Tampilkan postingan dengan label Quote. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Quote. Tampilkan semua postingan

Aku & Partner


Semenjak kau datang pada malam gerimis itu dan membawa amplop bertuliskan namamu, aku berubah menjadi sosok yang ‘sok’ paling nelangsa. Kubiarkan perasaan paling nelangsaku hanya semalam. Keesokannya, aku mulai bangkit dan bukannya tidak mau peduli lagi padamu, aku masih akan tetap peduli padamu sebagai kawan baikku. Kuterima niat baikmu mengundangku ke moment terindahmu bersama Siti. Dulu, sempat kau tanyakan padaku, apa yang akan aku lakukan, tanpamu. Hari ini, detik ini aku sudah punya jawaban untuk itu. Aku akan melanjutkan hidupku, meski tanpamu. Ya, aku bersedia datang dengan membawa doa terbaik agar kebahagiaan selalu melingkupimu. Aku bawa seseorang yang tentu juga kau kenal dengan baik, agar aku tak terlihat terlalu kesepian. Kusiapkan sebuah kado terbaik kemudian kububuhkan ucapan singkat agar kalian bahagia dan selalu dilingkupi kasih Tuhan.

Dulu pernah kutulis sebuah surat untukmu yang kemudian kau kembalikan karena kau malas membacanya dan memintaku untuk berbicara langsung. Seandainya kamu mengenalku sebaik aku mengenalmu dulu, bahwa aku tak pandai berbicara sepertimu. Kutulis sebuah surat panjang melalui dinding buku mayaku agar kau tak tertarik membacanya. Aku tahu betul bahwa kau bukan pembaca yang baik. Kau pernah bilang bahwa alasanmu ‘menyukai’ status pendek pada sosial mediaku daripada catatan-catatan panjang yang kutulis di sana adalah karena kau tak pernah membaca catatan tersebut. Ya, kamu tidak menyukai membaca catatanku yang panjang. Kali ini aku sengaja membuat catatan panjang ini, agar kamu tidak tertarik membukanya apalagi membacanya.

Selalu kusimpan rasa sesal setiap kali aku memikirkanmu. Aku tidak begitu paham dengan semua sikap sederhanamu namun selalu membuatku takjub. Niat baikmu mengundangku hampir membuatku lupa bahwa perasaanku ini tidak boleh berjalan terlampau jauh. Dulu seringkali aku tertarik terlalu dalam hingga aku tak sadar, segala hal menarik dan menakjubkan darimu telah membuatku tak sengaja jatuh cinta pada kawan baikku.

Terakhir. Sungguh aku tak akan tinggal terlalu lama pada rindu yang tak benar ini. Selepas ini, aku berjanji akan jatuh cinta dengan cara yang benar. Rahasia ya.



...Ketika ku mendengar bahwa kini kau tak lagi dengannya, dalam benakku timbul tanya Masihkah ada dia di hatimu bertahta atau ini saat bagiku untuk singgah di hatimu. Namun, siapkah kau tuk jatuh cinta lagi?... Meski bibir ini tak berkata bukan berarti kutak merasa ada yang berbeda di antara kita. Dan tak mungkin ku melewatkanmu hanya karena diriku tak mampu untuk bicara bahwa aku inginkan kau ada di hidupku. [HiVi - Siapkah Kau Tuk Jatuh Cinta Lagi ]




Note: Cerita ini hanya fiksi. Label nama wedding invitation ditulis sesuai request saya, alasannya sama, agar saya tidak terlihat terlalu kesepian. Haha. Tragis.

Pelajaran Episode Final Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo



#scarletheart punya tokoh utama bernama Hae Soo. Hae Soo menghabiskan hidupnya terjebak di antara 6 pria berkuasa dan punya ambisi berkuasa. 4 pria di antaranya tertarik padanya. Drama ini menunjukkan bahwa, perasaan manusia bisa saja berubah. Drama yang sejak awal dikemas jenaka bercampur sendu, pada episode final dibuat tragis oleh penulis dan tentu Sang Sutradara. Banyak yang menanti-nanti pada siapa Hae Soo akan menghabiskan sisa hidupnya, dan bagaimana ending drama tsb, setelah dapat spoiler dan ada yang menonton terlebih dahulu kemudian bilang, "Sudah, gak usah ditonton. Mengecewakan." Bagi saya, "mbok yo woles wae gaes". Karena drama memang harusnya berhenti dan cukup pada episode 20 saja tidak perlu terlalu panjang. Ya meskipun ada yang berpendapat, mengecewakan. Woles wae gaes, karena hidup sebenarnya bisa saja seperti cerita #scarletheart . Hidup kemudian mati. Bertemu kemudian menikah. Bertemu kemudian bisa juga berpisah. Yang dideketin siapa kemudian yang dinikahin siapa *eh. Seandainya kita menginginkan atau mengharapkan ending seperti apa, bisa kita jelaskan atau bilang langsung sama Sang Sutradara. Ya kayak berdoa. Kita mau sesuatu, kita bilang sama Tuhan. Ceritakan, Rinci, dan tentu dengan etika. Setelah bilang dan berdoa, itu sudah bukan urusan kita lagi. Karena Sang Sutradaralah yang menentukan. Kalau itu sesuai dengan harapan kita. Syukur. Jika tidak dan justru mengecewakan. Jangan hujat. Jangan nggak sopan lalu mengata-nga't**'. Syukuri lalu ambil pelajaran. Hidup tentu tidak berhenti hanya karena menunggu kita menangis tersedu-sedu dan menyalahkan Sang Sutradara. Hidup terus berjalan. Kita hanyalah penonton bagi kehidupan orang lain dan lakon pada takdir kehidupan masing-masing.


Sekian.

Moonlight

Sebuah surat rahasia yang baru dapat terbaca dengan cara yang rahasia. Sebuah surat yang tampak hanya seperti lembar kosong tanpa tulisan apapun. Sebuah surat dari Raja Seojo kepada Permaisuri Park.

"Permaisuri Park, setengah dari diriku berharap kau akan membaca surat ini. Setengah lainnya berharap agar kau tidak akan pernah tahu.
Aku seorang raja yang tidak berkompeten, suami yang tidak berdaya dan ayah yang lemah hatinya. Aku mohon maaf karena sudah mengekspresikan perasaanku dengan cara seperti ini."

Ada saat dimana kita ingin mengungkapkan sesuatu agar orang lain mengetahui perasaan kita, mengetahui apa yang kita inginkan. Juga ada saat dimana kita ingin merahasiakan perasaan kita agar tak satupun mengetahui sesuatu dari kita. Harapan agar orang lain mengetahui perasaan kita selama ini adalah datang ketika kita berpikir bahwa "sebelum semua ini terlambat, setidaknya sebelum aku pergi meninggalkan dunia ini, orang tersebut mengetahui perasaanku."  Sedang kita ingin menutup rapat-rapat rahasia perasaan kita, dan tidak membiarkan tak seorangpun mengetahuinya karena begitu lemahnya kita, begitu tak sebandingnya kita pada cinta yang sempurna tersebut. Karena kita merasa begitu banyak kekurangan untuk dapat bersanding dan berhak mendapatkan cinta yang sempurna tersebut.


Di satu sisi, kita ingin mengungkapkannya karena ingin menunjukkan rasa cinta yang begitu besar yang kita miliki. Di sisi lain, kita ingin merahasiakannya karena begitu tak berdayanya kita pada cinta tersebut. Takut disepelekan. Takut ditertawakan. Takut bertepuk sebelah tangan.

Kultum 10 Juni 2016



Kebetulan kultum ramadhan kelima disampaikan oleh seorang ustad yang gokul dan jenaka. Hobinya 'ndhagel' kalau bahasa Jawanya. Kalau dilihat dari cara menyampaikan materi dan penampilannya, Beliau ada orang seni. Gelarnya S.Sn soalnya, ^^v

kultum yang bukan kultum, tapi tiga puluh menit menjadi tidak terasa karena Beliau ndhagel dan ndhalang.

Dari ayat Al Baqarah 183, beliau uraikan dengan jenaka selama kurang lebih tiga puluh menit.


Bahwa diwajibkan atas kita untuk berpuasa agar kita bertaqwa.

