan pengetahuanmu tentangNya. dan kamu begitu intensif melakukan pendekatan denganNya. Oleh sebab itu, aku yakin bener kalo Allah bener-bener sayang sama kamu. ciyuusss iki. Kamu salah satu, perempuan yang bisa jadi teladan... Tulisanmu, semangatmu, ceriamu, kedekatanmu denganNya, itu bikin aku terpacu.. you know me so well lah :'D

Disetiap selesai solatku, selalu kuselipkan namamu, supaya Allah segera mengirim seseorang yang bisa setiap waktu mengantarmu kemanapun kamu pergi, kemanapun tujuanmu. Supaya kamu nggak sendiri, supaya kemana-mana kamu naik motor ada yang mboncengin, nggak sendirian, dan nggak jatuh... Idih, kamu nggak sakit apa... kalo aku mah udah nangis.. Tapi kamu beda, meski kata banyak orang itu susah, tapi yang penting buatmu adalah pantang menyerah.

Rasanya nggak butuh waktu lama buat kita saling mengenal satu sama lain. 4 tahun yang lalu, mungkin kita tidak saling mengenal. Tapi sekarang, aku yakin kalo aku ditanya, "Kenal Laras?", akan kujawab, "ah iya, diaaa.." dan aku akan bercerita panjang lebar..

pengen nyanyi ini,

Satu alasan kenapa kau kurekam dalam memori
satu cerita teringat di dalam hati
karena kau berharga dalam hidupku, Teman

[play] - Bondan Prakoso and Fade To Black


Hei perempuan kuat, aku pengen meluk kamu deh :-*
*pipipipipipip


semoga cukup menjawab kegalisahanmu yas...
Lalu di mata kamu, aku orang yang kayak mana?
@Larasati Rahardjo

Sepenggal Adegan (2)

..."Delisa cinta umi karena Allah.." sepenggal kalimat yang dilontarkan Delisa kepada Uminya, beberapa hari sebelum Uminya meninggal.

di balik bangku dengan penomoran bioskop, kalau tidak salah pada baris E, 6 orang mahasiswi sesenggukan di sela-sela adegan itu. Herannya, hanya mereka berenam yang 'lebay' sedangkan penonton lainnya terlihat biasa saja. Ekspresi paling lebay berada di bangku ketiga dari kanan. Setelah film itu selesai, ia yang paling lebay di antara yang lainnya. Jilbabnya basah kuyup oleh airmata akibat film yang mereka tonton. Entah basah karena air mata atau karena air yang keluar dari hidungnya... hiiii.. Ia sendiri hampir tidak mempedulikannya.

Ini film kedua setelah Sang Pemimpi yang ia tonton bersama teman-temannya, di bioskop man..Pengalamannya 2 kali menonton di bioskop, menjadi dapat menarik kesimpulan dan pelajaran yang didapat= "besok-besok kalo nonton film yang sedih jangan di bioskop, di kamar aja, hhaaa"

Pengalaman 2 kali masuk teater bioskop untuk menonton film terbaru, membuatnya ketahuan kalau dia orang paling ndeso dibandingkan teman-temannya [yo ben]... :D

bawa kacang rebus, jagung bakar ke dalam teater, kayaknya asik tuh.. hhhaa..

setelah menjadi mahasiswi tingkat akhir seperti ini, kadang ada rasa rindu yang tiba-tiba menyeruak di dasar hati ini, "kapan kita 'bersenang-senang' lagi?"

"ada negeri 5 menara lho.. oiya, setelah negeri 5 menara mungkin tahun ini ada 5 cm nya bang Donny.. nonton yo?"

njuk tiba-tiba ngeh, kenapa angka lima menjadi nomor favorit penulis ya? dan kenapa penulis novel best seller itu kebanyakan adalah laki-laki?

-karena 5 itu rukun islam- [religiusitas]
-karena 5 itu pancasila- [nasionalis]
-karena 5 itu agama yang diakui di Indonesia- [pluralitas]
-karena 5 itu cuma butuh angka 5 itu sendiri untuk membaginya supaya menjadi satu-[bilangan prima kelas 4-matematika]

5 itu kita, istimewa :)

hhheee..

..dan hujanpun (belum) berhenti..

