Tampilkan postingan dengan label Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Life. Tampilkan semua postingan

Asih


Seorang perempuan duduk di padang ilalang dekat saung di desa kami. Perempuan enerjik dengan rok panjang, kadang dengan gamis dan jilbab yang melompat-lompat tertiup angin saat dia mengejar anak-anak untuk mengaji. Perempuan yang tidak malu-malu untuk tertawa lepas dan tertawa cekikian bersama anak-anak kecil yang usianya jauh lebih muda dibanding usianya. Perempuan yang punya senyum merekah setiap kali ia menyapa penduduk di desa kami. Sikap sederhana dan ramahnya membuatku tertarik untuk selalu memperhatikannya. Setiap sore jika dia tidak datang ke padang ilalang desa kami, dia datang ke surau desa kami. Dia mengajar mengaji, mengajar membaca alquran adik-adik di desa kami. Perempuan ceria yang hobi mengejar adik-adik agar rajin mengaji di surau. Perempuan itu bernama Asih. Belakangan aku tahu apa yang disukai Asih. Perempuan itu menyukai senja, gerimis, dan buku. Dia akan tiba-tiba berhenti mengejar adik-adik untuk mengaji kalau dia menyadari bahwa sorot lembayung senja berwarna merah jingga menyilaukan matanya. Kemudian dia akan tersenyum dan bibirnya seperti mengucapkan sesuatu. Mata jernihnya berkaca-kaca, lalu kembali mengejar adik-adik dan berteriak lucu, “kalau di’dukani’ Allah gimana?” *didukani ‘dimarahi’ (bahasa Jawa).
Jika hujan turun, adik-adik akan datang terlambat untuk mengaji. Asih menunggu di teras surau sambil memegang payung kecil untuk menjemput adik-adik yang datang dari ujung jalan desa kami. Sesekali Asih membuka telapak tangannya dan menyambut gerimis menyentuh telapak tangannya yang turun dari langit depan surau kami. Asih seperti menikmati gerimis yang datang setiap sore itu. 

Belakangan Asih tidak tampak di surau maupun di padang ilalang seperti biasannya. Tiba-tiba aku merasa penasaran dengan kehadirannya dan merasa kehilangannya. Meski tidak pernah bertegur sapa, sikap ramah pada warga dan sikap ceria pada adik-adik di desa telah membuat kesan tersendiri di dalam lubuk hatiku. Asih datang ke desa kami bersama sekelompok kawan yang baru kuketahui kalau mereka sedang melakukan kegiatan lapangan. Asih telah pergi sebelum keberanianku menyapanya tumbuh sama besarnya seperti rasa penasaranku padanya. Asih yang penuh kasih, apakah aku terlambat untuk memintamu tetap di sini saja?

Kasih (Baoesastra, 191) yang berarti ‘orang tercinta’ atau dalam bahasa Indonesia (KBBI) berarti ‘perasaan sayang, cinta’ . Juga asih (Baoesastra, 20) berarti tresna, katresnan atau ‘cinta’ dalam bahasa Indonesia. Sih (Baoesastra, 562) berarti tresna, katresnan, kawelasan.

Sang Penyelamat

Seorang perempuan bermata sendu masuk ke dalam lorong kereta, mencari tempat duduk yang belum terisi. Beberapa kursi di gerbongku telah terisi oleh beberapa pasangan atau segerombol keluarga yang mungkin hendak melancong. Aku duduk seorang diri. Perempuan itu tampak mencari tempat duduk yang berada di dekat pintu kereta. Ya, dia duduk tepat di depanku dengan jarak agak jauh karena terpisah jeda pintu kereta. Kereta yang kutumpangi adalah kereta jarak pendek yang penumpangnya dibebaskan memilih tempat duduk. Perempuan itu tampak menghindari kontak mata dengan penumpang lain. Kursi di sebelahnya dibiarkan kosong, tas ranselnya ia letakkan di bawah dekat kakinya. Kursi di sebelahnya dibiarkan kosong supaya jika ada penumpang lain yang membutuhkan tempat duduk, dia tidak perlu meminta ijin pada perempuan tersebut. Perempuan itu bergestur enerjik, namun tetap bersahaja dengan gamis dan sepatu sneaker nya. Tas kecil satunya ia pangku, dan ia buka. Ia mencari sesuatu. Ia keluarkan masker atau penutup hidung kemudian ia pakai. Ia keluarkan telepon genggamnya kemudian ia pasang earphone dan ia pakaikan di telinganya di balik jilbabnya. Hal yang sama yang biasa kulakukan jika tidak ingin diganggu, aku hanya akan (pura-pura) memasang earphone namun tanpa bunyi apapun.

Perempuan itu bersandar di dinding samping kereta dekat jendela kemudian pandangannya kosong menatap keluar jendela. Beberapa detik setelah aku memperhatikan, perempuan itu menangis. Ia tampak seperti ingin membendung airmatanya agar tidak ketahuan oleh yang lain. Ia buru-buru membasuhnya. Matanya kembali berkaca-kaca. Air matanya kembali menetes dan nampaknya ia tidak sanggup membendung derai air matanya. Ia mencoba bertahan, akhirnya ia keluarkan tisu dari tas kecilnya, ia lepas masker penutup hidungnya dan ia basuh air matanya kembali. Ia pakai kembali masker tersebut. Sesekali ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan namun kuat seperti ia sedang menanggung beban yang sangat berat. Kali ini ia mencoba tidur, mungkin pura-pura tidur agar ia punya alasan untuk menutup kedua matanya. Aku memandanginya. Air matanya masih keluar saja dari kedua ujung mata teduhnya. Beberapa kali kulihat, genggaman tangannya gemetar karena menahan airmatanya. Aku sedang penasaran dan tiba-tiba aku merasa ikut bersedih. Pendapatku tentang mata perempuan itu yang kukira bermata sendu karena tertiup angin hujan di luar gerbong adalah salah besar. Sendunya tercipta karena ia sedang menyimpan luka yang dalam dan penuh rahasia. Apakah dia sedang ditinggalkan oleh kekasihnya. Apakah ia sedang dikhianati oleh seseorang yang ia cintai. Apakah seseorang yang paling ia cintai meninggalkannya. Apakah hujan di luar jendela membuat dia rindu pada seseorang. Apakah hujan yang mengenai sepatunya membuat rindu yang ia pendam butuh untuk segera disampaikan. Apakah keselamatan jiawanya terancam dan mengharapkan kehadiran penyelamat. Apa yang membuatnya begitu bersedih. Yang pasti, dia sedang berusaha melupakan lukanya dengan cara menumpahkan air matanya. Ya, dia sedang mencoba lupa akan lukanya. Sayangnya, luka yang ia tanggung terlampau perih sehingga belum sampai dia mengadu pada Tuhannya, air matanya tumpah di depanku. Aku tak berani menyapanya. Khawatir, pertanyaan dan keingintahuanku justru akan menyentuh luka yang sedang ia sembunyikan, meskipun tak sengaja tersentuh, pasti tetap akan menimbulkan rasa sakit dan justru membuat papa jiwanya, menambah tangis baginya.

