Tampilkan postingan dengan label Syukur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syukur. Tampilkan semua postingan

Sang Penyelamat

Seorang perempuan bermata sendu masuk ke dalam lorong kereta, mencari tempat duduk yang belum terisi. Beberapa kursi di gerbongku telah terisi oleh beberapa pasangan atau segerombol keluarga yang mungkin hendak melancong. Aku duduk seorang diri. Perempuan itu tampak mencari tempat duduk yang berada di dekat pintu kereta. Ya, dia duduk tepat di depanku dengan jarak agak jauh karena terpisah jeda pintu kereta. Kereta yang kutumpangi adalah kereta jarak pendek yang penumpangnya dibebaskan memilih tempat duduk. Perempuan itu tampak menghindari kontak mata dengan penumpang lain. Kursi di sebelahnya dibiarkan kosong, tas ranselnya ia letakkan di bawah dekat kakinya. Kursi di sebelahnya dibiarkan kosong supaya jika ada penumpang lain yang membutuhkan tempat duduk, dia tidak perlu meminta ijin pada perempuan tersebut. Perempuan itu bergestur enerjik, namun tetap bersahaja dengan gamis dan sepatu sneaker nya. Tas kecil satunya ia pangku, dan ia buka. Ia mencari sesuatu. Ia keluarkan masker atau penutup hidung kemudian ia pakai. Ia keluarkan telepon genggamnya kemudian ia pasang earphone dan ia pakaikan di telinganya di balik jilbabnya. Hal yang sama yang biasa kulakukan jika tidak ingin diganggu, aku hanya akan (pura-pura) memasang earphone namun tanpa bunyi apapun.

Perempuan itu bersandar di dinding samping kereta dekat jendela kemudian pandangannya kosong menatap keluar jendela. Beberapa detik setelah aku memperhatikan, perempuan itu menangis. Ia tampak seperti ingin membendung airmatanya agar tidak ketahuan oleh yang lain. Ia buru-buru membasuhnya. Matanya kembali berkaca-kaca. Air matanya kembali menetes dan nampaknya ia tidak sanggup membendung derai air matanya. Ia mencoba bertahan, akhirnya ia keluarkan tisu dari tas kecilnya, ia lepas masker penutup hidungnya dan ia basuh air matanya kembali. Ia pakai kembali masker tersebut. Sesekali ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan namun kuat seperti ia sedang menanggung beban yang sangat berat. Kali ini ia mencoba tidur, mungkin pura-pura tidur agar ia punya alasan untuk menutup kedua matanya. Aku memandanginya. Air matanya masih keluar saja dari kedua ujung mata teduhnya. Beberapa kali kulihat, genggaman tangannya gemetar karena menahan airmatanya. Aku sedang penasaran dan tiba-tiba aku merasa ikut bersedih. Pendapatku tentang mata perempuan itu yang kukira bermata sendu karena tertiup angin hujan di luar gerbong adalah salah besar. Sendunya tercipta karena ia sedang menyimpan luka yang dalam dan penuh rahasia. Apakah dia sedang ditinggalkan oleh kekasihnya. Apakah ia sedang dikhianati oleh seseorang yang ia cintai. Apakah seseorang yang paling ia cintai meninggalkannya. Apakah hujan di luar jendela membuat dia rindu pada seseorang. Apakah hujan yang mengenai sepatunya membuat rindu yang ia pendam butuh untuk segera disampaikan. Apakah keselamatan jiawanya terancam dan mengharapkan kehadiran penyelamat. Apa yang membuatnya begitu bersedih. Yang pasti, dia sedang berusaha melupakan lukanya dengan cara menumpahkan air matanya. Ya, dia sedang mencoba lupa akan lukanya. Sayangnya, luka yang ia tanggung terlampau perih sehingga belum sampai dia mengadu pada Tuhannya, air matanya tumpah di depanku. Aku tak berani menyapanya. Khawatir, pertanyaan dan keingintahuanku justru akan menyentuh luka yang sedang ia sembunyikan, meskipun tak sengaja tersentuh, pasti tetap akan menimbulkan rasa sakit dan justru membuat papa jiwanya, menambah tangis baginya.

Aku mencoba cara yang paling aman, yaitu menunggunya.Andai saja aku berani mendekat dan menghiburnya. Akan kuberitahukan padanya bahwa Tuhan Maha Penyayang , Maha Mengatur hidup seluruh umatNya. Adukan semua padaNya, bisa jadi hidup yang sedang ia tangisi justru menjadi hidup yang orang lain inginkan. Akan Tuhan datangkan hadiah terindah
yang mungkin tidak akan ia sangka skenarionya. Ya, kita perlu bersyukur dan hanya perlu menunggu. Dimanakah Sang Penyelamatnya? Segeralah datang, dan selamatkan dia. Bawa dia keluar dari hidupnya yang sedang ia tangisi.