Sepenggal adegan ini terjadi pada awal bulan Februari tahun ini (2012) yang sebenarnya menyedihkan namun berubah menjadi mengharukan... Bulan penuh tetesan bening dari sebuah atap Mahabesar bernama langit.

dalam perjalanan pulang..
turun hujan,dan kami menepikan motor dan berhenti untuk memakai pelindung atau jas hujan,singkatnya kusebut dia mantel.
Dia pakai mantel itu, kemudian kuikuti dia naik ke atas motor dan siap melanjutkan perjalanan.
Tiba-tiba nyeletuk,
"tenang aja, besok kalo aku punya mobil kita nggak akan kayak gini lagi ya?" sambil senyam senyum meski penumpang di balik belakang punggungnya tidak melihat senyumnya.
"iya.."
"tapi, nanti di dalam mobilnya harus disediain plastik sama permen asem ya" aku melanjutkan.

Bersamaan dengan kilatan petir, bersamaan dengan itu pula mimpimu kamu lambungkan...
Seakan kilatan petir itu sebagai saksi kamu bersumpah,"aku akan mewujudkan mimpi ini"

---------diam---------merenung---------

dalam sebuah pesakitan, harusnya makin sakit ketika dihujani oleh butiran air hujan yang turun begitu tajam mengenai kulit. Harusnya sakit. Sore tampak semakin gelap karena mendung kelabu. Dalam perjalanan mencari sebuah pembelaan untuk seorang sahabat, aku bersyukur (tampaknya) dia baik-baik saja. Semoga se'baik'-keadaan- tampaknya.
"kenapa kamu suka hujan?"
dia melihatku membuka penutup helmku dan melebarkan telapak tangan kiriku supaya dibasahi oleh air hujan, atis.getir.
"karena ketika hujan mengenai kulit, tubuh dan wajahmu, kamu tidak akan dapat membedakan mana itu air hujan atau air mata..kamu akan semakin hangat dengan luapan kesedihanmu di tengah kedinginan tiupan angin dan petir, dan setelah hujan reda, reda pula kesedihanmu."

--------- diam [lagi] ---------

I'm not Childish, I'm Just Childlike

Dulu, kita pernah duduk bersama, mengayuh perahu kita dan kamu bilang "Kita akan segera melewati perairan ini dan akan segera sampai di daratan." Aku dan kamu berada di satu perahu yang sama. Entah apa yang membuat hingga (akhirnya) aku sampai di daratan terlebih dahulu dan kamu masih berada di tengah perairan . Aku tak pernah menyebut 'akhirnya', karena aku yakin ini belum berakhir. Aku yang terlalu egois dan terobsesi akan daratan ataukah kamu yang tak terlalu antusias dengan daratan. Ahhh aku hampir lupa, masalah sebenarnya bukan ada pada kita, tetapi perahu yang kita tumpangi. Ahhh aku juga hampir saja memvonis bahwa 'perahu'lah yang patut dipersalahkan, pengaruhnya dengan tujuan kita ia hanya seper sekian persen dibandingan dengan sikap yang kita ambil.

Aku ingat ketika kamu terbuai akan keramaian tengah laut, kamu bilang "Mari kita istirahat dan bermain sejenak. Kita tidak perlu sampai di daratan terlalu cepat, yang penting sampai pada waktu yang tepat" Ku biarkan kita untuk istirahat sekadar melepas lelah dan mengembalikan semangat tekad juang kita, namun kamu nampaknya terbuai dengan 'keramahan' laut yang ada. Kamu hampir lupa bahwa tepat saja tidak cukup untuk sampai di daratan, tetapi cepat untuk sampai di daratan juga kita butuhkan.Memang banyak hal yang akan datang bagi mereka yang menunggu waktu yang tepat, namun jika terlalu lama itu jua tidak akan baik. Biasanya itu hanyalah hal-hal yang disisakan oleh mereka yang bekerja keras untuk cepat sampai di daratan. Kamu mau tidak mendapat apa-apa ketika sudah sampai di daratan? Kamu hanya mencari pembelaan kan?