Allah saking sayange mbek dhewe, 1) turune wong pasa wae dinilai ibadah, 2) abab-e wong pasa wae mambu suwarga. Nanging, 1) turune sing ngerti wayah. Ora njuk turu saka esuk nganti tekan buka. 2) Gusti Allah saking tresnane, samambu-mambune ababe wong pasa, Gusti Allah bakal maringi ganjaran. Yen wong wis tresnan ya kaya ngana kuwi, arep mambune a=kaya apa ya tetep tresna. Tapi njuk aja kancamu sing nang cedhakmu mbok ababi hah hoh hah hoh.


Kita ibadah puasa di bulan ramadhan itu ibarat kita tidak akan bertemu ramadhan di tahun berikutnya. Yen wong nduwe gawe wae, di tanggapke campur sarian live, wayangan live, lha kok ngaji malah distelke pelesdissss ['flasdisk']. Ya kudune ngaji ki ya suarane dhewe..


penutup ceramah 30 menit: "Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat"


Maka, berkatalah yang baik dan bermanfaat, jika tidak maka diam........[tiba-tiba diam... lama... lama sekali....hening] ustadnya mematung, jamaahnya ngguyu. Ustadnya jenaka sekali.

[Cermin] Runningman 188

Suatu kali saya menyadari bahwa hidup bagi orang lain tak semudah kelihatannya. Momen ini saya dapatkan setelah berkali-kali nonton Runningman episode 188.
Dimana bintang tamu saat itu adalah Bi Rain dan Kim Woo Bin. Yang menarik perhatian saya adalah tingkah Tuan Kim yang sangat berbeda dari peran yang selalu ia mainkan di drama. Kim yang bad boy dan selengekan ternyata wujud aslinya adalah Tuan Kim yang sangat hangat dan pemalu di kehidupan pergaulannya.
Pada episode itu Tuan Kim berpasangan dengan Tuan Yoo, setelah melewati berbagai macam tantangan tibalah saatnya mereka melakukan perjalanan pencarian seekor Koala bernama “Keeley” di sebuah kebun binatang penuh dengan koala yang segedhe huhah. Berbekal sebuah foto, mereka berdua harus bisa menemukan Koala bernama “Keeley” sehingga misi bisa dianggap berhasil [*tolong bunuh saja aku]. Saat diperjalanan, ada celetukan Tuan Kim yang bisa jadi bahan renungan.  Tuan Kim melemparkan pernyataan pada Tuan Yoo, “Aku selama ini tidak pernah tahu tentang diriku, tetapi berada di Runningman membuatku tersadar akan sesuatu. Aku rasa semua yang kita lakukan mungkin terlihat sangat mudah bagi pemirsa di luar sana, karena semuanya juga terlihat sangat mudah bagiku saat aku hanya melihatnya di TV.”

Ya, Kita sering menyaksikan keberhasilan orang lain diraih ‘nampak’ dengan sangat mudah. Tidak, jika kamu melihatnya lebih dekat. Mendekatlah.
Dari jauh akan tampak: Tamat SMA tak perlu menunggu lama, langsung lulus SNMPTN, Kuliah, lulus 4 tahun, kemudian beberapa orang melemparkan pertanyaan, “Kok cepet?” atau sama dengan “Cepet ya?” yang lebih kepada pernyataan meragukan  “Kok ndang lulus?”, yang tampak adalah seorang mahasiswa berasal dari keluarga yang berkecukupan secara ekonomi, sehingga mudah saja bisa kuliah. Yang tampak adalah seorang mahasiswa yang tidak perlu bekerja untuk memenuhi kebutuhannya karena sudah ada yang ‘mbayari’ kuliahnya, dan kewajibannya hanyalah belajar sehingga wajar saja lulus kuliah 4 tahun.
Itu tidak semudah kelihatannya, Bu. Mendekatlah lebih dekat atau Ibu perlu mengalaminya supaya Ibu mengerti.
Dari dekat akan tampak: sebelum lulus SMA, siswa yang calon mahasiswa ini tidak cukup pandai di kelasnya sehingga ia sering belajar dengan SKS (Sistem Kebut Semalam), besoknya ujian ya malamnya belajar ringkasan-ringkasan yang sudah di’sela’ke ia buat jauh sebelum hari ujian. Kemari, lebih dekat lagi Bu. Semasa SMA dan duduk dibangku kelas 3, siswa ini jadi hobi sholat dhuha (ah, ternyata ada maunya..) harapannya adalah agar semua dimudahkan oleh Tuhan. Saat ujian, setiap malam ia bangun buat berdoa sama Tuhannya. Doanya apapun. Sebelum hari pengumuman kelulusan, siswa ini harus berperang batin dan kepandaian dengan siswa SMA sejagad untuk bisa kuliah. Siswa ini tidak cukup pandai untuk bisa masuk ke salah satu perguruan tinggi yang jadi impiannya. Tidak percaya? Ya, Kuliahnya yang 4 tahun lulus itu adalah sebenarnya pelariannya yang justru menjadi takdirnya. Selama masa kuliah 2 tahun, siswa yang sudah menjadi mahasiswa ini mencoba tes SNMPTN dua kali, dan dua kali gagal. Begitulah takdirnya membawanya hingga lulus kuliah 4 tahun. Selama masa membuat skripsi, siswa yang telah menjadi mahasiswa tingkat akhir ini sibuk cari acara di kampus dan bekerja. Supaya kalau ada acara ia bisa menghemat makanan sehari-harinya, Bekerja supaya dia bisa bayar biaya kos, buku, ngeprint, dan nraktir temen-temennya kalau dia ulang tahun. Di akhir penulisan tugas akhirnya, mahasiswa ini diterpa kemalangan yang tak seorangpun tahu. Singkat cerita bahwa mahasiswa ini kehilangan orang yang mbayari’ kuliahnya karena harus masuk hotel prodeo. Naasnya, orang itulah yang selama ini ia percayai. Meskipun sementara namun sangat menyakitkan prinsip dan idealismenya. Kepergiannya yang ‘jauh’ meninggalkan luka yang mendalam, keterpurukan yang cukup lama, hingga membuat mahasiswa ini menarik diri dari kehidupan sosial. Kepergiannya yang ‘jauh’ meninggalkan tanggung jawab bahwa mahasiswa ini harus lulus secepat mungkin supaya tidak membebani ‘sosok yang sedang pergi jauh dan sedang meninggalkan hutang yang tak terhingga rupiahnya’ menanggung beban kuliahnya lagi. Ya, motivasi terbesarnya supaya cepat lulus adalah ‘hutang’. Biaya kos saat menjelang sidang tak terbayarkan oleh mahasiswa ini, ia memilih nomaden dari satu kos ke kos yang lain. Titik nadir dalam hidupnya ini ia simpan sendiri. Dan segala puji bagi Tuhan, Allah kabulkan permohonannya.
Ini cerita fiktif yang sengaja dibuat supaya orang lain yang hanya melihat hasil, dapat pula melihat proses. Jangan hanya bisa bertanya, “Kerja dimana sekarang?” cobalah bertanya, “Apa kabar?” atau jika kepo tentang pekerjaan seseorang, cobalah mengganti redaksinya, “Sedang sibuk apa sekarang?”
Keterpurukan, kemalangan, dan kenestapaan bisa melanda siapapun. Menunjukkannya kepada orang lain, supaya orang mengasihi bukanlah kejahatan. Atau menyimpannya dan seolah baik-baik saja juga bukan kejahatan. Orang tersebut mungkin hanya butuh waktu, dan seseorang untuk bisa berbagi segalanya. Ya, segalanya.
Selamat berbagi, selamat memahami.

Lain halnya dengan cerita yang dibawa oleh Robin, seorang perempuan sederhana yang punya hobi nolongin temennya. Keluarganya kaya raya, namun hubungan Robin dengan kedua orang tuanya sebatas hubungan formal layaknya seorang anak yang harus menghormati orang yang usianya lebih tua. Robin, yang kaku di rumah, berubah menjadi sangat hangat jika bersama kawan-kawannya. Dari jauh akan tampak: Robin, perempuan cantik dan berasal dari keluarga kaya raya wajar jika punya hobi membantu orang lain, hobi ngutangin kalau kawan-kawannya butuh uang buat bayar kuliah atau beli buku kuliah, hobi beliin makanan buat temennya kalau temennya lebih milih nggak makan buat ngeprint tugas kuliahnya, jadi wajar saja kalau Robin tumbuh menjadi anak yang dermawan karena Robin berasal dari keluarga kaya dan harta berlimpah. Tidak ada yang spesial.