Pelajaran Episode Final Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo



#scarletheart punya tokoh utama bernama Hae Soo. Hae Soo menghabiskan hidupnya terjebak di antara 6 pria berkuasa dan punya ambisi berkuasa. 4 pria di antaranya tertarik padanya. Drama ini menunjukkan bahwa, perasaan manusia bisa saja berubah. Drama yang sejak awal dikemas jenaka bercampur sendu, pada episode final dibuat tragis oleh penulis dan tentu Sang Sutradara. Banyak yang menanti-nanti pada siapa Hae Soo akan menghabiskan sisa hidupnya, dan bagaimana ending drama tsb, setelah dapat spoiler dan ada yang menonton terlebih dahulu kemudian bilang, "Sudah, gak usah ditonton. Mengecewakan." Bagi saya, "mbok yo woles wae gaes". Karena drama memang harusnya berhenti dan cukup pada episode 20 saja tidak perlu terlalu panjang. Ya meskipun ada yang berpendapat, mengecewakan. Woles wae gaes, karena hidup sebenarnya bisa saja seperti cerita #scarletheart . Hidup kemudian mati. Bertemu kemudian menikah. Bertemu kemudian bisa juga berpisah. Yang dideketin siapa kemudian yang dinikahin siapa *eh. Seandainya kita menginginkan atau mengharapkan ending seperti apa, bisa kita jelaskan atau bilang langsung sama Sang Sutradara. Ya kayak berdoa. Kita mau sesuatu, kita bilang sama Tuhan. Ceritakan, Rinci, dan tentu dengan etika. Setelah bilang dan berdoa, itu sudah bukan urusan kita lagi. Karena Sang Sutradaralah yang menentukan. Kalau itu sesuai dengan harapan kita. Syukur. Jika tidak dan justru mengecewakan. Jangan hujat. Jangan nggak sopan lalu mengata-nga't**'. Syukuri lalu ambil pelajaran. Hidup tentu tidak berhenti hanya karena menunggu kita menangis tersedu-sedu dan menyalahkan Sang Sutradara. Hidup terus berjalan. Kita hanyalah penonton bagi kehidupan orang lain dan lakon pada takdir kehidupan masing-masing.


Sekian.

Seorang Bapak di Ruang Tunggu

Suatu hari saya duduk seorang diri menunggu bertemu seorang Bapak Guru. Ruang tunggu itu terasa asing karena itu pertama kalinya saya membuat janji dengan Bapak Guru tersebut. Saya duduk di depan ruangan Bapak Guru. Saya duduk menghadap sebuah dinding, di sana tertulis suatu kutipan. Kemudian karena saya tertarik dengan tulisan tersebut saya mendekat dan mengeluarkan ponsel saya. Saya bermaksud untuk mengambil gambarnya. Namun, seperti kebiasaan yang sudah-sudah saya bukan tipe orang yang terlalu percaya diri untuk mengapture di tempat umum. Saya terbiasa melihat keadaan sekitar terlebih dahulu. Kemudian saya tengok kanan kiri. Di sebelah tempat duduk saya, ada seorang Bapak nampak memandangi saya. Kemudian saya melemparkan senyum sebagai tanda saya menyapa beliau. Bapak itu tidak merespon. Bapak itu melemparkan pandangannya lagi ke arah saya, tanpa maksud ingin membalas senyuman saya. Bapak itu tampak berfikir, namun saya tidak bisa membaca pikirannya. Saya melanjutkan niat saya. Memfoto. Setelah saya menyelesaikan misi saya, saya duduk kembali dan melanjutkan aktivitas bernama “menunggu”. Beberapa menit kemudian, ponsel Bapak tadi berdering, nada deringnya bukan nada dering bernada tetapi nada dering yang berkata seperti “Bambang memanggil” dengan logat bule-bule ngomong bahasa Indonesia. Bapak itu mengeluarkan ponsel dari saku sebelah kirinya. Menjawab telepon dan setelah cukup berbicara dengan seseorang di seberang telepon, Bapak tersebut menutup teleponnya. Saya memperhatikan. Bapak tersebut mengoperasikan ponselnya, setiap pergerakkan jarinya ke kanan atau ke kiri, ke atas atau ke bawah, ponsel tersebut memandu, seperti berbicara “Menu”, “Kontak”, “Pesan”, “Tulis pesan” dsb. Bapak itu tidak memandangi layar ponselnya namun mendekatkan ponselnya ke telinganya. Kemudian saya tengok di samping tas kerjanya terdapat sebuah tongkat sepanjang 20 centi-an yang mungkin masih bisa dipanjangkan. Saya baru menyadari satu hal. Bahwa Bapak di samping saya ini, beberapa waktu lalu memang bukan dengan sengaja mengabaikan senyuman saya. Saya terlalu terburu-buru menghakimi Bapak ini kalau saya bilang “Bapak sombong dengan tidak membalas sapaan saya”. Saya terlalu terburu-buru berpersepsi, kemudian menghakimi. Saya terlalu sering berpersepsi terhadap seseorang, sampai saya lupa untuk mengenalnya atau sekadar menanyakan nama dan kabarnya.