Aku pernah bilang untuk mengingatkan tujuan kita sebenarnya, "Kamu boleh bermain dan merasa tengah laut ini sangat menyenangkan untuk persinggahan, tapi tujuan kita sebenarnya adalah daratan. Jangkar kita hanya satu, aku tak mungkin memaksamu untuk mengangkatnya jika kamu masih ingin tetap bertahan di sini." Aku tak mungkin meninggalkanmu di tengah lautan tanpa perahu, tanpa jangkar, karena jika itu kulakukan kamu akan terombang-ambing di tengah lautan. But, i have to choose. Aku memintamu untuk memberikan sekocimu untukku, agar aku sampai pada tujuan kita sebenarnya yaitu daratan. Lalu kunaiki sekociku, dan kubiarkan kamu menaiki perahu besar kita. Aku berharap meski aku yang berlayar terlebih dahulu menggunakan perahu kecilku, kita akan bertemu di tengah jalan karena laju perahu besarmu akan lebih cepat ketimbang milikku. Aku menaruh harapan besar untuk hal ini, karena perahu besarmu berisikan awak-awak yang bisa mendukungmu kapanpun kamu membutuhkan, sedang aku hanya seorang diri menggunakan sekoci kecilku.

Kukayuh sekociku, meski berjalan lambat, berlayar sangat pelan, tapi aku tak pernah mengayuh mundur. Meski berpeluh keringat, dan hampir saja tekadku hilang di tengah laut, aku semakin dekat dengan daratan. Sudahkah kamu menjalankan perahu besarmu? sedang aku telah melihat tanda-tanda tepian daratan? Aku sampai di daratan. Lama aku menunggumu, dan kamu tak kunjung tiba. Aku mendengar kabar, bahwa kamu sudah mulai menjalankan perahu besarmu. Tatkala aku kembali untuk menaiki perahu kita bersama, untuk mendorong perahu besarmu. kamu tampak selalu mencari pembelaan dan meyalahkanku. Kamu tak pernah berjiwa besar atas apa yang orang lain peroleh. Aku tak pernah mengungkit keberhasilanku mencapai daratan, namun justru kamu menyinggungku dengan perkataanmu, "Untuk apa kamu masih disini dan kembali ke sini? Bukankah kamu sudah sampai di daratan? atau jangan-jangan kamu tidak dapat apa-apa ketika sampai di daratan?" lalu kamu tertawa meledek. Aku mecoba riang meski kadang sakit lalu aku menangis. Namun, lagi-lagi namun, kamu justru bilang, "Cengeng, kekanakan!" Tidak peduli siapa yang berkata demikian, aku ingin berteriak, "I'm not childish, I'm just childlike." Mencoba riang, mencoba memaafkan tanpa memandang, jatuh lalu bangkit kembali untuk berlari, mencoba untuk menerima siapa saja tanpa curiga, mencoba menggembirakan orang lain meski tanpa sambutan yang baik.

Selalu Ada yang Belum Usai

Selalu ada yang belum usai
apakah karena hari selalu berulang?
dan jarum jam bergerak
menuju angka-angka yang sama?

pertemuan
mengantar pada perpisahan
dan perpisahan
selalu menyisakan kenangan
atau tidak meninggalkan apa-apa
kecuali waktu yang terus berjalan

selalu ada yang belum usai
ketika persoalan seperti telah selesai
apakah karena akhir melahirkan awal?
dan awal dibutuhkan untuk mengakhirinya?

selalu ada yang belum usai
selalu...


--Jumat, 15 Juni 2012--
CC

Cerita di Balik Bilik CC

awalnya pengen tak beri judul cerita di balik nomer 0804-1-450-450, tapi berasa kayak prediksi nomer yang bakal keluar nanti malem, hhhee..

Call Center ini, situasional... hanya akan ada kalo ada SNMPTN, untuk itu pasti mudah membayangkan bahwa aku dapat bergabung menjadi bagian Call Center SNMPTN karena Agenda besar macam SNMPTN yang setiap tahun diadakan, perlu berbulan-bulan untuk mempersiapkan bilik informasi ini supaya layak launching, supaya dapat dipercaya sebagai bantuan para penelpon yang membutuhkan informasi, dan untuk tahun inilah kampusku yang dipercaya sebagai bagian kesekertariatan dan menangani Call Centernya. Aku bergabung di dalamnya.

6 bulan yang lalu, sungguh aku tidak berniat sedikitpun untuk mendaftar menjadi calon OP CC, namun karena ajakan salah seorang teman, aku menemaninya sebagai bentuk rasa setia kawanku padanya.
“Rik, ayo temenin daftar CC SNMPTN” pintanya padaku, sehabis jam kuliah.
“tapi, aku nggak bawa motor lo, aku jalan dari kos.”
“gapapa, yang penting ada temennya..”

sesampainya di rektorat, tempat pendaftaran CC SNMPTN, aku menunggu temanku di luar.
“Rik, ayo temenin masuk, daftar sekalian aja yok... aku nggak ada temennya” dia memanggilku.
“dasaarrr”
aku dan dia mengisi formulir, dan mengumpulkannya pada seorang petugas wanita yang ternyata dia yang menjadi Team Leader ku pada CC gelombang 1. Perlu diketahui kalau, CC bekerja selama 2 periode, yang pertama pada saat jalur undangan dan yang kedua jalur ujian tertulis SNMPTN. Nah, mbak yang melayaniku waktu itu, juga kutemui di CC gelombang 1.