Cobalah mendekat, lihat lebih dekat: Robin yang sesungguhnya adalah perempuan rapuh yang menangis setiap malam karena perlakuan tidak adil kedua orang tuanya. Robin yang setiap malam tidur jam 11 malam, sering masih terjaga hingga jam 2 malam. Pikirannya penuh dengan rencana masa depannya yang selalu melintas ketika ia berada di atas kasur, kenangan-kenangan masa lalu yang sering menjadi intermezo ketika Robin mulai memejamkan mata. Kesulitan tidur yang dialami Robin pada suatu ketika ia atasi dengan mengambil jam dinding di kamarnya dan melepaskan baterainya. Suara detik jarum jam dinding terdengar sangat bising di telinganya ketika ia tidur. Oleh sebab itu, pagi harinya jam itu ia serahkan kepada ayahnya. Ayahnya hanya tahu, bahwa Robin anak tidak tau diuntung yang pemalas dan tidak tau waktu sehingga terlambat bangun untuk melaksanakan sholat subuh. Ayahnya tidak tahu atau tidak mau tahu, masalah yang dialami Robin. Robin sulit tidur karena pikirannya penuh dengan permasalahan yang sedang ia hadapi. Robin yang rapuh, berusaha menjadi perempuan hangat di lingkungannya yang lain. Robin yang sebenarnya tidak terlalu kaya, karena sebenarnya keluarganya tidak sekaya orang lain lihat. Demi sebuah rumah mewah, hutang keluarganya hingga ratusan juta. Robin menghemat untuk biaya makan di kos, namun Robin tidak sungkan untuk membantu kawannya karena Robin tidak menampakkan kalau dia sedang nelangsa. Nelangsa senelangsa sesungguhnya.




Sebuah Kapal


Sebuah kapal terdampar.
di sebuah pulau tak berpenghuni.
dengan dua awak kapal.
Bertahan hidup.
Dari hempasan badai di tengah laut.

Satu...dua..hari bertahan dengan bahan makanan seadanya.
Mereka berdua memperbaiki kapal mereka.
Untuk kembali ke rumah mereka.
Kapal itulah kendaraan terakhir harapan mereka.

Akhirnya, jadilah kapal gagah mereka.
Yang akan membawa mereka kembali mengarungi kejamnya kehidupan di atas perairan mahaluas.
Mereka berdua bertekad akan melindungi satu sama lain.
Mereka berdua bersiap mempersiapkan segala yang diperlukan.
Mereka berdoa memohon keselamatan bagi keduanya.

Berangkatlah mereka berdua.
Momen-momen kecil namun berharga, mereka berdua lewati bersama.
Mungkin tanpa mereka sadari membuat mereka saling bergantung satu sama lain.
Suatu malam datanglah badai di tengah laut.
Badai yang sama yang pernah melumpuhkan kapal mereka.
Mereka yang pernah jatuh, kemudian bangkit lagi, tidak akan membiarkan hal yang sama menjatuhkan mereka kembali.
Mereka berupaya keras, menghadapi tantangan rintangan di depan mata mereka.

Terhanyutlah salah seorang dari mereka berdua.
Salah seorang lagi sedang bertarung melawan badai menjalankan dan berupaya mempertahankan kapal.
Kawannya tertelan kuatnya gelombang laut, derasnya hujan malam itu, kencangnya angin malam itu.
Di depan matanya.
Ia tidak bisa berbuat apa.
Keringatnya mengucur deras.
Ia tidak bisa menangis.
Ketakutan sesungguhnya yang sekarang ia hadapi ada di depan matanya.
Menyaksikan kawannya jatuh, namun ia tak bisa melakukan apapun.
Untuk menyelamatkannya.
Ia sedang memegang kendali mimpi mereka berdua.
Ia bertahan hidup.
Membawa kembali perahu mereka dengan selamat.

Ketakutan sesungguhnya baginya adalah ketika ia tidak bisa menangis namun justru membuatnya gagu dan membuat sekujur tubuhnya bergetar tak terkendali.
Tangannya tak mampu menggapai kawannya.
Untuk menyelamatkannya.

Berakhir sudah badai malam itu.
Kini, ia hanya seorang diri.
Kata siapa dia seorang diri?
Hanya kata orang yang melihatnya dari jauh.
Mendekatlah.
Tuhan, ada di hatinya.
Tuhan, ada lebih dekat dari urat nadinya.
Tuhan mendengar doanya.
Tuhan melihat upayanya.
Tuhan mengabulkan mimpinya.
Dengan cara berbeda.

Tuhan tahu apa yang dilakukannya.
Karena Ia dekat.
Manusia tidak tahu apa yang diupayakannya.
Karena manusia melihat dari jauh.

Dari jauh, tampak seperti titik tak bermakna.
Dari dekat, titik tak bermakna berubah menjadi anugerah yang tak ternilai harganya.
Kapal sudah berlabuh kembali menuju ke rumahnya.

Ia hanya meyakini bahwa ketika ada jatuh maka selalu ada bangkit di langkah berikutnya, jatuh ya bangkit, jatuh kemudian ya bangkit lagi.
Begitu seterusnya.
Siklus yang tidak boleh habis di’jatuh’, meski harus berulang beberapa kali.

[play] Never Say Never - Justin Bibier ft Jaden Smith 
See I never thought that I could walk through fire
I never thought that I could take the burn
I never had the strength to take it higher
Until I reached the point of no return
And there's just no turning back
When your heart's under attack
Gonna give everything I have
It's my destiny
 
I will never say never! (I will fight)
I will fight till forever! (make it right)
Whenever you knock me down
I will not stay on the ground
Pick it up
And never say never
I never thought that I could feel this power
I never thought that I could feel this free
I'm strong enough to climb the highest tower
And I'm fast enough to run across the sea
And there's just no turning back
When your heart's under attack
Gonna give everything I have
'cause this is my destiny
 
I will never say never! (I will fight)
I will fight till forever! (make it right)
Whenever you knock me down
I will not stay on the ground
Pick it up, And never say never

I will never say never! (never say it, never, never say it) (I will fight)
I will fight till forever! (OK) (make it right)
Whenever you knock me down
I will not stay on the ground
Pick it up, And never say never

Happy Ending

Lee Min Suk, anak SMA berusia 18 tahun, yang jatuh cinta dengan eonni yang usianya 28 tahun. Di penghujung masanya duduk di bangku SMA, dia melamar eonni dengan popcorn segede kantong. Konon katanya, dia nggak bisa beli cincin buat melamar, jadi sesuatu yang lain yang lebih disukai eonni dibandingkan cincin adalah popcorn. Dibawanya popcorn sekantong buat melamar eonni. *dasar kelakuan anak SMA *toyor Seo In Guk


Min Suk: "Setelah kupikirkan, kau mungkin benar. kau akan menghambat masa depanku. Namun, tidak peduli masalah apa yang akan kuhadapi nanti, aku hanya ingin tetap bersamamu.. sampai mati.."

nyodorin popcorn, sambil bilang "Narang gyulhon hae joolaeyo?"

---tetiba popcorn sekantong diambil sama si eonni---


3 tahun kemudian..

Min Suk: "istriku, kau sudah tua.." *ngledek ni anak

eonni: "kenapa kau selalu bercanda dengan umurku? Kau pasti bahagia karena kau masih muda."

Min Suk: "Hei, aku sangat mencintaimu. Jantungku berdebar kencang." *natap serius*

eonni: "aku tidak percaya."

Min Suk: "Hei, bagaimana bisa kau meragukan hati suamimu seperti ini?"