Jangan sampai Pakdhe Tedjo bilang lagi kalau kita hidup pada jaman di mana perhatian dan sikap peduli malah dibilang ‘kepo’. Jangan sampai mencari tahu kebenaran (diam-diam) dari ‘sesuatu hal’ pada akhirnya juga akan dibilang kepo. Cari tahu, tapi nggak usah kebanyakan nanya.

Ya, setiap manusia memiliki cerita yang mungkin tak terbayangkan oleh manusia yang lain. Jangan mudah menyimpulkan, kemudian menilai.

Manusia Baik, Melakukan Kebaikan dengan Baik

Tidak ada yang salah dengan mimpi, impian, keinginan atau cita-cita. Siapapun, boleh saja berkeinginan jadi Presiden, Walikota, Bupati, atau artis sekalipun. Yang paling penting adalah bagaimana cara meraihnya, cara mendapatkannya, cara mewujudkannya. Apakah dengan cara yang benar, baik, dan sesuai dengan kaidah-prosedur normatif atau justru di luar batas kewajaran? Cara yang benar adalah dengan melakukan aturan-dan prosedur yang ada. Memiliki visi misi, dan memenuhi semua persyaratan, mengajukan dengan cara yang benar, melakukan kampanye dengan cara yang benar, berdoa, menunggu. Cara yang tidak benar, ada banyak.


Siapapun boleh saja berkeinginan menjadi PNS, atau pekerjaan lain yang dipandang baik oleh masing-masing personal. Yang paling penting bukanlah apa pekerjaannya, karena manusia punya potensi, dan prioritas dalam hidupnya sendiri. Plis, jangan disamakan dan tidak perlu saling menjelekkan. Lagi-lagi, yang juga penting adalah bagaimana cara meraihnya, cara mendapatkannya, cara mewujudkannya. Apakah dengan cara yang benar, baik, dan sesuai dengan norma yang berlaku atau justru dengan cara yang berbeda namun tidak benar? Cara yang benar adalah dengan melakukan aturan-dan prosedur yang ada. Melihat peluang, mendaftar dengan cara yang benar, belajar dengan cara yang benar, mengikuti seleksi dengan cara yang benar, berdoa, menunggu. Cara yang tidak benar, ada banyak.


Siapapun boleh saja berkeinginan memiliki mobil, kendaraan mewah, atau hunian mewah. Tidak perlu iri dan tidak perlu lantang bilang ‘ah matre’, karena manusia memiliki kepentingan dan kebutuhannya masing-masing. Plis, jangan disamakan. Yang paling penting adalah bagaimana cara mewujudkannya, cara meraihnya, cara mendapatkannya. Apakah dengan cara yang benar, baik, dan sesuai dengan norma atau justru dengan jalan pintas namun tidak benar? Cara yang benar adalah dengan melakukan aturan-dan prosedur yang ada. Mengumpulkan uang dengan cara yang benar, menabung, menyiapkan kelengkapan, mendaftarkan dengan cara yang benar, kemudian akan mendapatkan dengan cara yang benar. Cara yang tidak benar, ada banyak. Beberapa waktu terakhir, banyak cara yang tidak benar dalam mengumpulkan uang.

Siapapun boleh saja berkeinginan menikah dengan si Merah, atau bersuamikan si Putih, atau beristerikan si Biru. Yang paling penting adalah bagaimana cara mewujudkannya, cara meraihnya, cara mendapatkannya. Apakah dengan cara yang benar, baik, dan sesuai dengan kaidah-prosedur normatif atau justru di luar batas kewajaran? Cara yang benar adalah berkenalan dengan cara yang benar-baik, mendekati dengan cara yang baik, mengutarakan dengan baik, berdoa, menunggu, ‘mengikat’ dengan cara yang benar. Cara yang tidak benar, lebih banyak.

Siapapun boleh saja berkeinginan bisa ke luar negeri, belajar ke luar negeri, keliling dunia, keliling Indonesia, naik gunung, naik kapal pesiar, atau naik haji sekalipun. Yang paling penting adalah caranya, proses mewujudkannya. Cara yang tidak benar, ada banyak. Termasuk memaksa keinginan kita agar Tuhan mengabulkannya.
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak. [QS 2: 216]

Bersyukur

Siang ini, saya makan siang bersama seorang kawan baik saya di sebuah rumah makan tidak jauh dari kampus.
Saya dan kawan saya memesan menu sederhana seperti biasanya. Kemudian kami buru-buru mencari tempat duduk kemudian memilih tidak berlama-lama di warung tersebut karena mengejar jadwal perkuliahan kami selanjutnya. Kami duduk berhadapan.
Tidak lama setelah saya menyelesaikan makan saya dan menunggu kawan saya menyelesaikan makannya, duduklah seorang laki-laki dan seorang perempuan di seberang tempat kami duduk. Sejajar dengan tempat duduk saya, perempuan tersebut. Jika boleh ditebak, kemungkinan mereka adalah sepasang kakak beradik, karena perempuan terlihat jauh lebih muda dari laki-laki tadi. Tidak sengaja saya melihat mereka, tidak segera makan, muncullah rasa kepo saya lantas menoleh kepada mereka. Saya lihat:

"Mereka berdua memejamkan mata, di belakang piring makanan mereka, mereka menggenggamkan tangan mereka masing-masing, kemudian seraya berdoa. entah apa, saya hanya tertarik pada aktifitas mereka. Perempuan itu yang nampak memimpin atau mengucapkan kata-kata meski samar tidak terdengar."