Hingga sampai pada hari pertama aku bekerja sebagai CC. Panjang cerita sebenarnya, hingga aku diterima di dalamnya termasuk kenapa temanku yang kutemani mendaftar saat itu tidak berada disampingku hingga aku bekerja. Aku masih ingat betul, siapa yang kukenal pertama kali di CC. aku memanggilnya, momon. Gilak, sebagai perempuan dia keren sekali... hobi traveling nya bikin ngiri... untuk ukuran perempuan-perempuan yang hobi mendaki gunung, dan nyelem,dia tetap perempuan bersahaja dan keren. Selain momon, banyak teman yang hari demi hari, aku semakin mengenal mereka. Tidak ada hitungan minggu, aku semakin hafal dengan wajah mereka dan nama-nama mereka. Seiring berakhirnya tugas sebagai CC untuk jalur undangan (gelombang I) beberapa diantara kami, ada yang tidak melanjutkan bertugas untuk jalur ujian tertulis (gelombang II), dikarenakan beberapa hal. Untuk itulah, saat itu dibuka pendaftaran gelombang II untuk menggenapi teman-teman yang sudah tidak bergabung bersama kami saat itu. Selalu ada cerita baru jika kamu bertemu dengan orang yang baru [ula, begitu juga denganku.

aku semakin banyak menemui orang dengan berbagai karakternya, baik sesama OP, tim IT, Team Leader, bapak-bapak dan ibu-ibu pegawai pusat komunikasi, dan juga penelpon tentunya.

Aku pasti akan merindukan terjaga dari pukul 8 malam hingga 8 pagi, merindukan cerita dari para TL, merindukan kalimat-kalimat ledekan di Grup discussion, merindukan bertanya banyak hal pada TL dan sesama OP dan IT, merindukan saling meledek antar OP dan IT, merindukan meresetkan passoword, merindukan mencatat nomer tiket, merindukan mengejakan nomer tiket, merindukan ibu-ibu dengan logat sundanya lalu aku dipanggil “teteh” –namanya bu Iis kemudian beliau sempat menelpon kembali hanya untuk mengucapkan “terimakasih”, merindukan di-hold oleh teller bank M, merindukan telepon bapak-bapak dari Boyolali yang tidak bisa berbahasa indonesia tapi untungnya mengerti bahasa indonesia, Bapak-bapak yang sama sekali tidak mengerti istilah ‘panlok’ itu apa, kemudian setelah dibantu ia mengucapkan ‘maturnuwun nggih mbak” dan secara tidak sengaja aku membalasnya dengan “sami-sami pak” ups keceplosan bener, berasa lagi kuliah, merindukan mendengar nyanyian salah seorang teman yang jika tidak di line telepon dia akan streamingan telenovela jika tidak dia akan keasyikan menyanyi sendiri, merindukan teman-teman yang kadang keasyikan cekikian sendiri entah karena membaca atau melihat kelucuan apa, merindukan menangis dan tertawa di balik bilik CC.

----------------------------------------------------------------

rasa rindu ini kadang muncul tidak terduga.

baru beberapa hari, status bekerja di Call Center berakhir, namun aku sudah merindukannya... bukan statusnya, namun aku merindukan suasana dan tetek mbengeknya termasuk orang-orang dengan berbagai cerita dan karakternya.

“sekecil apapun kebersamaan itu, pasti akan menimbulkan kerinduan ketika sudah berpisah.”

ahhh, iya rindu itu selalu datang ketika sudah berpisah.