"Aku tergila-gila padamu, Jung Soo Young. Aku bisa mati karenamu. Setiap hari, setiap pagi aku jatuh cinta padamu setiap kali aku melihatmu.. Lagi dan lagi... Eonni popcorn-ku.. sahabatku.. istriku... cintaku.. sayangku... Terimakasih banyak telah menikah denganku.. "



"Maybe destiny is not something for someone who sits and waits for a chance. A real destiny comes like a gift that is given to me. When i look for and dare to choose. Then it comes to me. So I with someone I dared to choose as my destiny will do my best loving and living with him." [Jung Soo Young]

-Happy ending di episode 17-
King of High School

Be What You Wanna Be

[Darin]

Doctor, actor, lawyer or a singer
Why not president, be a dreamer
You can be just the one you wanna be
Police man, fire fighter or a post man
Why not something like your old man
You can be just the one you wanna be

I know that we all got one thing
That we all share together
We got that one nice dream
We live for
You never know what life could bring
Because nothing last for ever
Just hold on to the team
You play for
I know you could reach the top
Make sure that you won’t stop
Be the one that you wanna be

Doctor, actor, lawyer or a singer
Why not president, be a dreamer
You can be just the one you wanna be
Police man, fire fighter or a post man
Why not something like your old man
You can be just the one you wanna be

We may have different ways to think
But it doesn’t really matter
We all caught up in the steam of this life
Focus on every little thing
That’s what does really matter
Luxury cars and bling, that's not real life


Nak, kamu bukanlah apa kata orang, kamu adalah dirimu sendiri. Kamu berharga, meski kata orang tanpa prestasi. Kelahiranmu di dunia inilah yang membuatmu tak ternilai harganya. Ibu hanya ingin berpesan, ini tentang lagu yang pernah ibu dengar ketika ibu beranjak dewasa. Lagu yang ibu kenal lewat seorang kawan baik ibu di perantauan. Ibu berjanji tak akan pernah melarangmu menjadi apapun yang kamu inginkan. Ketika ibu sakit, dan ayahmu mengantar ibu ke dokter, kamu berujar ingin menjadi dokter. Ketika kamu menonton film kartun kesukaanmu, kamu bilang kamu ingin menjadi seperti Elsa (*Frozen). Ketika kamu melihat ayahmu memakai seragam di tengah libur panjangmu merayakan lebaran bersama ibu, ayahmu justru selalu terjaga hingga malam demi melihat orang lain selamat hingga sampai di kampung halamannya, kamu bilang kamu ingin menjadi seperti yang ayah lakukan. Ketika kamu melihat ibu bercerita, bersendau gurau, belajar bersama-sama kawan-kawanmu di kelas kecil di rumah kita, kamu bilang kamu ingin menjadi seperti ibu. Ketika kamu melihat kakak dari kawan sepermainanmu, yang setiap hari Jumat bisa kamu lihat di televisi usang kita, kemudian kamu melihat dia pulang dengan membawa kendaraan mewah, memperbaiki rumah kawanmu itu menjadi seperti istana, dan mengirim kedua orang tua kawanmu itu pergi dengan berpakaian serba putih suci, kamu bilang ingin menjadi seperti dia. Ibu tidak ingin meminta banyak, ibu hanya berpesan, bahwa apapun yang kamu inginkan, dokter, aktor, polisi, pemadam kebaran, hakim, pengacara, guru, penyanyi, arsitek, astoronot, insinyur, atlet, atau presiden, sadarilah bahwa apapun pekerjaan itu, pasti akan selalu ada tantangan yang siap menghadang di depannya. Maka, jangan menyerah! Jika kamu mencari tahu tentang bagaimana kondisi negeri ini saat ibu menulis ini, kamu akan menyadari bahwa masa lalu seseorang itu penting bagi orang lain. Seberapapun kelamnya masa lalu yang ingin kamu lupakan dan ingin kamu perbaiki di masa depan, namun ketika orang lain mulai menyukai mencampuri urusanmu, dia akan berusaha mati-matian mengetahui segalanya, termasuk masa lalumu itu. Maka, jadikan setiap perjalananmu itu bersinar meski kamu harus jungkir balik. Tidak akan ada yang mampu merobohkanmu. Kamu harus menyadari bahwa perjalananmu bersinar bukan semata karena usahamu, tetapi ada campur tangan Tuhanmu. Jika kamu sedang bersaing dengan orang lain, jangan pernah menyakiti dan membuka aibnya di mata orang lain. Karena sesungguhnya aibmu pun sedang Tuhanmu tutupi. Cintailah, bahagialah. Jadilah apapun yang kamu impikan, lakukan dengan bahagia, bahagia dengan tidak menyakiti dirimu sendiri Nak, dan juga tidak menyakiti orang lain.

Best Scene [Angel Eyes: 11]

Park Dong Joo: 12 tahun yang lalu, ada anak SMA jelek melihatmu di sini. Waktu itu, akan sangat menyenangkan jika memiliki kekasih yang cantik, itulah yang kupikirkan dulu. Dan sekarang, gadis cantik itu akan lebih baik jika menungguku di rumah. (Jeda) Aku tidak mau kesepian. Tidak peduli seberapa kerasnya, ketika aku memikirkan bila ada dia yang sedang menungguku, aku tidak akan kesepian lagi. Aku akan berjuang semampuku untuknya.
Aku tidak bisa berjanji aku akan membuatmu menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini. Aku juga tidak bisa berjanji aku tidak akan berubah hati pada orang lain, tapi... Cintaku telah tumbuh lebih dari 12 tahun yang lalu, aku akan terus membiarkannya tumbuh, aku akan membuatnya lebih kuat. Selama aku masih hidup, aku berjanji kau akan menjadi orang yang paling berharga di dalam hidupku. 
Soo Wan, Yoon Soo Wan, maukah kau menjadi bagian dari keluarga Park Dong Joo?


Yoon Soo Wan: Aku akan berada di rumahmu. Aku akan menunggumu setiap hari.... :’)
[Angel Eyes episode 11]









Yes You



if i had to live my life without you near me

The days would all be empty
the nights would seem so long 
with you i see forever oh so clearly

i might have been in love before 

but it never felt this strong, 

our dreams are young and we both know 
they'll take us where we want to go, 
hold me now, touch me now


i don't want to live without you... 


nothing's gonna change my love for you,
you ought to know by now how much i love you
one thing you can be sure of 
i'll never ask for more than your love 

nothing's gonna change my love for you 
you ought to know by now how much i love you 
the world may change my whole life through but, nothing's gonna change my love for you 

If the road ahead is not so easy, 
our love will lead the way for us, like a guiding star, 
i'll be there for you if you should need me, 
you don't have to change a thing, i love you just the way you are... 
so come with me and share the view.. 
i'll help you see forever too 
hold me now, touch me now 

i don't want to live without you...

nothing's gonna change my love for you,
you ought to know by now how much i love you
one thing you can be sure of
i'll never ask for more than your love

nothing's gonna change my love for you 
you ought to know by now how much i love you 
the world may change my whole life through but, nothing's gonna change my love for you 

nothing's gonna change my love for you,
you ought to know by now how much i love you
one thing you can be sure of
i'll never ask for more than your love


nothing's gonna change my love for you
you ought to know by now how much i love you 
the world may change my whole life through but, nothing's gonna change my love for you 

nothing's gonna change my love for you, 
you ought to know by now how much i love you 
one thing you can be sure of 
i'll never ask for more than your love 

nothing's gonna change my love for you 
you ought to know by now how much i love you 
the world may change my whole life through but, nothing's gonna change my love for you

[Airsupply - Nothing's gonna change my love for you]

will you be my sweetest groom? jangan lupa nyanyikan di pernikahan kita, ah iya :D



hey you, yes you...
kau yang selalu kunanti.

tuan berbudi baik, maukah kau memahami kisahku.

Kau yang begitu dinanti oleh ibuku. Terkadang lelah menyuruhku menyerah. Ini bukan menyerah, hanya duduk sebentar di tepian, dan menyeka peluhku meski tak sampai kering. kemudian aku bangkit lagi, melanjutkan separuh perjalanan yang tertinggal.. Ya, aku ingin segera menemukanmu. Ingin segera menemuimu. Mari kita berbagi cerita. ya, cerita yang kadang tak tersampaikan pada siapapun yang kemudian membuatku pura-pura lupa. Maukah kamu menjadi tempat berbagi itu? Mari kita berbagi suka, waktu yang terlewatkan tak bersamamu aku akan menggantinya dengan sisa usiaku. Mari kita berbagi duka, yang terlalu sering kusimpan dalam hati dan dalam folder komputer kecilku. Mari kita saling berbagi rencana kehidupan kita, keinginan, harapan, mimpi, cita-cita, dan cinta kita. Mari bagi denganku, pekerjaan yang kadang mungkin membuatmu lelah, membuatmu bosan. Mari bagi denganku, semua beban di pundakmu, di dadamu. Genggam tangaku, dan kita akan berjalan tangguh jika bersama, kita akan lebih kuat jika bersama.