Agak lama, kemudian pandangan saya kembali pada kawan saya.
Terlepas dari keyakinan mereka, saya percaya bahwa syukur itu sederhana.
Seperti mereka. Menghargai apa yang sudah ada, tanpa menuntut apa yang belum ada tetapi masih mengusahakan apa yang ingin ada sambil berbagi kepada sesama.

Engkau Yang Kusebut Oemar Bakri

Pernah kulihat lelah di bola matamu
Namun senyum selalu hiasi bibirmu
Meredam bara emosiku yang menggebu
Tak patuhimu padahal baik bagiku

Kau buka mata dan hatiku yang membeku
Kugenggam dunia dengan memahami ilmu
Dalam tertatih kau tak pernah tinggalkanku
Dengan sabarmu, ku tahu yang ku tak tahu

Guruku tersayang, Apa kabarmu? Walau dimana berada
Semoga sejuta doa untukmu selamanya

Ajari kepakkan sayapku tuk terbang menuju langit tinggi
Meraih bintang, kau selalu ku kenang
Seluruh pengabdian yang engkau beri
Meski kucoba dengan sepenuh hati tak akan terganti

Terimakasih guruku tersayang
Kau selalu jadi pahlawanku
[Haris Isa-Guruku]

Itu, salah satu lagu yang mengungkapkan rasa terimakasih seorang murid pada gurunya. Tentu, masih banyak yang lain. Saya hanya penasaran, kenapa hanya ada lagu yang tercipta dari murid untuk gurunya. Sudahkah ada lagu yang diciptakan dari seorang guru untuk muridnya? Jika dilihat dari kompetensinya, tentunya, harusnya lagu yang diciptakan guru lebih banyak daripada murid yang menciptakan.

Oke interludenya: tulisan ini datang dari hati saya yang paling dalam. Paling [italic]. Hanya keluh kesah saya hari ini, yang belum sempat tersampaikan. Dengarkan Pak Guru!

Saya justru begitu kagum dengan sosok-sosok murid yang rela membuat cerita, membuat lagu, kemudian menyanyikan lagu yang kemudian dipersembahkan untuk gurunya, dilandasi karena kecintaannya pada gurunya, karena rasa terimakasihnya yang begitu besar pada gurunya, atau karena begitu berharganya guru baginya dalam perjuangan hidup dan mimpi-mimpinya. Saya akan memposisikan diri saya sebagai murid, kemudian saya juga akan memposisikan diri saya sebagai guru.

Keren, jika ada murid merasa seperti diselematkan dari jurang kematian dan kebodohan kemudian menaruh rasa terimakasih sehingga tumbuh keinginan membalas budi kepada gurunya. Dengan adanya murid seperti ini, tentu guru akan sangat bangga sekali. Lalu, jika ternyata semua imajaniasi tentang guru yang begitu mulia dihamburkan dengan satu karakter antagonis sang guru, murid bisa apa? Guru punya wewenang yang lebih daripada murid. Guru boleh memvonis, murid terima saja. Bisa jadi, bisa jadi.

You know lah, murid hanya akan merasa tersiksa, dan tidak bahagia mengikuti pelajaran, tidak memiliki motivasi untuk belajar, tidak memiliki keberanian untuk mengeluarkan pendapat sementara guru justru hobi menyebut dirinya bodoh yang tidak mungkin berubah menjadi pintar, sementara guru hobi memvonis “murid salah, dan yang selalu benar adalah saya”, sementara guru hobi menyalahkan, sementara guru hobi menyebut-mengagung-agungkan dirinya yang paling kompeten di atas yang paling. Apalagi kata yang bisa menyatakan paling di atas yang paling?

Kali ini saya memposisikan sebagai murid, pesan saya hanya satu: Listen!
Ketika seorang guru memberi perintah, atau membentak murid, “Dengarkan!” Boleh jadi yang justru seharusnya mendengarkan adalah gurunya, yang memberi perintah.

Kali ini saya akan memposisikan diri saya sebagai guru, hanya ingin berkata untuk saya dan kawan guru saya bernama Oemar Bakri, “renungkanlah Pak Guru, mungkin kita sebagai Guru lalai akan hal-hal kecil yang dianggap sepele yang justru sebenarnya lebih penting, yaitu mendengarkan-menyimak (listen, bukan hear). Jangan melulu berbicara tentang ilmu, sekali-sekali mari berbicara realitas tentang pelajaran hidup. Meski kadang tidak sependapat, meresponlah dengan mimik muka yang tidak sok paling pintar dan tidak menyepelekan. Sekali-sekali murid juga butuh dipuji. Ya dipuji, atau sudah lupa bagaimana cara memuji? Jika sudah lupa, maka nasehat saya adalah ‘tidak ada kata terlambat untuk belajar’ itu saja.”