Keakraban itu rasanya tidak tumbuh karena kesamaan usia maupun lamanya perkenalan, kali ini kita mampu membuktikannya. See :)

belum ada hitungan tahun sejak kita berkenalan, kita mampu menghancurkan dinding pembatas antara senior dengan junior... rasanya kagak ada deh istilah macam itu, kita seperti anak muda..

pasti akan ada cerita, ketika kita sudah tua nanti... bahwa kita pernah berada diantara orang-orang heboh, ceria, sendu, mellow, galau, saling menggoda, saling menjodohkan, penuh canda tawa, penuh ledekan, penuh hikmah.

aku bersedia,untuk menatap langsung mata kalian dan meyakinkan ini mudah meski sebenarnya bagiku tidak selalu begitu, untuk berusaha membuat kalian tersenyum sekalipun kalian berusaha sekali membuatku bosan; untuk berkunjung dari satu beranda ke beranda lain jika dengan itu kalian mempercayaiku menjadi teman.dalam apapun; untuk memberikan obat pada kalian sekalipun aku yg mungkin seharusnya membutuhkannya; untuk duduk sejajar dengan bangku kalian, dan dapat menolong kalian sekecil apapun; untuk memperkecil jarak usia jika dengan itu aku tau bagaimana menumbuhkan semangatmu...Aku belajar hafal bagaimana kalian...

aku hampir lupa, bahwa aku pernah berujar “semoga kelak aku bisa naik pesawat dan pergi ke luar negeri”... dan inilah mimpiku... dan kita punya jalannya masing-masing..
sebentar lagi puasa, dan setelah itu sebentar lagi lebaran, sebelumnya 17 agustusan, hhee.. selamat menjalani semuanya :D
The Journey Has Begin. Seribu mil dimulai dengan Satu Langkah. dan inilah langkah kita. Step yang pernah kita lalui bersama, selamat berjuang menyelesaikan tugas akhir :), selamat menempuh hidup baru , selamat berkarya kembali, selamat terbang ke luar negeri, dan aku akan terbang ke negara dengan kincir anginnya yang besar [wussshhhhhh].. semoga Tuhan senantiasa memeluk mimpi-mimpi kita dan menjaga kita.

ijinkan aku menuliskan ucapan rasa terimakasih pada lembar kata pengatar dalam Tugas Akhirku, diantara baris di dalamnya, hanya itu yang dapat ku lakukan...yah, mungkin hanya itu bukti tertulis yang bisa kupersembahkan untuk kawan-kawan seperti kalian... dengan itu, semoga teman-teman tau betapa berharganya dirimu dalam hidupku (ciyeeee....)


backsong: [play] demi lovoto-gift of a friend
[project pop-ingatlah hari ini]
kau selalu di hati, kamu sangat berarti, istimewa di hati, slamanya rasa ini...
... jika tua nanti kita tlah hidup masing-masing, ingatlah hari ini...
...don't worried, just be happy, temanmu di sini...



salam “Kepercayaan dalam Kebersamaan” :) #slogan CC
semoga kita masih dipertemukan kembali di lain kesempatan..

[ari]
yang akan selalu merindukan CC veteran dan CC super
* thanks for being a part of my life

25 Mei, pagi itu :)

"kalo pesimis dan optimis itu datang bersamaan, apa yang kamu lakukan?"
pertanyaan yang belum bisa saya jawab..

sama halnya mungkin ketika ada pertanyaan, "kalau kelahiran dan kematian itu datang bersamaan, apa yang kamu lakukan?"
mungkin, keduanya mustahil jika datang bersamaan, salah satu diantaranya pasti datang terlebih dahulu.. kelahirankah yang datang terlebih dahulu? atau justru kematian?
lalu apa yang terjadi saat jeda diantara keduanya? jeda antara kelahiran dn kematian? apa yang kamu lakukan, apa yang kamu dapatkan itu yang terpenting...
begitu juga kamu memperlakukan pesmis dan optimismu..


Satu bulan, setiap satu bulan rasa pesimis itu selalu tiba-tiba menghampiri saya, dia nggak pernah datang dengan permisi, bahkan menelepon sekedar berkata untuk berkunjung pun tidak. Dia tiba-tiba muncul, menjatuhkan hati saya yang kebetulan sedang melayang tinggi.
Pesimis memaksa saya untuk melihat-lihat secara tak sopan, sosok seperti apa yang dikagumi oleh dia - orang yang selama ini tak pernah ada cela di mata saya. Pastinya, I wish to be the only one he always sees.