Aku mencoba cara yang paling aman, yaitu menunggunya.Andai saja aku berani mendekat dan menghiburnya. Akan kuberitahukan padanya bahwa Tuhan Maha Penyayang , Maha Mengatur hidup seluruh umatNya. Adukan semua padaNya, bisa jadi hidup yang sedang ia tangisi justru menjadi hidup yang orang lain inginkan. Akan Tuhan datangkan hadiah terindah
yang mungkin tidak akan ia sangka skenarionya. Ya, kita perlu bersyukur dan hanya perlu menunggu. Dimanakah Sang Penyelamatnya? Segeralah datang, dan selamatkan dia. Bawa dia keluar dari hidupnya yang sedang ia tangisi.

Aku & Partner


Semenjak kau datang pada malam gerimis itu dan membawa amplop bertuliskan namamu, aku berubah menjadi sosok yang ‘sok’ paling nelangsa. Kubiarkan perasaan paling nelangsaku hanya semalam. Keesokannya, aku mulai bangkit dan bukannya tidak mau peduli lagi padamu, aku masih akan tetap peduli padamu sebagai kawan baikku. Kuterima niat baikmu mengundangku ke moment terindahmu bersama Siti. Dulu, sempat kau tanyakan padaku, apa yang akan aku lakukan, tanpamu. Hari ini, detik ini aku sudah punya jawaban untuk itu. Aku akan melanjutkan hidupku, meski tanpamu. Ya, aku bersedia datang dengan membawa doa terbaik agar kebahagiaan selalu melingkupimu. Aku bawa seseorang yang tentu juga kau kenal dengan baik, agar aku tak terlihat terlalu kesepian. Kusiapkan sebuah kado terbaik kemudian kububuhkan ucapan singkat agar kalian bahagia dan selalu dilingkupi kasih Tuhan.

Dulu pernah kutulis sebuah surat untukmu yang kemudian kau kembalikan karena kau malas membacanya dan memintaku untuk berbicara langsung. Seandainya kamu mengenalku sebaik aku mengenalmu dulu, bahwa aku tak pandai berbicara sepertimu. Kutulis sebuah surat panjang melalui dinding buku mayaku agar kau tak tertarik membacanya. Aku tahu betul bahwa kau bukan pembaca yang baik. Kau pernah bilang bahwa alasanmu ‘menyukai’ status pendek pada sosial mediaku daripada catatan-catatan panjang yang kutulis di sana adalah karena kau tak pernah membaca catatan tersebut. Ya, kamu tidak menyukai membaca catatanku yang panjang. Kali ini aku sengaja membuat catatan panjang ini, agar kamu tidak tertarik membukanya apalagi membacanya.

Selalu kusimpan rasa sesal setiap kali aku memikirkanmu. Aku tidak begitu paham dengan semua sikap sederhanamu namun selalu membuatku takjub. Niat baikmu mengundangku hampir membuatku lupa bahwa perasaanku ini tidak boleh berjalan terlampau jauh. Dulu seringkali aku tertarik terlalu dalam hingga aku tak sadar, segala hal menarik dan menakjubkan darimu telah membuatku tak sengaja jatuh cinta pada kawan baikku.

Terakhir. Sungguh aku tak akan tinggal terlalu lama pada rindu yang tak benar ini. Selepas ini, aku berjanji akan jatuh cinta dengan cara yang benar. Rahasia ya.



...Ketika ku mendengar bahwa kini kau tak lagi dengannya, dalam benakku timbul tanya Masihkah ada dia di hatimu bertahta atau ini saat bagiku untuk singgah di hatimu. Namun, siapkah kau tuk jatuh cinta lagi?... Meski bibir ini tak berkata bukan berarti kutak merasa ada yang berbeda di antara kita. Dan tak mungkin ku melewatkanmu hanya karena diriku tak mampu untuk bicara bahwa aku inginkan kau ada di hidupku. [HiVi - Siapkah Kau Tuk Jatuh Cinta Lagi ]




Note: Cerita ini hanya fiksi. Label nama wedding invitation ditulis sesuai request saya, alasannya sama, agar saya tidak terlihat terlalu kesepian. Haha. Tragis.

Iman & Siti

Man...

Malam ini hujan gerimis, sama seperti malam itu. Hari di mana kamu datang ke rumah mengetuk pintu dan membawa sebuah amplop bertuliskan namamu dengan seseorang bernama Siti.

“Maaf, aku tidak pernah cerita.” Katamu saat itu.

Meski bisa kulihat air mata di ujung matamu sebenarnya sudah tak bisa lagi kamu bendung. Belum sempat aku merespon, kamu pergi menjauh. Aku diam. Berdiri mematung melihat bayanganmu yang semakin jauh ditelan gelap di ujung gang. Aku tertawa getir, kemudian menangis setelah kamu pergi, Man.

Apa kau pernah mencoba berlagak tegar, meski hatimu sedang pedih? Aku sedang mencoba melakukannya selepas kamu pergi.

Apa kamu pernah berkata padaku bahwa kau menyukaiku? Tidak. Juga tak sekalipun aku pernah mendengar nama Siti selama kau berada di sampingku, ya sebagai kawan baikmu. Aku tak pernah pandai menerjemahkan sikap baikmu, perhatianmu padaku. Kuanggap bahwa kau kawan yang amat baik padaku. Perempuan bukan ahli penerjemah kode. Setidaknya, jika suka, katakan suka. Maka aku akan mengerti.

Beberapa kali kau kugoda, bahwa kau adalah lelaki sempurna yang perempuan idam-idamkan. Lalu kau bilang bahwa kau tak sebaik yang aku kira. Aku terlalu ‘tinggi’ bagimu. Aku hanya perempuan biasa saja yang tetap ingin kadang bersedih dan juga ingin sesekali bahagia. Aku juga perempuan biasa saja yang menginginkan seorang pelipur lara dengan cara yang benar. Ah, kamu itu lelaki baik. Aku mengenalmu bukan hanya sehari atau dua hari saja, Man. Belasan tahun kita tumbuh bersama. Aku tahu sebaik apa dirimu. Atau untuk menolakku, kamu akan bilang bahwa kamu tidak pantas untukku?

Iman, penilaian manusia itu seperti permen kapas, yang mudah larut jika terkena air. Percayalah, bahwa kamu orang baik yang juga pantas mendapatkan yang baik. Ya, jika aku tidak terlalu baik untukmu, setidaknya Siti adalah pilihan yang terbaik.

Sebelum kedatanganmu malam itu, beberapa pesanku tak pernah kau balas. Aku seharusnya cukup pandai menerjemahkan sinyal tersebut, yaitu bahwa ‘kau telah berubah, dan tidak tertarik lagi padaku. Atau kau memang telah bosan mendekatiku.’ Sedikit khawatir bercampur rasa rindu. Aku hanya ingin tahu bagaimana kabarmu. Aku akan lega jika pesanku setidaknya kau baca. Ya, aku memang sering bilang padamu bahwa hobimu yang lambat membalas pesanku kadang membuatku kesal. Hingga akhirnya mungkin kamu benar-benar jenuh hingga tak membalas pesanku. Saat itu aku hanya ingin kau membaca pesanku, bahwa aku rindu. Seharusnya, saat itu aku lontarkan candaanku padamu agar kau berkenan membalasnya. “Firman Tuhan yang pertama, adalah Iqra’ ‘bacalah!’” ya setidaknya bacalah, agar tanda di telepon pintarku berubah menjadi dua centang berwarna biru.