Sudahlah, tidak perlu gengsi untuk menyatakan terimakasih pada muridnya..
Saya tunggu lagunya, Pak Guru...
Tentu, bukan untuk kekasihmu, bukan pula untuk titlemu...
Tetapi untuk muridmu...
Saya ingin mendengar, cerita apa yang akan engkau bagi untuk dunia tentang muridmu, sosok seperti apa muridmu dimatamu?
Saya menunggu pembuktian bahwa segala lagu tentang kebaikan guru, berlaku bagi guru dimana saja, dan kemudian saya dengan tulus akan mempersembahkan lagu itu untukmu.
Hanya akan ada Guru dengan karakter yang begitu hangat yang selalu ada dalam cerita-cerita menyenangkan anak sekolah jaman dulu, sekarang bahkan nanti... mungkin sampai kata tak lagi berarti, karena hanya akan ada memori jangka panjang tentang kenangan yang ditorehkan selama guru dengan murid masih menjadi suatu oposisi yang berhubungan dan tak terpisahkan. Disebut guru karena ada yang disebut murid kan?

Jelas, seorang murid akan bangga jika diajar oleh guru dengan titel yang semakin tinggi, tapi itu hanya poin kedua setelah watak dan karakter. Salam super, Pak Guru.


[Selasa, Oktober 2013-catatan ketiga tentangmu] *berubah*cling

Selamat :*

19 Januari - 17 Februari - 25 februari - 27 Februari - 4 Maret - 12 April - 27 April - 30 April - 8 Mei - 9 Juni - 6 Juli - 28 Juli - 13 Agustus -16 September - 4 Oktober - 31 Oktober - 4 November - 8 November - 2 Desember

Hidup terlalu sempurna untuk sekadar dirayakan...


Ratusan ucapan selamat dan doa berdesakan dalam inbox sms, twitter, dan pesan dinding di facebook. Dari orang-orang yang benar-benar aku kenal sampai orang orang yang benar-benar tidak aku kenal. Aku membacanya satu persatu, meski tak bisa terjawab semuanya. Dalam hati ku sampaikan, "terimakasih banyak, mumumumah...cinta kalian semua". Aku benar-benar terharu. Doa yang datang dari orang-orang yang tak benar-benar kukenal dan tak pernah kutemui--terasa nyata sebagai doa yang tulus dan tak meminta balasan apapun. Kebanyakan mereka adalah fans-fans (saya) :p

Aku tak mengerti mengapa mereka tergerak untuk memberi selamat dan mendoakanku. Ah ya sudahlah, hidup memang bukan melulu soal mengerti atau tidak mengerti. Aku hanya percaya, konon 40 orang yang berdoa saja sudah cukup menggetarkan langit dan membuat Tuhan tak kuasa untuk tak mengabulkannya. Kini, aku membaca hampir ratusan doa untukku? Apakah Tuhan punya cukup alasan untuk tak mengabulkannya? Semoga tidak. hehehe'

Hidup terlalu sempurna untuk sekadar dimengerti...

Hidup terlalu sempurna untuk dihitung..

Kini aku yakin benar, hidup adalah karunia. Perkara hidup, kita tak pernah meminta, tetapi kita 'diberi'. Betapa banyak yang sudah aku dapatkan selama 17 tahun ini, yah tanpa aku meminta. Eh barangkali sesekali aku memang berdoa karena menginginkan sesuatu, tetapi Tuhan memberiku hidup yang isinya berwarna warni. Yah, hidup terlalu sempurna untuk dihitung jumlahnya, terlalu berwarna untuk diingat warnanya.

Kini usiaku 17 tahun. itu setara dengan 204 bulan, atau 816 minggu, atau 5712 hari atau 137088 jam, atau 8225280 menit, atau 493516800 detik. Semoga usiaku tak terperangkap dalam jarum arloji atau bilangan digital sistem kalkulator. Hitungan waktu hanyalah cermin dari proses; ada yang sudah kita capai, ada yang belum. Ada yang bertambah, ada yang berkurang, dan sesungguhnya hidup terlalu sempurna untuk dikalkulasikan.

Kini, aku di sini. Mengakrabi waktu yang terus berlalu, menghitung detik-detik berguguran. Seraya merapalkan doa-doa, aku meneguhkan janji itu sekali lagi, berkali-kali hingga aku tak pernah berpikir untuk bosan mengikrarkannya, "Yeaaah, aku akan selalu mencintaiMu!"

[selamat ulang tahun :* ]
ps. pesanku: kalau usiamu ternyata menjelang kadaluarsa, dan esok adalah batas waktunya, daftarilah apa saja yang sudah dan belum kamu lakukan dalam hidupmu! Bayarlah hutang budimu pada Tuhan!