But then I know, pesimis kembali membisikkan kata-kata jahatnya buat saya. "Kamu nggak punya apa-apa untuk dikagumi oleh dia, Rik! Kamu cuma pemimpi yang senang merangkai kata, semua orang juga bisa!"
Pesimis memang tak serupa dengan sosok monster-monster di buku dongeng, atau devilbertubuh merah dan bertanduk layaknya ilustrasi dalam cerita. Tapi dia jahat, dalam seketika, dia ingin meruntuhkan musuh besarnya yang sedang bernaung dalam hati saya - Optimis.
Pesimis tak menyerupai apapun. Dia hanya berupa angin dingin yang kerap melewati perut saya. Bila ada istilah yang mengatakan, there's a butterfly in my stomach dan membuatnya geli seketika, angin ini telak membuat saya kalah dan meraung-raung. Sakit, ya rasanya perih.
Sekali lagi dia berkata, "Kamu nggak bisa menangkap cahaya lewat apa yang kausebut kamera maupun Photoshop! Kamu nggak bisa memainkan tanganmu untuk melekak-lekuk di atas kertas, membuat sketsa-sketsa cantik di atas sana, kamu bisa apa?" 
"Saya bisa bermimpi, Pesimis! Saya bermimpi akan menjelajahi Menara Eiffel hingga Taj Mahal bersamanya, bertualang ke Antartika dan melihat Aurora bersama!" 
"Apa dia kagum dengan mimpimu? Yang kamu bisa lakukan kan cuma mimpi, dan mimpi!"
Pesimis jahat. Ingin rasanya saya menghunus sebatang bambu runcing ke arahnya perlahan, agar dia menghilang tak bersisa. 
"Sekali lagi, apa dia kagum denganmu? Dengan segala mimpi bodohmu? Dengan segala ketidakmampuanmu? Kamu kagum padanya, selalu. Bagaimana dengan dia? Apa kamu masih memiliki sesuatu yang bisa membuat dia kagum? Tidak." 
Pesimis berlalu, dan menghilang melalui sela-sela jendela. Dia sekali lagi meninggalkan lubang tepat di organ tempat oksigen mengalir. Organ itu seakan ingin meledakkan diri dalam tubuh saya. Jangan hey jantung, tahan ya sayang, tahan sedikit lagi.
Apa yang bisa saya lakukan? Terdiam, dengan beberapa tetesan cantik yang menyelimuti hangat wajah sembab saya.

[cerita hujan-begitu.suka.dengan.hujan]




semoga kamu baik-baik saja sayang :)

My Dandelion Stories

Dandelion adalah bunga liar yang kuat. ia tegar, bagiku. bahkan, saat tumbuhan lainnya mati, dandelion tetap hidup. menahun... dandelion bisa hidup di mana saja asalkan ada sinar matahari. Di sela-sela batu, di dekat rel kereta api, ataupun di retakan-retakan tanah ia pun bisa hidup. Meski kadang dandelion harus kedinginan tertutup salju, kadang harus terkena debu dan panas yang menyengat, namun ia tetap hidup... bertahan hidup, karena dia adalah dandelion, bukan mawar ataupun melati..

Dandelionku bukan bunga... ia adalah nama dari rumah keduaku di kota perantauan ini, "Dandelion Boarding House" kami menyebutnya...
Bukan dandelionku yang hendak kuceritakan di sini. ia hanya bagian kecil dari warna pelangi yang hendak kubagikan padamu...

"You can't choose your family, but you can choose your friend to be your family." [anonim]
yaaa... kita tidak akan dapat memilih siapa-siapa yang akan menjadi saudara kandung kita, siapa yang akan menjadi ayah ataupun ibu kita, namun kita dapat memilih sahabat-sahabat yang ada di sekitar kita untuk kita jadikan saudara... inilah dandelion ku... kami adalah saudara, tanpa ikatan darah yang mengalir di tubuh kami... dandelion ku, hunian yang tidak hanya menawarkan kenyamanan namun juga kehangatan, melebihi tawaran promo hunian mewah yang sering muncul di tivi..

tak butuh waktu lama, penghuni dandelion untuk saling mengakrabkan diri antar penghuni lama dengan penghuni baru... meski rumah kami kecil dan sangat sederhana ini tanpa induk semang yang selalu mengawasi kami, tapi kami bisa saling mengingatkan dalam kebaikan.. kami saling mengerti.. rentang usia, tidak menjadi penghalang untuk kami saling bercanda satu sama lain, menertawakan satu sama lain, mengejek satu sama lain, dan akhirnya kami akan menertawai kekonyolan masing-masing dari kita... bukan karena kami makhluk yang tanpa cela, kami pun sering menggerutu karena kebiasaan-kebiasaan buruk satu sama lain, namun tidak berselang hari, bahkan hitungan menit, kami lupa pada kejengkalan kami sendiri, kami kembali menertawakan satu sama lain. kami bagai anak kecil di bawah umur lima tahun, habis menangis karena merengek tidak dituruti permintaannya, namun kemudian setelah itu dia akan tertawa riang, tidak peduli dia telah disakiti...