Belasan tahun kita bermain bersama membuat orang di sekitar kita mengira kita akan saling berjodoh. Namun, sekali lagi namun... manusia hanya bisa menduga, sedang Tuhan tau segalanya. Untuk apa menjelaskan rasa kepada manusia, jika Tuhan sudah menampung segalanya.

Pelajaran Episode Final Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo



#scarletheart punya tokoh utama bernama Hae Soo. Hae Soo menghabiskan hidupnya terjebak di antara 6 pria berkuasa dan punya ambisi berkuasa. 4 pria di antaranya tertarik padanya. Drama ini menunjukkan bahwa, perasaan manusia bisa saja berubah. Drama yang sejak awal dikemas jenaka bercampur sendu, pada episode final dibuat tragis oleh penulis dan tentu Sang Sutradara. Banyak yang menanti-nanti pada siapa Hae Soo akan menghabiskan sisa hidupnya, dan bagaimana ending drama tsb, setelah dapat spoiler dan ada yang menonton terlebih dahulu kemudian bilang, "Sudah, gak usah ditonton. Mengecewakan." Bagi saya, "mbok yo woles wae gaes". Karena drama memang harusnya berhenti dan cukup pada episode 20 saja tidak perlu terlalu panjang. Ya meskipun ada yang berpendapat, mengecewakan. Woles wae gaes, karena hidup sebenarnya bisa saja seperti cerita #scarletheart . Hidup kemudian mati. Bertemu kemudian menikah. Bertemu kemudian bisa juga berpisah. Yang dideketin siapa kemudian yang dinikahin siapa *eh. Seandainya kita menginginkan atau mengharapkan ending seperti apa, bisa kita jelaskan atau bilang langsung sama Sang Sutradara. Ya kayak berdoa. Kita mau sesuatu, kita bilang sama Tuhan. Ceritakan, Rinci, dan tentu dengan etika. Setelah bilang dan berdoa, itu sudah bukan urusan kita lagi. Karena Sang Sutradaralah yang menentukan. Kalau itu sesuai dengan harapan kita. Syukur. Jika tidak dan justru mengecewakan. Jangan hujat. Jangan nggak sopan lalu mengata-nga't**'. Syukuri lalu ambil pelajaran. Hidup tentu tidak berhenti hanya karena menunggu kita menangis tersedu-sedu dan menyalahkan Sang Sutradara. Hidup terus berjalan. Kita hanyalah penonton bagi kehidupan orang lain dan lakon pada takdir kehidupan masing-masing.


Sekian.

Manusia Baik, Melakukan Kebaikan dengan Baik

Tidak ada yang salah dengan mimpi, impian, keinginan atau cita-cita. Siapapun, boleh saja berkeinginan jadi Presiden, Walikota, Bupati, atau artis sekalipun. Yang paling penting adalah bagaimana cara meraihnya, cara mendapatkannya, cara mewujudkannya. Apakah dengan cara yang benar, baik, dan sesuai dengan kaidah-prosedur normatif atau justru di luar batas kewajaran? Cara yang benar adalah dengan melakukan aturan-dan prosedur yang ada. Memiliki visi misi, dan memenuhi semua persyaratan, mengajukan dengan cara yang benar, melakukan kampanye dengan cara yang benar, berdoa, menunggu. Cara yang tidak benar, ada banyak.


Siapapun boleh saja berkeinginan menjadi PNS, atau pekerjaan lain yang dipandang baik oleh masing-masing personal. Yang paling penting bukanlah apa pekerjaannya, karena manusia punya potensi, dan prioritas dalam hidupnya sendiri. Plis, jangan disamakan dan tidak perlu saling menjelekkan. Lagi-lagi, yang juga penting adalah bagaimana cara meraihnya, cara mendapatkannya, cara mewujudkannya. Apakah dengan cara yang benar, baik, dan sesuai dengan norma yang berlaku atau justru dengan cara yang berbeda namun tidak benar? Cara yang benar adalah dengan melakukan aturan-dan prosedur yang ada. Melihat peluang, mendaftar dengan cara yang benar, belajar dengan cara yang benar, mengikuti seleksi dengan cara yang benar, berdoa, menunggu. Cara yang tidak benar, ada banyak.


Siapapun boleh saja berkeinginan memiliki mobil, kendaraan mewah, atau hunian mewah. Tidak perlu iri dan tidak perlu lantang bilang ‘ah matre’, karena manusia memiliki kepentingan dan kebutuhannya masing-masing. Plis, jangan disamakan. Yang paling penting adalah bagaimana cara mewujudkannya, cara meraihnya, cara mendapatkannya. Apakah dengan cara yang benar, baik, dan sesuai dengan norma atau justru dengan jalan pintas namun tidak benar? Cara yang benar adalah dengan melakukan aturan-dan prosedur yang ada. Mengumpulkan uang dengan cara yang benar, menabung, menyiapkan kelengkapan, mendaftarkan dengan cara yang benar, kemudian akan mendapatkan dengan cara yang benar. Cara yang tidak benar, ada banyak. Beberapa waktu terakhir, banyak cara yang tidak benar dalam mengumpulkan uang.

Siapapun boleh saja berkeinginan menikah dengan si Merah, atau bersuamikan si Putih, atau beristerikan si Biru. Yang paling penting adalah bagaimana cara mewujudkannya, cara meraihnya, cara mendapatkannya. Apakah dengan cara yang benar, baik, dan sesuai dengan kaidah-prosedur normatif atau justru di luar batas kewajaran? Cara yang benar adalah berkenalan dengan cara yang benar-baik, mendekati dengan cara yang baik, mengutarakan dengan baik, berdoa, menunggu, ‘mengikat’ dengan cara yang benar. Cara yang tidak benar, lebih banyak.

Siapapun boleh saja berkeinginan bisa ke luar negeri, belajar ke luar negeri, keliling dunia, keliling Indonesia, naik gunung, naik kapal pesiar, atau naik haji sekalipun. Yang paling penting adalah caranya, proses mewujudkannya. Cara yang tidak benar, ada banyak. Termasuk memaksa keinginan kita agar Tuhan mengabulkannya.
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak. [QS 2: 216]

Moonlight

Sebuah surat rahasia yang baru dapat terbaca dengan cara yang rahasia. Sebuah surat yang tampak hanya seperti lembar kosong tanpa tulisan apapun. Sebuah surat dari Raja Seojo kepada Permaisuri Park.

"Permaisuri Park, setengah dari diriku berharap kau akan membaca surat ini. Setengah lainnya berharap agar kau tidak akan pernah tahu.
Aku seorang raja yang tidak berkompeten, suami yang tidak berdaya dan ayah yang lemah hatinya. Aku mohon maaf karena sudah mengekspresikan perasaanku dengan cara seperti ini."