Tentang Kehidupan

Bukan hal mengagetkan sebenarnya, bukan hal yang luar biasa memang, tapi entah mengapa, tiap kali itu tersampaikan, akan selalu sukses menimbulkan perasaan yang berbeda dalam diri. Kadang menggelora, kerap pula menyayat, atau mungkin sekedar menimbulkan perenungan dalam. Tergantung kronologisnya, tergantung pula individunya, bahkan juga tergantung timing-nya.

Cerita kematian. Ya, sadar ataupun tidak, informasi inilah yang lumayan kerap mengetuk-ngetuk gendang telinga saya tiap kali pulang. Lebih kerap hidup di kota orang dan lumayan jauh dari kampung halaman, mau tak mau akan membatasi akses saya terhadap informasi yang terjadi di kampung halaman. Info-info penting saja mungkin yang lumayan ter-update. Lewat SMS, atau lewat telepon genggam. Semacam dinamika keluarga, ataupun segala yang terjadi di tetangga-tetangga dekat, atau yang terjadi dengan teman atau sanak saudara dari orang tua. Dan cerita kematian ini, adalah catatan penting yang kerap terlewatkan untuk tersampaikan.

Lalu pada akhirnya kemarin, saat saya pertama kali menikmati momen pulang kampung setelah beberapa minggu tidak pulang, informasi itu datang lagi. Sebenarnya beberapa hari sebelumnya info itu sudah datang dari ibu saya lewat perbincangan di telepon. Tapi hanya pemberitahuan, tak begitu lengkap. Tak datang dari sumber yang paling dekat.

Orang itu adalah tetangga saya. Lumayan jauh sebenarnya bagi kaca mata orang kota. Tapi, berhubung saya tinggal di pedesaan dimana kita saling mengenal satu sama lain, bahkan sampai satu desa, maka jarak segitu adalah jarak yang teramat dekat. Orangnya sudah tua, mungkin seumuran pakdhe (lebih tua dari seorang ayah). Beliau sering kali membantu menyelenggarakan pengajian setiap sebulan sekali di rumah. Bahkan ketika, kakak lelaki saya menikah, Beliau termasuk yang mempersiapkan tenda, kursi, dan perangkat sound system lainnya. Beliau akan selalu muncul untuk turun tangan membantu siapapun jika di desa kami ada salah satu yang sedang punya gawe.

Tapi kematian akan selalu menjadi nasehat terbaik. Selalu, bagi siapa saja yang mau mengambil pelajaran. Entahlah, saat itu, ketika saya tengah kumpul dengan bapak - ibu, perbincangan itu dimulai. Awal mulanya hanya ingin menyampaikan berita kematian tetangga saya itu. Saya jawab sudah tahu. Kemudian melebar. Ganti membicarakan sang almarhum. Tentang aktivitasnya, tentang semasa hidupnya. Awalnya saya hanya sekadar mendengarkan, namun kemudian terpancing untuk bertanya.

Tidak penting apa yang saya tanyakan, namun cerita itu, tentang sepenggal kisah tetangga saya itu menjalani kehidupannya, tiba-tiba menyadarkan saya. Kelak, ketika kita tak mampu lagi mengadakan konferensi pers untuk mengklarifikasi opini yang terlontar mengenai kita, ketika kita tak akan bisa lagi membantah celaan yang menerpa kita, atau saat kita tak akan sanggup lagi berbangga hati kala seseorang memuji kita... saat maut itu telah sempurna menjemput... saat itulah... apa yang sudah kita lakukan semasa hiduplah yang bakal tersuarakan. Mungkin jelek, mungkin bagus. Tergantung dengan catatan kehidupan yang telah kita torehkan sepanjang periode hidup. Catatan yang mungkin teramat dalam membekas pada diri tetangga-tetangga kita, keluarga kita, teman-teman kita, atau pada lingkungan kita....pada alam. Tak mampu lagi kita untuk membantahnya, pun juga tak kuasa lagi kita untuk menambah-nambahi. Sebab, apa yang telah kita tulis semasa hiduplah yang bakal terbaca. Bila itu adalah sebuah keburukan, maka terlambat sudah untuk menghapusnya, lalu menulisinya dengan tulisan-tulisan kebaikan. Pun juga, bila itu adalah kebaikan-kebaikan, maka tak ada waktu lagi untuk menstabilonya, menggarisbawahi, atau sekadar mempertegas tampilannya.

Maka, jika saat itu tiba-tiba kami membicarakan tentang begitu ringan tangannya bapak itu pada sodara paling dekatnya sekalipun, (pada tetangga-tetangganya). Tak ada tendensi apapun saat kami melakukannya. Jelas sekali, karena catatan kehidupannya tentang hal ini teramat tebal ia tulis, teramat indah ia lukis. Maka jadinya, teramat tebal pula catatan itu terekam dalam memori orang-orang sekitarnya, teramat indah catatan itu tersimpan dalam hati tetangga-tetangganya. Hingga tersuarakan. Atau mungkin juga tidak. Hanya hidup dalam kenangan individu di sekitarnya. Tapi meski begitu, itu sudah lebih dari cukup sebagai kesaksian : bahwa ia adalah seorang manusia baik.