Kamu tidak perlu membawakan tasku, tak perlu membawakan bukuku, tak perlu membawakan barang belanjaku, tak perlu membawakan sekarton air mineral yang sering kupikul sendiri, tak perlu membawakanku segalon air mineral, tak perlu membawakanku seember cucian kotor. Aku tak perlu semua itu untuk kau bawakan, karena aku bisa melakukannya sendiri. Yang tidak bisa aku lakukan sendiri, adalah mencintai. Dan yang dapat melakukannya hanyalah dirimu, yes you. Kamulah yang menyimpan kosakata 'saling' sehingga kita bisa saling mencintai. Kosakata 'saling' baru bisa dilakukan jika itu dilakukan oleh dua orang, dan itu adalah kita berdua.

Jika banyak keinginanmu yang tak bisa kamu bendung, maka berpuasalah. Dari sini aku selalu berdoa untukmu supaya kamu tidak salah arah ataupun lupa arah jalan untuk bertemu tulang rusukmu. Ridha mamah adalah ridha Allah, insya Allah. Ridha bapak, juga ridha Allah insya Allah. Kau yang selalu mencintai ayah dan ibumu, aku siap untuk berbakti pada mereka, dan aku siap untuk berbakti padamu, aku siap untuk mencintaimu, aku siap untuk menghabiskan sisa usiaku bersamamu, aku siap mengabdi untukmu, aku siap menjadi bidadarimu di surgaNya nanti.

Dimanakah kamu? Kau adalah misteri yang tak mampu dipecahkan teknologi secanggih apapun. Kamu adalah rahasiaNya. Teknologi gps, google map tak akan sanggup memecahkannya. Jadi untuk apa kita bergantung pada teknologi dan manusia untuk bisa mempertemukan kita, kita hanya perlu Dia. Jika kamu mencintai Dia, dan akupun mencintai Dia, selanjutnya kita hanya perlu percaya bahwa cinta segitiga kita ini mampu mempertemukan kita berdua. Just believe it :)

Kepadamu, aku menyimpan cemburu dalam harapan yang tertumpuk oleh sesak dipenuhi keinginan untuk segera bertemu.Jangan lupa untuk bertemu denganku sebelum usiaku 24 tahun, di 8 November 2014 ya :)

After all, Allah is the Best Designer. If something is meant to be, it will happen. With the right person, at the right circumstances, and for the best reason which answered your questions. So there is no need to rush. Experiences gives you lessons in life. When you think your life is miserable, take time alone and pray; there is something to be thankful everyday. Working on your relationship with Allah swt and willing to be a better person. Everything happens for a reason. Man Jadda Wa jadda. (Quote of Mrs. Dude)


Dia indah meretas gundah, dia yang selama ini kunanti..
membawa sejuk, memanja rasa, dia yang selalu ada untukku..

di dekatnya aku lebih tenang,
bersamanya jalan lebih terang...

tetaplah bersamaku jadi teman hidupku
berdua kita hadapi dunia 
kau milikku, ku milikmu, kita satukan tuju... 
bersama arungi derasnya waktu, 
kau milikku, ku milikmu, 
kau milikku, ku milikmu, 

Bila di depan nanti, banyak cobaan untuk kisah cinta kita, 
jangan cepat menyerah, kau punya aku, ku punya kamu... selamanya akan begitu... 

tetaplah bersamaku, jadi teman hidupku 
berdua kita hadapi dunia 

kau jiwa yang selalu aku puja

[Tulus-teman hidup]

and i wanna sing this song... for you, yes you.. aha, yes you
yes, and i wanna be your sweetest bride
:D

Run To You

Go Hye Son yang punya Angel Eyes, bener-bener bisa bikin hati porak poranda, jungkir balik bungge jumping sejak episode awal.. guling gulig nangis, tapi nagih bikin addicted.. oh my Godness *ala hubae
dan akhirnya jjjjajaaaang... nemu beberapa soundtracknya yang juga bikin nangis sendu mellow ala yuni shara.. Judulnya "Run To You"


[Run To You]
Artist: Lasse Lindh
Original Soundtrack - Angel Eyes



With you... Everything seems so easy
With you... My heartbeat has found its rhythm
With you... I'm so close to finding my home

With you... I don't care if I´m a little bit crazy
Cause with you nothing's wrong

I was broken, I was wasted
Then you came like an angel in the rain
Love used to slip trough me like waters slips trough hands
But with you it changed I know, I feel I am closer to your heart.

I am run run running to you
And I'll keep you safe forever
Through the tears,
trough the love and all the nights we share
I am run run running to you
And I'll keep you safe forever
Don't you know my love,
don't you know two hearts can beat as one?

Love used to slip trough me like water slips trough hands but no more
No more lonely nights, no more, no more
So come on, come on, hold on, hold on, hold on

I am run run running to you
And I'll keep you safe forever
Through the tears,
trough the love and all the nights we share
I am run-run-running to you
And I'll keep you safe forever
Don't you know my love,
don't you know two hearts can...
I am run run running to you
And I'll keep you safe forever
Through the tears,
trough the love and all the nights we share
I am run run running to you
And I'll keep you safe forever
Don't you know two hearts can beat as one?

Cinta Megah

Beberapa hari yang lalu saya pulang ke kampung halaman saya menggunakan kereta. Kereta yang saya tumpangi terkenal dengan rendah hati dan lapang dadanya yang luar biasa. Ya, Prameks. dengan uang duabelas ribu kita bisa menumpang dari ujung Balapan hingga ujung Kutoarjo, rendah hati sekali dia. Lapang dadanya adalah dia satu satunya kereta yang nggak pernah protes apabila harus didahului oleh kereta lainnya yang lebih mewah. Menunggu di salah satu stasiun hingga dilewati empat keretapun, prameks bisa sangat lapang dada.. :D back to topic. Hari itu saya sengaja duduk di gerbong biasa, bukan gerbong khusus perempuan tempat favorit saya. Toh, hari itu bukan weekend yang biasanya digunakan untuk mudik para perantau, yang menyebabkan kereta penuh sesak. Oke, saya dapat tempat duduk. Hingga stasiun Purwosari, samping kanan kiri kosong tidak ada yang menempati. Saya sengaja duduk di bagian tengah yang tidak terlalu pinggir, tepat di samping sandaran. Di stasiun Purwosari sebelah kanan saya duduk seorang ibu muda bersama dua anaknya, yang satu rombongan dengan suaminya yang menggendong anak paling kecilnya tetapi duduk di seberangnya. Sejak saat itu, saya mulai memperhatikan tiga anak kecil yang sibuk melakukan banyak hal. Bertanya, tertawa, bermain gadget, bermain boneka masha and the bear dan banyak hal lainnya. Saya cuma memperhatikan mereka. Hingga sampai di stasiun lempuyangan, tiga bapak-bapak di samping kiri suami ibu itu turun, dan ibu beserta dua anaknya pindah ke samping bapak tersebut untuk berkumpul menjadi satu. Lengkap, seorang bapak, ibu, anak perempuan yang paling besar, anak laki-laki, dan anak perempuan paling kecil. Samping kanan saya kosong dan ditempati oleh dua orang laki-laki muda ala smash. Ah, saya tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan. Gesturnya agak mencurigakan :D

Sejak dari lempuyangan itu, saya menyaksikan pemandangan penuh cinta yang begitu megah. Kedua anak perempuan itu sibuk bermain boneka Masha, sedang adik kedua yang laki-laki berkata pada ibunya bahwa dia sangat mengantuk, kelelahan. Kemudian ibu muda itu berkata kepada suaminya untuk menukar adik perempuan yang paling kecil yang sedang di gendong sang ayah dengan adik laki-laki kedua itu. Ibunya menyuruhnya tidur dipangkuan sang ayah, sedang adik terkecilnya berada di pangkuan ibunya. Nampaknya, rasa kantuk itu menular. Hingga membuat kedua anak perempuan itu juga mengantuk dan tertidur. Adik perempuan paling kecil berada di pangkuan sang ibu, sang kakak laki-laki kedua berada di pangkuan sang ayah, dan kakak perempuan tertua tertidur pulas terduduk di antara keduanya. Saya menikmati pemandangan meneduhkan itu. Sang ayah, tidak hanya memangku anak laki-lakinya, meskipun tangan kirinya sedang memainkan gadget untuk menerima telepon, tetapi tangan kanan sang ayah rela untuk digunakan sebagai alas tidur bagi kepala anak perempuannya hingga beberapa jam ke depan sampai tujuan akhir kereta prameks. Beberapa kali sempat sang bapak, meminta bantuan kepada istrinya untuk mengangkatkan kepala anak perempuannya sesekali, untuk meregangkan tangannya yang mungkin membuatnya ngilu, kemudian ia kembali meletakkan tangannya ke posisi semula. Beberapa kali pula, saya melihat sang ayah yang telah mengantongi gadgetnya, mengusap anak laki-laki menggunakan tangan kirinya karena sang anak kelelahan yang menyebabkan ia melongop dan ngeces :D ibu dan bapak itu saling menatap dan tersenyum menggoda.