Satu persatu penghuni lama pergi dari dandelion ini karena urusannya masing-masing... dan satu persatu pula penghuni baru menggantikan penghuni lama.. seandainya saja, rumah ini bisa seperti pintu kemana saja milik doraemon, yang bisa membawa kita kemana saja yang kita inginkan.. tidak peduli jauh ataupun dekat, kita akan kembali melewati pintu ini... kita akan berkumpul kembali, bertemu dan saling menyapa, tersenyum, tertawa, dan menangis, mengeluh, dan saling menguatkan...
jika satu di antara kita tidak ada, pasti akan terasa sepi... sendirian seorang diri hanya bersama dandelion, tanpa penghuni lainnya, rasanya "so lonely"... aku bisa menangis semalam, seorang diri... siapa saja akan kukirimi pesan singkat, bahwa aku merindukan mereka... termasuk kampung halamanku sendiri... Aku rindu kamu, saudariku... kita akan berkumpul lagi kan suatu saat nanti? Kita akan saling membawa kabar gembira, dan bertukar cerita menyenangkan kan?
kita akan tetap selalu mengingat kan?

Aku yang mencintaimu, saudariku...
-Ari-

Cerita (SMS)


X: Y, emmm.. nek ana gawean aku diomongi ya? :) #smsdikirim

Y: apa contohnya? nang omahku akeh gawean. hhe

X: hedehh.. pekerjaan yang bisa menghasilkan uang.. ngajar kek, ato pekerjaan lain.

Y: O.. iya.. InsyaALLAH X tak ajak.. tapi gaji kecil rpp?

X: dari kecil bisa menjadi besar kan? sedikit demi sedikit lama lama menjadi bukit kan?*peribahasa..

Y: ee, hemm.. bisa bisa.. kenapa e, lagi pengen apa? kenapa cari kerjaan?

X: (dalam batin: mbangane cari pacar, gludhaaaggg... sms belum jadi dibalas) malah njuk melow, nangis, meratapi keadaan (kenyataan) yang menimpanya saat itu..

X: engga.. lagi mikir.. percaya deh, aku igek ngaca. Umm... aku kakean ngrepoti enyak babeku.. Masku wis ra kuliah, hurung duwe gawean pisan. Nek dhuwite entek nggo nyekolahke+ngragati aku mbe masku thok, tapi masku malah stag sekolahe + aku rhung isa males, lak aku dosa. njuk meh diwiwiti kapan mbalese? doeengg... #stresdisiangbolong

Y: Subhanallah.. Alhamdulillah ya (pake gayanya Syahrini)... X sudah dewasa pemikirannya..

X: ahhaa.. gludhag.. semua itu berkat dukungan dari semua pihak [pake gayanya miss indonesia, loh?]

Y: Aku ya wis ngrasa ra penak ki njaluki wong tuwa terus.. Ayo X, kencangkan ikat kepala. Taun depan harus lulus, yuk kerja!.. Amiin Yaa ALLAH

X: Allahumma Amiin.. Amiin Yaa Rabb.. kencangkan ikat kepala, ikat pinggang, let's run! yeee.. mudahkan segala urusan kami, yaa Allah Yang Maha Keren... Bismillah

Y: Asma ALLAH yang baru po Maha Keren ki?

X: ihihiii.. panggilan sayangku tu.. ALLAH Maha Sempurna, itu Kereeeen.. Allah Keren.. ihiy makin cinta dah.. #nakngeyeltakciumlohY :* wakakaka

Y: (speechless..tanpa balasan)


---> X dan Y, unidentified... semoga bisa menjadi pembelajaran :)


“Keep dreaming and make it comes true.”---“Keep dreaming and start action”
LET’S Go!!!! LET’S Run!!

Kepergian sahabat semasa kecil

oh inginku lepas keluhku..padaMu Tuhan Penyayangku..
ku akui semua dosaku meski tersipu tertunduk malu
jiwa dan hati tertutup debu, akalku terkurung nafsu
ketaatanku tertimbun penuh dosa ku.. Tuhan tutupi aibku

Tuhan jangan biarkan diriku semakin jauh tertipu nafsu
hanya padaMu kumohon ampun dari semua dosa
jari lemahku mengetuk pintu maafMu agar Kau hapus salahku...