Kini, tinggal kitalah yang menentukan. Catatan kehidupan itu belum tertutup. Lembar-lembar kehidupan itu juga masih tersisa. Dan tentu saja, karet penghapus untuk memperbaiki catatan yang telah lalu itupun juga masih di tangan. Masih ada waktu. Masih ada kesempatan untuk menentukan catatan yang mana yang bakal kita perbanyak, kita ulang-ulang, atau kita pertegas adanya. Bukan hanya agar catatan-catatan itu hidup dalam sanubari orang-orang sekitar kita -- seperti yang saya ungkapkan di atas, bukan pula semata agar orang lain menyaksikan kita sebagai orang baik. Sungguh, itu akan menjadi tak penting dan hanya akan menjadi nilai estetika kehidupan belaka. Tapi oleh sebab kita telah meyakini akan adanya pembacaan catatan kehidupan yang jauh lebih fair, lebih adil. Untuk menentukan masuk golongan manakah kita : golongan orang berimankah, atau golongan yang ingkarkah. Dan konsekuensi di antara keduanya, sungguh amat berbeda..

Bahkan sesudah kabar kematian dari bapak tetangga ini, beberapa hari kemudian saya mendengar kabar serupa dari teman sekantor bapak. Masih tidak percayakah kita bahwa kematian itu keberadaannya sangat dekat, dan siapapun tidak bisa menebaknya.

Bahagia itu...

Banyak diantara kita merasa kesulitan utk mencari kebahagiaan, padahal kebahagiaan itu sangatlah sederhana,yaitu menerima dengan ikhlas semua hal yang sudah kita terima dan berbuat dengan ikhlas apa yang semestinya kita lakukan.Dan ikhlas itu bukan berarti bersikap pasif dan pasrah pada segala hal,tapi wujud dari ketegaran hati yang dibentuk oleh kejujuran pada diri sendiri.. dan sabar itu bukan berarti tidak menangis, sekuat apapun iman seseorang, air mata adalah butiran alamiah yang dianugerahkan Tuhan kepada makhluk bernama manusia, itu kataku.

Aku memilih bahagia untuk saat ini, meski perjalanan terselesaikannya tugas akhir tidak semulus kelihatannya.

aku memilih bahagia untuk saat ini, meski kadang aku butuh menangis di tengah pekerjaan, tapi yang paling kuingat bahwa “pekerjaanmu, membutuhkan kesabaranmu”

aku memilih bahagia untuk saat ini, meski kadang kerinduanku untuk pulang ke rumah cuma berakhir pada angan di dalam kamar sempit kos ku.

aku memilih bahagia, meski kadang sakit tidak pernah bilang kapan dia akan datang,

aku memilih bahagia untuk saat ini, meski kadang niat baikku tidak selalu bisa diterima dengan baik oleh orang lain.

aku memilih untuk bahagia,.... selamanya...

aku menunggunya kemarin, dan aku cukup melihatnya, aku bahagia...

Bahagia itu tidak menyakiti diri sendiri dan tidak menyakiti orang lain.
sederhana.

Syukur Kata Om Mar :)

Semakin besar keinginan kita untuk mencapai yang belum kita miliki, akan semakin besar kemungkinan kita untuk tidak menghargai yang sudah kita miliki.
Maka janganlah keinginan untuk mendapatkan yang belum kita miliki, membuat kita menelantarkan yang sudah kita miliki.
Seperti,...
Menginginkan cinta yang jauh, padahal kita yang menelantarkan cinta yang dekat.
Memimpikan pekerjaan yang baru, padahal kita yang malas dan kurang amanah dalam pekerjaan yang sekarang.
Mengkhayalkan penghormatan yang tinggi, padahal kita yang menyebabkan pendapat buruk kepada diri sendiri.
Maka marilah kita menghargai yang sudah ada pada diri kita, agar kita pantas menerima pemberian yang lebih baik.
Inilah salah satu penjelasan mengapa Tuhan menambahkan rezeki kepada orang yang bersyukur.
Bersyukur adalah menghargai yang sudah ada, dan menggunakannya untuk mencapai kebaikan baru.

Om Mario Teguh

Cerita (SMS)


X: Y, emmm.. nek ana gawean aku diomongi ya? :) #smsdikirim

Y: apa contohnya? nang omahku akeh gawean. hhe

X: hedehh.. pekerjaan yang bisa menghasilkan uang.. ngajar kek, ato pekerjaan lain.

Y: O.. iya.. InsyaALLAH X tak ajak.. tapi gaji kecil rpp?

X: dari kecil bisa menjadi besar kan? sedikit demi sedikit lama lama menjadi bukit kan?*peribahasa..