Ada saat dimana kita ingin mengungkapkan sesuatu agar orang lain mengetahui perasaan kita, mengetahui apa yang kita inginkan. Juga ada saat dimana kita ingin merahasiakan perasaan kita agar tak satupun mengetahui sesuatu dari kita. Harapan agar orang lain mengetahui perasaan kita selama ini adalah datang ketika kita berpikir bahwa "sebelum semua ini terlambat, setidaknya sebelum aku pergi meninggalkan dunia ini, orang tersebut mengetahui perasaanku."  Sedang kita ingin menutup rapat-rapat rahasia perasaan kita, dan tidak membiarkan tak seorangpun mengetahuinya karena begitu lemahnya kita, begitu tak sebandingnya kita pada cinta yang sempurna tersebut. Karena kita merasa begitu banyak kekurangan untuk dapat bersanding dan berhak mendapatkan cinta yang sempurna tersebut.


Di satu sisi, kita ingin mengungkapkannya karena ingin menunjukkan rasa cinta yang begitu besar yang kita miliki. Di sisi lain, kita ingin merahasiakannya karena begitu tak berdayanya kita pada cinta tersebut. Takut disepelekan. Takut ditertawakan. Takut bertepuk sebelah tangan.

Manusia

Manusia harusnya dapat membedakan:
1. mana yang rahasia, untuk disimpan selamanya.
2. mana yang rahasia, untuk disimpan sementara waktu.
    disimpan sementara waktu karena belum waktunya mengumumkan secara legal tentang sesuatu hal. Bisa jadi akan jadi rejekinya, bisa juga belum bisa ia dapatkan. Karena stastunya masih dalam proses memperjuangkan. Pernah dengar, "manusia hanya merencanakan sedang Tuhan yang menentukan. Manusia hanya bisa memperjuangkan, setelahnya itu keputusan Tuhan."?
Ini hanya analogi, ibarat ada seorang lelaki yang sedang dalam tahap memberanikan diri melamar perempuan pujaan hatinya. Sedang pujaan hatinya ini, memiliki banyak lelaki yang juga mengaguminya, mengantri untuk menyatakan cinta di sekitarnya, yang datang melamarnya. Tentu si lelaki akan menyimpan prosesnya tersebut sebelum mendapat jawaban kepastian bahwa ia resmi diterima untuk jadi 'calon suami' perempuan tersebut. Merahasiakan proses ini adalah bentuk menghargai lelaki tersebut. Sebab, seandainya lelaki tersebut ditolak oleh perempuan tersebut maka kita juga telah melindungi lelaki tersebut dari perasaan malu. Jadi, mari hargai proses tersebut. Atau jika alasan ini saja tidak cukup, cukup berfikirlah bahwa lelaki tersebut punya alasan untuk merahasiakannya sementara waktu. Sama halnya dengan orang orang yang justru lebih suka menceritakan proses yang dilaluinya pada orang-orang yang ditemuinya. Dia pasti punya alasan kenapa dia melakukannya.
3. mana yang boleh dibagikan, dijadikan bahan obrolan, bahan becandaan dan berita kepada umat manusia.
    Misal seperti, nama saya Ari. Suka nonton drama korea. Suka liatin Conan salah tingkah kalau dideketin Ran. Kemarin, saya jalan-jalan ketemu Sule lagi jualan sosis di alun-alun. Usut-punya usut ternyata rumahnya satu desa, cuma beda kompleks. Setelah dari jalan-jalan sore di alun-alun, saya nungguin emak saya belanja di supermarket. Emang dasarnya saya nggak suka belanja, saya nungguin di motor. Nongkrong kayak anak laki di atas motor dan masih pakai helm. Saya pakai jaket warisan abang saya. Jaket motor "K*w*s*ki" warna ijo belang belang item plus helm ijo. Beruntungnya, dari kejauhan mirip abang-abang tukang gojek. Salah apa saya, bukan salah emak mengandung. dsb.

Kultum 10 Juni 2016



Kebetulan kultum ramadhan kelima disampaikan oleh seorang ustad yang gokul dan jenaka. Hobinya 'ndhagel' kalau bahasa Jawanya. Kalau dilihat dari cara menyampaikan materi dan penampilannya, Beliau ada orang seni. Gelarnya S.Sn soalnya, ^^v

kultum yang bukan kultum, tapi tiga puluh menit menjadi tidak terasa karena Beliau ndhagel dan ndhalang.

Dari ayat Al Baqarah 183, beliau uraikan dengan jenaka selama kurang lebih tiga puluh menit.


Bahwa diwajibkan atas kita untuk berpuasa agar kita bertaqwa.

Allah saking sayange mbek dhewe, 1) turune wong pasa wae dinilai ibadah, 2) abab-e wong pasa wae mambu suwarga. Nanging, 1) turune sing ngerti wayah. Ora njuk turu saka esuk nganti tekan buka. 2) Gusti Allah saking tresnane, samambu-mambune ababe wong pasa, Gusti Allah bakal maringi ganjaran. Yen wong wis tresnan ya kaya ngana kuwi, arep mambune a=kaya apa ya tetep tresna. Tapi njuk aja kancamu sing nang cedhakmu mbok ababi hah hoh hah hoh.


Kita ibadah puasa di bulan ramadhan itu ibarat kita tidak akan bertemu ramadhan di tahun berikutnya. Yen wong nduwe gawe wae, di tanggapke campur sarian live, wayangan live, lha kok ngaji malah distelke pelesdissss ['flasdisk']. Ya kudune ngaji ki ya suarane dhewe..


penutup ceramah 30 menit: "Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat"


Maka, berkatalah yang baik dan bermanfaat, jika tidak maka diam........[tiba-tiba diam... lama... lama sekali....hening] ustadnya mematung, jamaahnya ngguyu. Ustadnya jenaka sekali.

Berbagi Pengalaman Mencari Surat Keterangan Sehat Jasmani, Rohani, dan Bebas Narkoba

Ceritanya sedang berupaya untuk daftar salah satu perekrutan tenaga pengajar di salah satu universitas negeri di Yogyakarta. Salah satu persyaratannya adalah melampirkan surat keterangan sehat jasmani, rohani dan bebas narkoba.

Surat Keterangan sehat (jasmani) atau KIR dilayani di bagian IGD. Kita akan diminta untuk mengisi formulir data diri dan keterangan surat keterangan jasmani ini digunakan untuk keperluan apa. Sebelum dilakukan pemeriksaan, formulir yang telah diisi tadi kita bawa ke bagian kasir untuk melunasi pembayaran. Di sini kita dikenai biaya Rp 35.000,00

Setelah itu kita diminta untuk menunggu hingga dipanggil untuk dicek kesehatannya. Kita akan dicek tekanan darah, tinggi dan berat badan. Setelah itu selesai, kita akan mendapatkan selembar kertas keterangan sehat jasmani. Jika kita menginginkan legalisir surat tersebut kita hanya perlu dikenai biaya tambahan 200 rupiah perlembarnya.

Selanjutnya kita akan mencari surat keterangan sehat rohani dan bebas narkoba.