Entahlah apa yang sedang saya pikirkan, barangkali cinta itu bisa tampak sederhana sekaligus tampak begitu megah. Saya tidak bisa menyebut bahwa cinta, adalah kamu. Tetapi cinta itu adalah mereka, ada antara mereka, atau ada antara kita. Karena cinta butuh dua orang untuk melakukannya, hingga cinta terbentuk satuan lingual kerja 'saling mencintai'.


Cinta itu begitu megah, karena pemberian yang begitu berharga di dalam hidup adalah ketika mampu menebar cinta tiada henti.

Cinta itu begitu sederhana, jika kamu merasa tidak mampu membuatnya tertawa cukuplah untuk membuatnya tidak terluka.


"No one can change a person but a person can be a reason someone changes.." [Spongebob]

Rab Ne Bana Di Jodi

Sepenggal adegan di ending film india, yang sangat membekas bagi saya. Rab Ne Bana di Jodi. Tuhan pasti menciptakan pasangan/ Jodoh = Jodi *dalam bahasa india, atau bisa diterjemahkan bebas 'jodoh di tangan Tuhan'.

Hampir di akhir cerita sebelum Rekan Taani menyadari bahwa sosok yang sebenarnya dia butuhkan, sosok yang berdoa untuknya, melakukan apa saja untuknya, diam-diam mencintai dan memperhatikannya bukanlah Raj, melainkan Surinder Shani, suaminya. Ya, meskipun di sini kedua tokoh ini adalah sama, tetapi bagi Rekan Taani, mereka berbeda. Rekan Taani pergi ke kuil kemudian Tuhan menjawab kegelisahannya. Kalau di konversikan ke dalam istilah Islam, setelah dia shalat istikharah, Rekan Taani mendapat jawaban dari Tuhan. Bahwa suaminya lah jawabannya, bukan Raj.

*kemudian berkaca-kaca*

Tu hi toh jannat meri, Tu hi mera junoon (Kamu adalah surgaku, Kamu yang aku sukai)
Tu hi to mannat meri, Tu hi rooh ka sukoon (Kamu adalah keinginanku, Kamu adalah ketenangan jiwaku)
Tu hi aakhion ki thandak, Tu hi dil ki hai dastak (Kamu peneduh mataku, Kamu detak jantungku)
Tujh mein rab dikhta hai... Yaara mein kya karu (Aku melihat tuhan dalam dirimu... Apa yang harus kulakukan)
Sajdhe sar jukhta hai Yaara mein kya karu (Kepalaku tunduk menyembahmu.. Apa yang harus kulakukan -
dalam budaya India, bagi seseorang yang sangat dihormati, kaki nya akan dicium menggunakan telapak tangannya dan disentuhkannya di keningnya sebagai tanda bakti pada orang tersebut)
Tu hi dil ki hai raunak, Tu hi janmo ki daulat (Kamu adalah cahaya hatiku, Kamu adalah harta hidupku)
Tu hi meri hai barkat, Tu hi meri ibaadat (Kamu adalah berkahku, Kamu adalah ibadahku).

ending nya, ada kalimat Rekan Taani yang tidak perlu ditiru ehe, "Apakah Tuhan akan marah apabila aku mencintaimu (suami) lebih daripada cintaku pada Nya?".

Ambil positifnya :)


[scene terbaik di ending film Rab ne bana di jodi - Tuhan pasti menciptakan pasangan]












Best Scene of Good Doctor




“That no matter how scared you are, you have to accomplish it if you want to. That the one who endures and gets past everything is the coolest person in the world”
[Good Doctor ep 5, Park Shi On]







“Keberanian bukanlah bahwa kita tak merasa takut, tetapi jika kita mampu bertahan menghadapi rasa takutnya.”
[Good Doctor ep 14, Professor Kim Do Han]







“Ada Banyak hal-hal yang tak terlihat, yang justru benar-benar paling penting dalam hidup.”
[Good Doctor ep 15, Dokter Han Jin Wook]

Antara Ada dan Tiada

Setiap ku melihatmu, kau terasa di hati
Kau punya segalanya yang aku impikan
Dan anganku tak henti bersajak tentang bayangmu
Walau ku tahu kau tak pernah anggapku ada
Ku tak bisa menggapaimu, tak kan pernah bisa
Walau sudah letih aku, tak mungkin lepas lagi
Kau hanya mimpi bagiku, tak untuk jadi nyata
Dan segala rasa buatmu harus padam dan berakhir
[Utopia]

Saya selalu benci kata galau, gelisah, cemas, dan tak ingin terjebak di dalam perasaan yang mewakili salah satu kata tersebut. Saya justru lebih suka sendu, atau syahdu ala yuni shara. Semua kata yang bersinonim dengan kata tersebut selalu saya hindari. Kalaupun terlanjur mampir di salah satu episode hidup saya, selalu ada cara untuk menyembunyikannya. Kemudian melewati hari seperti tak pernah ada masalah apapun karena waktu itu akan terus berjalan. Dia tidak pernah ada kompromi untuk menunggu kita, berlalu meninggalkan kita yang mungkin belum bisa menyesuaikan dengan ritmenya. Gundah gulana yang mampir dalam hidup saya semacam itu, saya simpan denganNya; mematikan handphone-berdoa.
...yap, dan segala rasa buatmu harus padam dan berakhir...


Selamat menempuh hidup baru Dude Herlino :D aaaaaaaaak *gulinggulingkayakshinchan*
dan saya akan berjuang mencari doraemon, meminjam baling baling bambu atau pintu ke mana saja atau mesin waktu, untuk mencari Pangeran Toxedonya Sailormoon. *Aku ksatriya Sailor, yang berjuang demi cinta dan keadilan. Dengan kekuatan bulan, aku akan menghukummu*

semoga kita dipertemukan di kehidupan selanjutnya dengan cerita yang lebih menyenangkan.

[jjajang.. dorami, satu satunya tokoh yang bisa bikin pipinya doraemon merah merona :D ]

Selamat Hari Guru, Pak

Selamat hari Guru Pak :)

masih tentang tanggal 25 November, seharusnya pagi ini engkau berjalan gagah dan membawa senyuman masuk ke dalam kelas.

Jutaan terimakasih yang sebenarnya sudah kupersiapkan dan hendak kuberikan padamu pagi ini, enggan kusampaikan padamu. Semua hanya berujung menjadi sebuah doa yang tak terucap, kelu di ujung lidah, "engkau yang selalu menganggap kami paling tolol, menganggap hasil kerja keras dan pekerjaan kami berakhir tiada guna, kami hanya berharap semoga kelak engkau tersadarkan, entah dengan cara apa. semoga engkau sehat selalu."

Hubungan kita hanya sebatas relasi antara murid dengan guru kan? seharusnya tidak, sehingga aku bisa melakukan pembelaan terhadap semua perlakuanmu. Engkau tidak hanya sekadar guru, namun pembimbing, pendidik, kawan sharing tentang segala kesulitan-kegalauan dalam hidup dan ilmu pengetahuan, kawan yang saling memberi pelajaran hidup, suri tauladan bagi kami. Maka jika engkau benar-benar sadar akan titel yang tidak hanya sekadar 'guru' (bahwa dibelakang 'guru' masih ada semua itu tadi), maka tentu kata 'g*bl*k' tidak akan keluar dari mulutmu untuk kami.