Y: ee, hemm.. bisa bisa.. kenapa e, lagi pengen apa? kenapa cari kerjaan?

X: (dalam batin: mbangane cari pacar, gludhaaaggg... sms belum jadi dibalas) malah njuk melow, nangis, meratapi keadaan (kenyataan) yang menimpanya saat itu..

X: engga.. lagi mikir.. percaya deh, aku igek ngaca. Umm... aku kakean ngrepoti enyak babeku.. Masku wis ra kuliah, hurung duwe gawean pisan. Nek dhuwite entek nggo nyekolahke+ngragati aku mbe masku thok, tapi masku malah stag sekolahe + aku rhung isa males, lak aku dosa. njuk meh diwiwiti kapan mbalese? doeengg... #stresdisiangbolong

Y: Subhanallah.. Alhamdulillah ya (pake gayanya Syahrini)... X sudah dewasa pemikirannya..

X: ahhaa.. gludhag.. semua itu berkat dukungan dari semua pihak [pake gayanya miss indonesia, loh?]

Y: Aku ya wis ngrasa ra penak ki njaluki wong tuwa terus.. Ayo X, kencangkan ikat kepala. Taun depan harus lulus, yuk kerja!.. Amiin Yaa ALLAH

X: Allahumma Amiin.. Amiin Yaa Rabb.. kencangkan ikat kepala, ikat pinggang, let's run! yeee.. mudahkan segala urusan kami, yaa Allah Yang Maha Keren... Bismillah

Y: Asma ALLAH yang baru po Maha Keren ki?

X: ihihiii.. panggilan sayangku tu.. ALLAH Maha Sempurna, itu Kereeeen.. Allah Keren.. ihiy makin cinta dah.. #nakngeyeltakciumlohY :* wakakaka

Y: (speechless..tanpa balasan)


---> X dan Y, unidentified... semoga bisa menjadi pembelajaran :)


“Keep dreaming and make it comes true.”---“Keep dreaming and start action”
LET’S Go!!!! LET’S Run!!

Inspirasi terindah (23 April 2010)

Subhanallah... Lagu ini memang menginspirasi banyak orang. Lagu yang dibawakan oleh Ryan D' Masiv. Lagu yang berjudul 'Jangan Menyerah'. Aku duduk di sini, sendiri. Awalnya aku sibuk dengan sesuatu, membaca. Kemudian aku mendengar ada petikan gitar, yang mengalunkan lagu yang tak asing bagiku. Yap, jangan menyerahnya d'masiv. Petikannya enak untuk didengar. Lagu itulah yang mengalihkanku dari buku yang ku pegang. Kemudian mataku mencari sumber suara yang menyanyikan lagu itu, yang aku bisa pastikan yang menyayi bukanlah Ryan d'masiv seperti biasanya. Ini tak kalah bagusnya dengan suara Ryan (karna aku sendiri tak pandai bernyanyi). Lalu aku melihat siapa yang menyanyi, akhirnya aku menemukannya, ia duduk di depanku, dan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, ia bukanlah orang biasa. Ia sungguh luar biasa. Ia duduk di bangku yang sudah disediakan khusus untuknya. Kemudian ia memetik senar-senar gitar, dan menyanyikan 'jangan menyerah'. Ada yang berbeda dalam dirinya. Percayalah bahwa ia tak memiliki kedua tangan. Ia memainkan gitarnya menggunakan kaki.
Setelah ia selesai memainkan gitarnya, aku baru tahu bahwa ia adalah seorang 'gitaris tanpa tangan'. Asalnya dari Wonosobo. Ia mempunyai julukan 'Aceng Si Buntung dari lereng Dieng'. Ia mencritakan kisahnya, bagaimana bisa menjadi seorang gitaris, walau tanpa tangan. Ia bukannya belajar di tempat khusus, yang mengajarkan orang-orang yang memiliki kebutuhan khsusus. Ia belajar sendiri. Awalnya teman-teman sekampungnya, manyangsikan Aceng dapat bermain gitar. Tapi, Aceng mempunyai semangat yang tinggi. Semangat inilah yang tak dimiliki yang lain. Aceng kemudian meminjam gitar temannya. Ia belajar di rumah. Setiap ia berkumpul dengan teman-temannya, Aceng memperhatikan teman-temannya yang sedang bermain gitar. Kemudian ia bertanya, tentang kunci-kunci yang teman-temannya mainkan tadi. Setelah itu Aceng pulang ke rumah, dan ia belajar sendiri. Ia juga belajar dari teman-temannya yang lain, yang juga kurang beruntung bahwa ia tak seharusnya putus asa atas apa yang sedang ia alami, dan ia harus tetap menjalankan hidup yang masih ada dihadapnya. Life must go on...

Aku belajar darinya, bahwa hidup tak seharusnya disesali.. Harus tetap dijalani, hidup memang seharusnya disyukuri.

Kemudian aku tak melihat Aceng lagi, karena aku mematikan TV yang kulihat. Aku mulai mengantuk dan akupun tidur.
hahahaha... ^_^