Untuk mendapatkan kedua surat keterangan ini kita harus mampir dulu ke Poli Jiwa atau Poliklinik Jiwa. Karena aku nyarinya lewat Rumah Sakit Umum Daerah di kotaku, maka aku harus daftar dulu ke bagian pendaftaran umum berdampingan dengan bagian pendaftaran BPJS. Aku harus ambil nomer antrian jam setengah enam pagi dan datang lagi jam tujuh supaya nomer antrian yang sudah kudapatkan tidak terlewat. Sekitar jam 8 aku sudah dipanggil. Di sana aku dikenai biaya Rp 45.000,00 untuk biaya registrasi (pasien umum). Lalu aku dioper ke Poli Jiwa dan diminta menunggu. Di sini nunggunya lama karena pasiennya campur sama dengan pasien lain (Umum dan BPJS). Setelah nunggu lama sekitar jam 11, akhirnya giliranku masuk ke ruangan. Langsung saja, aku sampaikan keperluanku untuk minta surat sehat rohani dan bebas narkoba. Untuk keperluan bebas narkoba, oleh dokter aku ditanyai seputar, “apakah sebulan terakhir ini aku mengkonsumsi obat-obatan?” “Pernah merokok?”. Sudah kemudian aku diberi surat yang harus kubawa ke lab untuk tes urin. Namun sebelum beranjak melakukan tes urin, untuk keperluan surat sehat rohani aku juga ditanyai seputar, “Apakah sering tiba-tiba sedih?” “Apakah sering bingung?” “Apakah sering susah tidur?” “Apakah sering marah-marah?” dsb. Setelah itu aku juga diberi daftar tagihan yang harus dibayar di bagian kassa. Sebelum ke kassa, aku ke lab dulu. Di sana aku dikenai biaya Rp 124.500,00 untuk tes urin. Rinciannya adalah PEMERIKSAAN NAPZA: NAPZA AMP (Rp 41.500), NAPZA MORPHINE (Rp 41.500), NAPZA BZO (Rp 41.500). Ini nggak boleh diecer, jadi harus satu paket, dan uangku kagak cukup. Mampirlah aku ke atm dulu, baru bayar. Setelah bayar, aku dipanggil dan disuruh pipis. Setelah pipis, aku disuruh nunggu sekitar setengah jam. Sambil nunggu aku ditanyaain kayak Pak Dokter Kris, Pak Dokter bagian Poli Jiwa. Setelah selesai dan hasil sudah keluar, aku dipanggil dan diberi surat dalam amplop yang harus aku serahkan kembali ke Poli Jiwa. Sebelum ke Poli Jiwa lagi, aku harus ke kassa seperti perintah saat masih di Poli Jiwa untuk melunasi tagihan surat sehat rohani. Di sini aku dikenai biaya Rp 60.000,00.

Aku kembali ke Poli Jiwa dan jadilah aku mendapatkan surat sehat rohani dan surat keterangan bebeas narkoba. Jadi kalau dirinci,

Surat keterangan sehat jasmani: Rp 35.000

Registrasi: Rp 45.000

Surat keterangan sehat rohani: Rp 60.000

Surat bebas narkoba: Rp 124.500

Total: Rp 264.500





Oh Tuhan, perjuangan ini masih belum berakhir. Ini adalah upaya awal untuk mencoba menggapai mimpi dan menjemput rejeki dari MU.

Ahn & Goo

Ahn Jae Hyun, pemuda kalem kelahiran 1987 yang jatuh cinta pada seorang “nuna” kelahiran 1984. Aku mengenalnya, saat ia jadi adik dari Cheon Song Yi, pacar Bang Alien Do Min Joon ssi. Saat itu, Ahn masih terlalu polos untuk bisa diajakin diskusi perkara pria dan wanita, halal dan haram, mahram dan bukan mahram. Ah, gile lu ndro. Adik Cheon Song Yi ini jenius dan paling suka sama teropong bintang. Kadar kekoplakannya hampir sama seperti embaknya. Setelah jadi adik ipar Alien, Jae Hyun mewujudkan cita-citanya jadi polisi bareng Lee Seung Gi, Cha Seung Won, Park Jung Min, dan Go Ara. Kadar kekoplakannya meningkat setelah kumpul bareng geng kepolisian ini. Sehabis jadi polisi, Ahn Jae Hyun berubah jadi setengah manusia setengah dracula dan bertemu Goo Hye Sun. Nah di sinilah, dia jatuh cinta dan beruntungnya cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Ahn yang kalem dan Goo yang juga tidak banyak tingkah, membuat hubungan keduanya tidak pernah diketahui oleh media dan fansnya.

Seiring berjalannya waktu, 1 tahun setelah produksi drama Ahn dan Goo berakhir, kabar pernikahan mereka beradar. Media berbondong-bondong mengulas kisah perjalanan cinta pasangan ini. Ya, ini kisah nyata. Kalau kamu menebak bahwa aku sedang halusinasi mikirin drama, kamu salah. Ini bukan lagi cerita Seo In Guk di King of High School, ini kisah nyata milik insan bernama Ahn dan Goo. Cerita indah bak negeri dongeng yang nyata dengan pemeran utama Ahn Jae Hyun dan Goo Hye Sun. Yes, adek bisa apa. Cinta mah cuma bisa merelakan kepergian Rangga. Sebagai penonton yang sok tahu, sudah seharusnya aku berkomentar. Cuma mau bilang, “Luar biasa”. Di saat pemuda-pemuda seusia Ahn lagi sibuk-sibuknya bikin cerita bareng pacar-pacarnya, dan sibuk bikin caption di instagram bareng pacar-pacarnya, Ahn justru mantap bertanggungjawab sepenuhnya atas kehidupan Goo yang usianya terpaut 3-4 tahun lebih tua dari dirinya. Di saat pemuda-pemuda tampan seperti Lee Min Hoo, Kim Woo Bin, Song Jong Ki, Kim Soo Hyun, Park Seo Joon, Lee Seung Gi, Choi Siwon, Joo Won, sibuk keliling dunia mengadakan fanmeeting, sibuk mengatur jadwal untuk memenuhi panggilan wajib militernya, atau seperti Kim Hyun Joong yang sibuk berdalih di pengadilan bersama mantan pacarnya, Ahn justru mantap dan yakin untuk menikah di saat karirnya berada di puncak bersama Goo pada 21 Mei 2016 mendatang.

Karir yang tengah berada di puncak tidak membuat Ahn terbuai dengan padatnya jadwal syuting dan mengabaikan perkara jodoh. Momen terpenting bagi Ahn bukanlah menjaga karirnya tetap berada di puncak, namun membawa Goo bersama dirinya di puncak itulah yang terpenting. Yang lebih mengagumkan adalah konsep pernikahan mereka tidak dibuat secara mewah, meriah, dan megah. Menurut kesoktauan seorang intel, Ahn dan Goo akan menyumbangkan biaya pesta pernikahannya untuk keperluan donasi. Mereka akan menyalurkan sumbangan ke Rumah Sakit anak di Korea. Sebagai ganti dari pesta pernikahan, Ahn dan Goo hanya akan merayakan pernikahan mereka dengan pertemuan keluarga dari kedua belah pihak.