Engkau seperti dewa, yang perkataannya tidak mungkin kami abaikan. Maka bertutur katalah yang baik, maka tentu kami akan senang bertemu denganmu (lagi).

Nice to meet you.
See you again.
Selamat Hari Guru.


Selasa, 26 November 2013.
kami yang akan selalu berdoa untuk segala kebaikanmu.

Pidato Wisudawan Terbaik, Memukau tetapi Sekaligus “Menakutkan”

source:
http://rinaldimunir.wordpress.com/2013/04/07/pidato-wisudawan-terbaik-memukau-tetapi-sekaligus-menakutkan/

Setiap acara wisuda di kampus ITB selalu ada pidato sambutan dari salah seorang wisudawan. Biasanya yang terpilih memberikan pidato sambutan adalah pribadi yang unik, tetapi tidak selalu yang mempunyai IPK terbaik. Sepanjang yang saya pernah ikuti, isi pidatonya kebanyakan tidak terlalu istimewa, paling-paling isinya kenangan memorabilia selama menimba ilmu di kampus ITB, kehidupan mahasiswa selama kuliah, pesan-pesan, dan ucapan terima kasih kepada dosen dan teman-teman civitas academica.
Namun, yang saya tulis dalam posting-an ini bukan pidato wisudawan ITB, tetapi wisudawan di Amerika. Beberapa hari yang lalu saya menerima kiriman surel dari teman di milis dosen yang isinya cuplikan pidato Erica Goldson pada acara wisuda di Coxsackie-Athens High School, New York, tahun 2010. Erica Goldson adalah wisudawan yang lulus dengan nilai terbaik pada tahun itu. Isi pidatonya sangat menarik dan menurut saya sangat memukau. Namun, setelah saya membacanya, ada rasa keprihatinan yang muncul (nanti saya jelaskan).Cuplikan pidato ini dikutip dari tulisan di blog berikut: http://pohonbodhi.blogspot.com/2010/09/you-are-either-with-me-or-against-me.html
“Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya. Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada.
Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan menuju tahap berikut yang diharapkan kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.
Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja. Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya. Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat.
Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu. Jadi, saya penasaran, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam kehidupan saya?
Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan…….”