[hadad alwi]




Kamu masih muda, nak... penuh prestasi, penuh mimpi, berbakat, dan penuh cinta... namun aku yakin Tuhanmu, lebih tau apa yang terbaik untukmu..
Kalau boleh aku sebut, dia sahabatku.. sahabat semasa kecil (dulu)..
Kematian yang mendadak pasti membuat siapapun tidak menyangka dan sulit percaya, berharap kabar di pagi tadi adalah kabar kabur yang tidak ada kebenarannya... namun, ternyata nyata...

Pemuda yang penuh prestasi... pelukis, seniman, lomba karikatur hingga tingkat nasional, murid yang berprestasi di kelas, aktifis, osis, dewan ambalan, siedis, pemain basket... hingga suatu ketika aku mendapat kabar itu, aku membuka homepage facebooknya, dan dia aktif di sebuah komunitas “SNC” Surabaya Ninja Club. Sebuah komunitas pengemudi atau pecinta motor gede Ninja di Surabaya (mungkin)... dia, member di kaskus, dan aktivis di kampusnya, himpunan mahasiswa teknik kelautan institut teknologi sepuluh november (its surabaya), sebagai kabiro info dan media..

Yah, dulu aku juga paling suka dengan lukisan, yap gambar... dan aku menyukai karya dan bakatnya... kagum... tipe bocah yang konyol dan sedikit selengekan, namun menyenangkan bagi teman-temannya.. hobi ‘cengengesan’ ketika habis jatuh dari motor, kata temannya “jare nyawamu ana 9 kaya kucing, dan..”

Sabtu, 5 November sekitar pukul 07.00, aku mendapat kabar mengejutkan itu... lalu kutanya kenapa?
Kecelakaan.
Ku buka fb nya.. halaman pertama hanya ada 1 kiriman dari seorang ibu-ibu, yang bunyinya kurang lebih seperti, “ada yang tau nomer hapenya orangtuanya aldani ga? Ini mamanya dhika.. aldani meninggal tadi pagi disurabaya.” Lalu dibalas oleh adiknya aldani, “bener bu? Ini adiknya.” Lalu ibu itu membalas, “coba telpon dhika sama.... sekarang dia dirumahsakit.”.....

Beberapa menit kemudian, kenyataan pahit semakin tercium... yah dan memang benar ALDANI ZAAFARON telah berpulang ke rahmatullah... entah ini kebetulan atau tidak, status terkahir yang kubaca yang dia tulis adalah “God always listening and understanding...”, dan photo profilnya hanya berupa kotak hitam tanpa gambar apapun... aku merinding, teman...

Masih sulit mempercayai kepergianmu yang begitu cepat itu kawan, aku selalu berkunjung ke halamanmu.. memastikan apa penyebabnya.. yah kecelakaan.. ku baca kaskus, katanya kecelakaan karena menghindari gerobak dan menabrak trotoar, dan meninggal. Motor ninja hijaunya yang terfoto berada di polresta surabaya...

Yah, hobi menyukai kendaraan bermotor dengan laju yang cepat tidak ada yang salah..
kubaca satu persatu pesan dinding dari teman-temanmu..
“Safe ride to beside of God, dan..”
“Banyak teman-temanku yang pergi, tapi kamu teman yang berbeda...”
“ini sudah tidak akan sakit lagi..”
Rest in peace, acooong..”
Ride in peace..”
Race in peace..”
“suatu saat nanti aku akan mengalahkan rekormu 210 km/hr... namun kamu telah pergi, dan tak sempat melihat, bahagia disana bro..”
“baru kemarin kita bagi kelompok diskusi pipa.”
“gajah mati meninggalkan gadingnya, seniman mati meninggalkan karyanya..”
“semoga hujan yang turun menjadi pertanda rahmat dari Allah SWT untukmu kawan..”

Lalu ada gambar dari seorang teman yang menge-tag aldani saat mengendarai motor ninja nya di arena balap..

Mungkin seorang pembalap akan selamat di arena balapnya, yah sirkuitnya... tapi tidak akan pernah ada yang berani menjamin, ketika ia berada di medan yang sesungguhnya, jalan...


Selamat jalan, aldani... teman-teman pasti merindukanmu.. :’

Allah always guiding us.. so do you..
Allah always be there..