Akhir kata, cuma mau bilang, “Ternyata adik Cheon Song Yi sudah dewasa ya, syelamat, dan bahagia selalu. Ya, semoga segala niat baik itu dimudahkan jalan dan urusannya. Syelamat kakak :D”

Jeda


Apa obat yang paling mujarab untuk jiwamu yang kosong?
Jeda.
Men-jeda dari hiruk pikuk dunia dan men-dekat pada Yang Kuasa.

Apa obat yang paling mujarab untuk hubunganmu yang kosong?
Jeda.
men-jeda dari pertemuan yang tiada arti, perselisihan pendapat, pertengkaran kecil.
men-jeda agar belajar saling mempercayai.
Tidak perlu merasa paling benar. Cukuplah mengerti. Memahami. Cobalah.
cukup beri 'jeda'.
Sama halnya seperti huruf. Ia akan jadi tiada arti jika tak ada jeda. Ia butuh jeda. Supaya ia jadi rangkaian kata yang indah dan bermakna.

Jikahuruftersusunmenjadisebuahkatanamuntanpajedamakaiaakansulitdimengertisulitdipahamitidakbermaknadantidakindah.

Berilah jeda-secukupnya. Agar tidak berantakan.

Apa jeda cukup bisa memperbaiki segala yang 'kosong'? Jawabannya, tergantung.
Apa yang sebenarnya kau cari? Kebahagiaanmu atau kebahagiaan bersama?
Lalu apa 'bahagia'?

Bahagia adalah aku yang masih bisa menjadi kendali dan alasan mereka untuk mengatakan “karenamu, aku bisa menjadi bahagia”. Lalu, kamu berdua menjadi bahagia-bersama.

Beberapa kisah memang tak tahu harus berakhir dimana.
Beberapa kisah memang tak tahu harus berakhir seperti apa.
Kita seperti pengendara di daerah asing, hingga kita benar benar bisa berkata pada diri kita sendiri "aku sudah sampai". Kita mengendarai kendaraan kita dengan segala kendali dari Yang Maha Pemberi Jalan dan kemampuan mengemudi dan mengendalikan kendaraan kita. Menelusuri jalan, bertemu dengan beberapa orang yang mungkin tepat atau mungkin tidak tepat sebagai tempat kita berlabuh, beristirahat sejenak, atau sekadar bertanya jalan mana yang harus kita lewati.

Tuhan itu tahu persis siapa saja orang-orang yang hanya hadir lalu berlalu dan siapa yang harus berhenti dan menjadi bagian dari kehidupan kita. Perkara jodoh itu urusan Tuhan, lantas, apakita masih bandel mengintervensi skenario-Nya? Nggak hanya panitia ujian SBMPTN aja yang keputusannya mutlak dan tidak dapat diganggu gugat. Tuhan lebih bisa melakukannya. Sekali lagi, kalo minta jangan sok tau. Aja keminter. Untuk urusan ini, ‘aja songong' *jangan songong, plis. Boleh saja kamu minta, tapi kalau ndak dikasih, plis jangan sok tau, apalagi sampai nyalahin orang lain. Boleh saja kamu minta, tapi kalau ndak dikasih, ya berarti harus usaha lagi dan minta lagi. Kalau belum dikasih juga yang diminta, yaudah terima aja yang dikasih. Lo yang minta, lo udah dikasih, plis bersyukur aja :)


Jadi, cobalah men-jeda. Sempatkan merenung. Lalu, jangan sampai bosan untuk selalu berdoa. Minta sama Yang Maha Kaya dan Maha Bisa, tapi jangan sok tau.
Jeda.

Man Jaddwa Wa Jadda. Barangsiapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan berhasil. In sya allah.

Sekian.
#note to myself.

Cinta Pertama di Bulan Desember

Ibu, barangkali aku bukan tipe anak yang romantis ala Tere Liye. Aku bukan pula salah satu anak laki-laki yang sering disebut Tere Liye dalam novelnya. Cinta pertama seorang anak laki-laki dalam hidupnya adalah ibunya. Aku mungkin tipe anak yang selengekan ala Sujiwo Tedjo yang jika ditanya siapa cinta pertamaku, akan kujawab Angelina Jolie. Namun, semenjak dia bersama dengan Bradd Pitt, aku sudah tak peduli lagi dengan kecantikan wanita.

Kini, aku semakin realistis. Usiaku semakin menua. Aku membutuhkan seseorang yang bisa menemaniku, mendampingiku, yang bukan sekadar ibu. Ibu tetap kucintai sebagai wanita yang telah bersedia menampungku dalam rahimmu, bersedia bersusah payah membawaku kemana saja ibu berada, berjasa menuntun-mendampingi-mendewasakanku. Aku hanya ingin seorang lagi yang bersedia membantuku-membalas semua kebaikanmu. Satu saja ibu, aku butuh restumu agar semua ini berjalan dengan mudah. Merawatmu bersama ayah, mengganti semua waktumu yang pernah ibu berikan padaku, hingga kuhabiskan sisa waktu yang kita miliki bersama. Tentu bukan Angelina Jolie yang akan kupilih, karena dia telah bersama Brad Pitt. Bukan pula Luna Maya, karena dia berjanji akan berkarir di Jakarta. Aku hanya butuh satu yang bisa dekat denganmu, juga dekat denganku. Aku hanya butuh satu, wanita yang kucintai yang bersedia menghabiskan sisa waktunya berbagi denganku berbakti kepadamu.

Ibu, tiada lagi yang perlu engkau khawatirkan. Karena cintamu nomer satu di hati putramu.

Ibu, selamat hari ibu. Semoga ibu sehat selalu. Ingin kucium dan kupeluk ibu, namun sekali lagi namun... Aku bukanlah tipe anak laki-laki yang romantis ala Tere Liye yang bisa melakukan hal semacam itu. Aku hanya anak laki-laki yang jenaka dan gengsinya gedhe macam Sule, yang hanya bisa mencium tangan ibu dan berdoa semoga ibu selalu sehat dan dilingkupi kebahagiaan.

Ibu, ini masih dalam rangka menyambut tanggal 22 Desember. Sudah kubilang aku bukanlah anak manis tipe Tere Liye yang akan merengkuh kedua telapak kaki ibu jika aku ingin meminta maaf padamu. Aku hanya tipe anak bandel yang hanya bisa menangis dan berdoa memohon ampunan Tuhan jika aku telah berbuat salah padamu. Aku hanya tipe anak yang keras kepala yang diam-diam berbuat baik membantumu, jika aku sedang menginginkan sesuatu. Aku tipe anak yang gengsinya gedhe dan hanya bisa meringankan pekerjaan rumahmu jika aku sedang membutuhkan doa dan restumu agar apa yang sedang kuinginkan terkabul.

Ibu, tiada lagi yang perlu engkau khawatirkan. Karena cintamu nomer satu di hati putramu.

Aku mencintaimu, meski tidak pernah kukatakan padamu.