Hmmm… setelah membaca pidato wisudawan terbaik tadi, apa kesan anda? Menurut saya pidatonya adalah sebuah ungkapan yang jujur, tetapi menurut saya kejujuran yang “menakutkan”. Menakutkan karena selama sekolah dia hanya mengejar nilai tinggi, tetapi dia meninggalkan kesempatan untuk mengembangkan dirinya dalam bidang lain, seperti hobi, ketrampilan, soft skill, dan lain-lain. Akibatnya, setelah dia lulus dia merasa gamang, merasa takut terjun ke dunia nyata, yaitu masyarakat. Bahkan yang lebih mengenaskan lagi, dia sendiri tidak tahu apa yang dia inginkan di dalam hidup ini.
Saya sering menemukan mahasiswa yang hanya berkutat dengan urusan kuliah semata. Obsesinya adalah memperoleh nilai tinggi untuk semua mata kuliah. Dia tidak tertarik ikut kegiatan kemahasiswaan, baik di himpunan maupun di Unit Kegiatan Mahasiswa. Baginya hanya kuliah, kuliah, dan kuliah. Memang betul dia sangat rajin, selalu mengerjakan PR dan tugas dengan gemilang. Memang akhirnya IPK-nya tinggi, lulus cum-laude pula. Tidak ada yang salah dengan obsesinya mengejar nilai tinggi, sebab semua mahasiswa seharusnya seperti itu, yaitu mengejar nilai terbaik untuk setiap kuliah. Namun, untuk hidup di dunia nyata seorang mahasiswa tidak bisa hanya berbekal nilai kuliah, namun dia juga memerlukan ketrampilan hidup semacam soft skill yang hanya didapatkan dari pengembangan diri dalam bidang non-akademis.
Nah, kalau mahasiswa hanya berat dalam hard skill dan tidak membekali dirinya dengan ketrampilan hidup, bagaimana nanti dia siap menghadapi kehidupan dunia nyata yang memerlukan ketrampilan berkomunikasi, berdiplomasi, hubungan antar personal, dan lain-lain. Menurut saya, ini pulalah yang menjadi kelemahan alumni ITB yang disatu sisi sangat percaya diri dengan keahliannya, namun lemah dalam hubungan antar personal. Itulah makanya saya sering menyemangati dan menyuruh mahasiswa saya ikut kegiatan di Himpunan mahasiswa dan di Unit-Unit Kegiatan, agar mereka tidak menjadi orang yang kaku, namun menjadi orang yang menyenangkan dan disukai oleh lingkungan tempatnya bekerja dan bertempat tinggal. Orang yang terbaik belum tentu menjadi orang tersukses, sukses dalam hidup itu hal yang lain lagi.
Menurut saya, apa yang dirasakan wisudawan terbaik Amerika itu juga merupakan gambaran sistem pendidikan dasar di negara kita. Anak didik hanya ditargetkan mencapai nilai tinggi dalam pelajaran, karena itu sistem kejar nilai tinggi selalu ditekankan oleh guru-guru dan sekolah. Jangan heran lembaga Bimbel tumbuh subur karena murid dan orangtua membutuhkannya agar anak-anak mereka menjadi juara dan terbaik di sekolahnya. Belajar hanya untuk mengejar nilai semata, sementara kreativitas dan soft skill yang penting untuk bekal kehidupan terabaikan. Sistem pendidikan seperti ini membuat anak didik tumbuh menjadi anak “penurut” ketimbang anak kreatif.
Baiklah, pada bagian akhir tulisan ini saya kutipkan teks asli (dalam Bahasa Inggris) Erica Goldson di atas agar kita memahami pidato lengkapnya. Teks asli pidatonya dapat ditemukan di dalam laman web ini: Valedictorian Speaks Out Against Schooling in Graduation Speech .
Valedictorian Speaks Out Against Schooling in Graduation Speech
by Erica Goldson
Here I stand
There is a story of a young, but earnest Zen student who approached his teacher, and asked the Master, “If I work very hard and diligently, how long will it take for me to find Zen? The Master thought about this, then replied, “Ten years.” The student then said, “But what if I work very, very hard and really apply myself to learn fast – How long then?” Replied the Master, “Well, twenty years.” “But, if I really, really work at it, how long then?” asked the student. “Thirty years,” replied the Master. “But, I do not understand,” said the disappointed student. “At each time that I say I will work harder, you say it will take me longer. Why do you say that?” Replied the Master, “When you have one eye on the goal, you only have one eye on the path.”
This is the dilemma I’ve faced within the American education system. We are so focused on a goal, whether it be passing a test, or graduating as first in the class. However, in this way, we do not really learn. We do whatever it takes to achieve our original objective.
Some of you may be thinking, “Well, if you pass a test, or become valedictorian, didn’t you learn something? Well, yes, you learned something, but not all that you could have. Perhaps, you only learned how to memorize names, places, and dates to later on forget in order to clear your mind for the next test. School is not all that it can be. Right now, it is a place for most people to determine that their goal is to get out as soon as possible.
I am now accomplishing that goal. I am graduating. I should look at this as a positive experience, especially being at the top of my class. However, in retrospect, I cannot say that I am any more intelligent than my peers. I can attest that I am only the best at doing what I am told and working the system. Yet, here I stand, and I am supposed to be proud that I have completed this period of indoctrination. I will leave in the fall to go on to the next phase expected of me, in order to receive a paper document that certifies that I am capable of work. But I contend that I am a human being, a thinker, an adventurer – not a worker. A worker is someone who is trapped within repetition – a slave of the system set up before him. But now, I have successfully shown that I was the best slave. I did what I was told to the extreme. While others sat in class and doodled to later become great artists, I sat in class to take notes and become a great test-taker. While others would come to class without their homework done because they were reading about an interest of theirs, I never missed an assignment. While others were creating music and writing lyrics, I decided to do extra credit, even though I never needed it. So, I wonder, why did I even want this position? Sure, I earned it, but what will come of it? When I leave educational institutionalism, will I be successful or forever lost? I have no clue about what I want to do with my life; I have no interests because I saw every subject of study as work, and I excelled at every subject just for the purpose of excelling, not learning. And quite frankly, now I’m scared.
John Taylor Gatto, a retired school teacher and activist critical of compulsory schooling, asserts, “We could encourage the best qualities of youthfulness – curiosity, adventure, resilience, the capacity for surprising insight simply by being more flexible about time, texts, and tests, by introducing kids into truly competent adults, and by giving each student what autonomy he or she needs in order to take a risk every now and then. But we don’t do that.” Between these cinderblock walls, we are all expected to be the same. We are trained to ace every standardized test, and those who deviate and see light through a different lens are worthless to the scheme of public education, and therefore viewed with contempt.
H. L. Mencken wrote in The American Mercury for April 1924 that the aim of public education is not “to fill the young of the species with knowledge and awaken their intelligence. … Nothing could be further from the truth. The aim … is simply to reduce as many individuals as possible to the same safe level, to breed and train a standardized citizenry, to put down dissent and originality. That is its aim in the United States.”
To illustrate this idea, doesn’t it perturb you to learn about the idea of “critical thinking?” Is there really such a thing as “uncritically thinking?” To think is to process information in order to form an opinion. But if we are not critical when processing this information, are we really thinking? Or are we mindlessly accepting other opinions as truth?
This was happening to me, and if it wasn’t for the rare occurrence of an avant-garde tenth grade English teacher, Donna Bryan, who allowed me to open my mind and ask questions before accepting textbook doctrine, I would have been doomed. I am now enlightened, but my mind still feels disabled. I must retrain myself and constantly remember how insane this ostensibly sane place really is.
And now here I am in a world guided by fear, a world suppressing the uniqueness that lies inside each of us, a world where we can either acquiesce to the inhuman nonsense of corporatism and materialism or insist on change. We are not enlivened by an educational system that clandestinely sets us up for jobs that could be automated, for work that need not be done, for enslavement without fervency for meaningful achievement. We have no choices in life when money is our motivational force. Our motivational force ought to be passion, but this is lost from the moment we step into a system that trains us, rather than inspires us.
We are more than robotic bookshelves, conditioned to blurt out facts we were taught in school. We are all very special, every human on this planet is so special, so aren’t we all deserving of something better, of using our minds for innovation, rather than memorization, for creativity, rather than futile activity, for rumination rather than stagnation? We are not here to get a degree, to then get a job, so we can consume industry-approved placation after placation. There is more, and more still.
The saddest part is that the majority of students don’t have the opportunity to reflect as I did. The majority of students are put through the same brainwashing techniques in order to create a complacent labor force working in the interests of large corporations and secretive government, and worst of all, they are completely unaware of it. I will never be able to turn back these 18 years. I can’t run away to another country with an education system meant to enlighten rather than condition. This part of my life is over, and I want to make sure that no other child will have his or her potential suppressed by powers meant to exploit and control. We are human beings. We are thinkers, dreamers, explorers, artists, writers, engineers. We are anything we want to be – but only if we have an educational system that supports us rather than holds us down. A tree can grow, but only if its roots are given a healthy foundation.
For those of you out there that must continue to sit in desks and yield to the authoritarian ideologies of instructors, do not be disheartened. You still have the opportunity to stand up, ask questions, be critical, and create your own perspective. Demand a setting that will provide you with intellectual capabilities that allow you to expand your mind instead of directing it. Demand that you be interested in class. Demand that the excuse, “You have to learn this for the test” is not good enough for you. Education is an excellent tool, if used properly, but focus more on learning rather than getting good grades.
For those of you that work within the system that I am condemning, I do not mean to insult; I intend to motivate. You have the power to change the incompetencies of this system. I know that you did not become a teacher or administrator to see your students bored. You cannot accept the authority of the governing bodies that tell you what to teach, how to teach it, and that you will be punished if you do not comply. Our potential is at stake.
For those of you that are now leaving this establishment, I say, do not forget what went on in these classrooms. Do not abandon those that come after you. We are the new future and we are not going to let tradition stand. We will break down the walls of corruption to let a garden of knowledge grow throughout America. Once educated properly, we will have the power to do anything, and best of all, we will only use that power for good, for we will be cultivated and wise. We will not accept anything at face value. We will ask questions, and we will demand truth.
So, here I stand. I am not standing here as valedictorian by myself. I was molded by my environment, by all of my peers who are sitting here watching me. I couldn’t have accomplished this without all of you. It was all of you who truly made me the person I am today. It was all of you who were my competition, yet my backbone. In that way, we are all valedictorians.
I am now supposed to say farewell to this institution, those who maintain it, and those who stand with me and behind me, but I hope this farewell is more of a “see you later” when we are all working together to rear a pedagogic movement. But first, let’s go get those pieces of paper that tell us that we’re smart enough to do so!
~~~~~~~~~~
Pidato Erica tersebut juga dimuat di blog America dan mendapat tanggapan luas oleh publik di sana. Silakan baca di sini: http://americaviaerica.blogspot.com/2010/07/coxsackie-athens-valedictorian-speech.html
Kalau ingin melihat video pidato Erica di Youtube, klik ini:

http://www.youtube.com/watch?v=9M4tdMsg3ts&feature=player_embedded#!

Surat Cinta

Cinta tak harus terucap lewat bibir, namun kadang tertancap di dalam hati, menjadi kata-kata yang tertulis dalam sebuah surat yang sering tak pernah tersampaikan, apalagi terbaca.

Penyesalan selalu jadi ujung sebuah cerita, ketika cinta yang tulus dan sungguh baru terbaca di kemudian hari,... ya setelah semuanya tiada.

...Tenang, melalui surat meski (bisa jadi) akan terlambat, namun yang pasti - akan terkirim...

Hei, sudahkah kalian menulis surat kemudian mengirimkannya, atau boleh lah kalian menyimpannya hanya sebagai tanda bahwa cinta atau cerita cinta itu pernah ada untuk seseorang?

Ayoooooook nulis surat :)


-I Love you so much, mumumumumuuuuua-
dari saya yang pernah mengirim surat cinta :D

[sebuah bingkisan ulang tahun yang ke23, novel Surat Cinta]

tag: mamah, bapak, mas angga, dek eno, dek Lia, mbak eka, evi, debi, dinka, tikak, septi, mbak ami, mbak resti

Did you know you used to be my hero?

...I just want to make you proud...
...Did you know you used to be my hero?

[perfect - simpleplan]


dear babe,
aku rindu. Tidakkah hujan di sini berbeda dengan hujan di sana?

dear mamah,
aku rindu. Tidakkah makanan di sini berbeda dengan makanan masakan mamah di rumah?

Jika mantra menyebut 9 kali, dan bisa mengabulkan harapan seseorang, akan kulakukan.
Aku rindu.
     Aku rindu.
          Aku rindu.
              Aku rindu.
                    Aku rindu.
                         Aku rindu.
                              Aku rindu.
                                   Aku rindu.
                                        Aku rindu.

dear babe, dear mamah...semoga engkau tidak tau bahwa aku terlalu sering mengeluh, merasa paling tersiksa karena sangat merindukanmu.

Kutipan



Kartun yang menjadi favorit saya sejak dulu, dan masih menjadi kesayangan hingga kini. Akhir - akhir dalam akun facebook saya, saya sering menuliskan kutipan-kutipan yang ternyata secara tidak sengaja menjadi jawaban, atau nasehat yang tepat untuk kita.

Ada lagi, "Tidak perlu ada yang merasa sudah mengerjakan lebih daripada yang lain atau berpikir yang lainnya tidak melakukan apa-apa.." [mbak Dhian]

"Manusia itu biasanya kesulitan mengkritik atau memberi saran jika dia berada di bawah tekanan otoritas...atau...ketakutan dengan posisinya sendiri... Ah, manusia.." [Dek Lia]

Tidak perlu gemetar saat Anda meminta maaf, karena Anda pribadi paling berani di dunia..
Tidak perlu gengsi menerima kritik, karena Anda pribadi yang paling rendah hati di dunia...
Tidak perlu ngotot mempertahankan pendapat, karena Anda pribadi yang paling mulia-paling ikhlas di dunia...
Tidak perlu ngotot merasa paling tersakiti, karena Anda pribadi paling pemaaf di dunia...
Tidak perlu merasa menjadi orang yang paling menderita, karena Anda pribadi paling pandai bersyukur di dunia...
*salam super Tuan berbudi baik* [Ari]