Happy mother’s day untuk seluruh perempuan di dunia :)

Memahami

aku mendengar getar suaramu, aku melihat kosongnya tatapan matamu setiap kali kau kudapati duduk seorang diri di kursi dapur rumah kita. Apa kamu sedang berpikir, dengan apa kita akan makan esok hari? Aku mendengar getar suaramu yang mencoba menceritakan hal membahagiakan meski bertentangan dengan suasana hatimu. Aku membaca rahasia yang coba kau sembunyikan dari gemerlap godaan duniawi. Dan tiba-tiba aku ingin menuliskan bait ini, barisan kata-kata yang di dalamnya kusebut namamu. Doa. Kau yang gemar menyimpan duka seorang diri, ikhlaslah, kuatlah. Aku suka kata-katamu tempo hari saat kau duduk bersama denganku menonton tayangan tivi kesukaanmu, "Seburuk apapun pandangan dunia terhadapmu, pada akhirnya tempat yang selalu bersedia menerimamu dan membantumu adalah keluarga.."

"I'm sorry for blaming you.."ini yang ingin kukatakan padamu. Aku yang sempat menyalahkanmu, akhirnya menyadari bahwa ada hal di dunia ini yang tidak kita sadari keberadaannya, sampai hal itu hilang. Saat kita dihakimi oleh dunia, dan tiba-tiba tak seorangpun dari kawanmu membantumu, maka sesungguhnya sejak awal kawan itu benar-benar tidak ada. Atau saat kita dihakimi oleh dunia, kemudian salah seorang yang tidak pernah kita sebut dalam doa justru datang membantu kita, maka sesungguhnya sejak awal dia ada. Kamu bilang, "Aku tak memintamu untuk memaafkanku, aku hanya ingin kau memahaminya." Aku tahu kamu menangis, meski kau berdalih mengalihkan pandanganmu dariku.

Tak bolehkah laki-laki menangis? Sebegitu melukai harga diri seorang laki-lakikah, jika ia menangis karena tak sanggup menanggung dukanya seorang diri? Menangislah, atau kau adukan semuanya padaNya.


"Aku sedang berusaha dan mengupayakan apa yang terbaik bagi kita."
Ini yang ingin kusampaikan padamu. Jadi, jangan kau simpan bebanmu seorang diri. Tidak perlu menyakiti dirimu sendiri, dan bahagialah kedepannya.
Bahagialah dan adukan semua kebahagiaanmu padaNya.


Seems like it was yesterday when I saw your face
You told me how proud you were but I walked away
I'm sorry for blaming you for everything
I just couldn't do and I hurt myself by hurting you

[Hurt - Christina Aguilera]

Kehilangan

Setiap kali berulang tahun, aku semakin mendekati tempat asalku: ketiadaan. Ibuku bilang, dunia ini sendiri pun lahir dari ketiadaan. Karena lahir dari ketiadaan, mengapa pula harus mencemaskan kehilangan?

Ramadhan 1435 H, seorang ayah dari dua anak mengayuh sepeda usang sepulang dari kantor. Di usia senjanya menanti masa pensiun, keimanannya tengah diuji oleh Tuhannya. Dia bilang 6 Juli adalah tanggal ulang tahunnya. Dia bilang bahwa, sisa hidupnya hanya ingin ia gunakan untuk beribadah kepada Tuhannya. Dia bilang bahwa motivasi terbesarnya untuk bertahan adalah keinginannya melihat anak-anaknya tumbuh dewasa, sukses, dan bahagia. Salah seorang dari mereka bilang bahwa hal yang paling menyakitkan adalah melihat laki-laki yang dicintainya menangis, ayahnya.


"Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

"Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."

"Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi. Dan keoada Allah-lah dikembalikan segala urusan."

"Dialah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati."

"Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar."

"Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Al Quran) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu."

"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu."

"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah."

[Al Hadiid]



Jangan menangis, karena yang terpenting bagi anakmu adalah kesehatanmu, dan kebaikanmu pada orang lain. Tuhan sedang menguji ketaatanmu, ketaatan istri dan anak-anakmu.

Seorang Ibu di Ruang Tunggu

Duduk seorang diri ibu dengan koper dan satu tas jinjing di ruang tunggu peron sebuah stasiun di Jogjakarta. Beberapa detik setelah seorang gadis kecil berkerudung ungu duduk di sampingnya, ibu mengangkat telponnya sambil menangis. Gadis itu menoleh. Nampaknya, ada seseorang yang begitu dicintai telah tiada. Gadis itu tak sengaja mendengarkan. Dirinya hanya seorang gadis kecil yang tak berbekal uang banyak dan hanya membawa alquran kecil di dalam tasnya. Dirinya pun bukan gadis pintar yang pandai menghibur orang dewasa. Sesaat dia hanya diam menunggu ibu menutup telponnya dan menyeka air matanya. Kembali ibu itu terisak meski tidak sedang berbicara dengan seseorang di seberang telepon.

"ibu mau kemana? ini buat ibu." gadis itu menyodorkan Alquran kecil miliknya.
terdengar pemberitahuan bahwa kereta api bogowonto tujuan Jakarta Pasar Senen akan segera tiba. dan ibu pun menghilang.
gadis itu hanya menaruh harapan, semoga ibu baik-baik saja

Be What You Wanna Be

[Darin]

Doctor, actor, lawyer or a singer
Why not president, be a dreamer
You can be just the one you wanna be
Police man, fire fighter or a post man
Why not something like your old man
You can be just the one you wanna be

I know that we all got one thing
That we all share together
We got that one nice dream
We live for
You never know what life could bring
Because nothing last for ever
Just hold on to the team
You play for
I know you could reach the top
Make sure that you won’t stop
Be the one that you wanna be

Doctor, actor, lawyer or a singer
Why not president, be a dreamer
You can be just the one you wanna be
Police man, fire fighter or a post man
Why not something like your old man
You can be just the one you wanna be

We may have different ways to think
But it doesn’t really matter
We all caught up in the steam of this life
Focus on every little thing
That’s what does really matter
Luxury cars and bling, that's not real life


Nak, kamu bukanlah apa kata orang, kamu adalah dirimu sendiri. Kamu berharga, meski kata orang tanpa prestasi. Kelahiranmu di dunia inilah yang membuatmu tak ternilai harganya. Ibu hanya ingin berpesan, ini tentang lagu yang pernah ibu dengar ketika ibu beranjak dewasa. Lagu yang ibu kenal lewat seorang kawan baik ibu di perantauan. Ibu berjanji tak akan pernah melarangmu menjadi apapun yang kamu inginkan. Ketika ibu sakit, dan ayahmu mengantar ibu ke dokter, kamu berujar ingin menjadi dokter. Ketika kamu menonton film kartun kesukaanmu, kamu bilang kamu ingin menjadi seperti Elsa (*Frozen). Ketika kamu melihat ayahmu memakai seragam di tengah libur panjangmu merayakan lebaran bersama ibu, ayahmu justru selalu terjaga hingga malam demi melihat orang lain selamat hingga sampai di kampung halamannya, kamu bilang kamu ingin menjadi seperti yang ayah lakukan. Ketika kamu melihat ibu bercerita, bersendau gurau, belajar bersama-sama kawan-kawanmu di kelas kecil di rumah kita, kamu bilang kamu ingin menjadi seperti ibu. Ketika kamu melihat kakak dari kawan sepermainanmu, yang setiap hari Jumat bisa kamu lihat di televisi usang kita, kemudian kamu melihat dia pulang dengan membawa kendaraan mewah, memperbaiki rumah kawanmu itu menjadi seperti istana, dan mengirim kedua orang tua kawanmu itu pergi dengan berpakaian serba putih suci, kamu bilang ingin menjadi seperti dia. Ibu tidak ingin meminta banyak, ibu hanya berpesan, bahwa apapun yang kamu inginkan, dokter, aktor, polisi, pemadam kebaran, hakim, pengacara, guru, penyanyi, arsitek, astoronot, insinyur, atlet, atau presiden, sadarilah bahwa apapun pekerjaan itu, pasti akan selalu ada tantangan yang siap menghadang di depannya. Maka, jangan menyerah! Jika kamu mencari tahu tentang bagaimana kondisi negeri ini saat ibu menulis ini, kamu akan menyadari bahwa masa lalu seseorang itu penting bagi orang lain. Seberapapun kelamnya masa lalu yang ingin kamu lupakan dan ingin kamu perbaiki di masa depan, namun ketika orang lain mulai menyukai mencampuri urusanmu, dia akan berusaha mati-matian mengetahui segalanya, termasuk masa lalumu itu. Maka, jadikan setiap perjalananmu itu bersinar meski kamu harus jungkir balik. Tidak akan ada yang mampu merobohkanmu. Kamu harus menyadari bahwa perjalananmu bersinar bukan semata karena usahamu, tetapi ada campur tangan Tuhanmu. Jika kamu sedang bersaing dengan orang lain, jangan pernah menyakiti dan membuka aibnya di mata orang lain. Karena sesungguhnya aibmu pun sedang Tuhanmu tutupi. Cintailah, bahagialah. Jadilah apapun yang kamu impikan, lakukan dengan bahagia, bahagia dengan tidak menyakiti dirimu sendiri Nak, dan juga tidak menyakiti orang lain.

Agni

Agni..

Adalah perempuan jawa yang hidup di abad milenium yang paling normal yang pernah kukenal.
Adalah sebenarnya perempuan tidak normal yang mencoba terlihat sebagai perempuan normal.


Instingnya terlalu kuat untuk menebak hal hal tak masuk akal yang akhirnya menjadi masuk akal. Dia hanya bilang bahwa aku adalah orang yang paling ia percayai. Agni menyimpan kagum pada seorang pria. Jika perempuan normal akan berusaha mati-matian menarik perhatian pria yang ia kagumi, berbeda dengan agni. Agni tahu, bahwa menyapanya lewat sms, facebook, twitter, line, wa adalah salah satu cara menarik perhatian pria yang diidamkannya. Agni, perempuan yang menjadi 'gila' karena menyimpan cinta pada seorang pria. Agni, memendam kagum pada seorang pria, diam saja, melihatnya dari jauh, tidak pernah menyapanya lewat sms maupun wa, tidak pernah mendramatisir supaya bisa berpapasan dengannya; tidak pernah mengirim surat cinta, tidak pernah berkomentar pada status fb, twitter, line-nya; tidak pernah basa-basi mengucapkan selamat ulang tahun pada pria yang disukainya, dan selamat-selamat lainnya. Agni, hanya berdiri dari sudut yang tak pernah pria itu lihat, kemudian bersimpuh juga dari sudut yang tak pernah satupun orang ketahui. Agni, sedang belajar mencintai Tuhannya lebih dalam lagi. Mendekat bukan pada pria idolanya, tetapi pada Tuhannya. Itu, Agni, perempuan paling normal yang pernah kukenal.
Perempuan lain yang tidak normal, akan mencintai dengan cara yang berbeda.

Agni, berarti 'api'. Baginya, dia bukan 'api' yang sebenarnya. Bagi kaum Sanskrit, api sering digunakan pada upacara tertentu. Dialah api yang melenyapkan kemungkaran yang ada. Dialah wujud 'kepasrahan', keikhlasan, dan rasa syukur. Agni, melepaskan kecintaannya pada dunia. Agni, tidak mengagungkan duniawi, dan kecantikan manusia. Dan masih sama seperti dulu, bagiku Agni tetaplah perempuan normal yang paling cantik yang pernah kutemui.

Dia bilang mimpinya adalah mau memberi nama semua anak-anaknya dengan nama yang diambil dari bahasa Sanskrit, seperti nama panjangnya. Ah ya kebetulan sekali, aku menulis ceritanya sambil mendengar lagu Ta Ra Rum Pum.. lagu kesukaannya. Agni, sudahkah kamu menikah dengan pria idamanmu? Kamu bilang dia bernama Tirta? Aku hanya dengar dari mulut orang lain, bahwa hidupmu telah berubah di negeri seberang sana? Agni berubah menjadi perempuan utuh yang paling normal. Agni, perempuan bahagia dimanapun dia berada.

Kini, dia tidak lagi menebak hal-hal tak masuk akal, karena baginya hal yang paling masuk akal di dunia adalah berada di samping Tirta. Ah, ya dan sekali lagi Tuhan menunjukkan betapa romantisNya Dia 'kan? Tanpa Agni ketahui, sujudnya dari sudut yang tak pernah satupun orang ketahui itu ternyata ada Tuhan di sampingnya, mendengarkannya, kemudian mengabulkan permohonannya. Tuhan membalas cintanya. Begitu pula Tirta. Tuhan memudahkan pilihannya. Agni, Masih ingat ketika kau kutanya, "Pilih mencintai atau dicintai?" kemudian kamu menjawab, "Aku memilih saling mencintai." Ya, dan Tuhan Maha Tau jawaban atas jawabanmu itu. Tirta, adalah jawabannya.


"Selamat, Agni." dan ini bukan basa-basi :)

Looking Up Together

[Looking Up Together]


Rise up, you dreamer,
stand strong forever, when life tosses you around and keeps you down
Imagine, you dreamer,
how much I love you
I will help you in times of need, when the darkness makes you cry
As you trust me and as you love me,
Every dream will be come true!

We look up as one together
We all fly up high together
to see beyond
move forward to one future
Dream whatever you want to dream
Go wherever you want to go
'cause you and I trust and love forever more

Call me for your help, I'll stand beside you
I still just believe in you, I see sunrise in your eyes
As you trust me and as you love me,
You know that we can make it true
I am thankful that I found you
You're the one who can hold my hand and go forth

I know that you won't give up.
I'm giving you all of my heart.
I'm giving you my love.


adalah seorang laki-laki seperempat abad yang sedang menjemput segala mimpinya. Kekasih hidupnya, rejekinya, masa depannya. Hidup seorang diri di perantauan setelah separuh hidupnya ia habiskan di kota kelahirannya. Ia bertemu dengan seorang laki-laki lain yang menjadi tempatnya membuang segala keluh kesah, sekaligus kebahagiaan saat ia menempuh pendidikan pasca sekolah menengah. Ia yang dia sebut sebagai seorang sahabat. Siapa sangka persahabatan sepasang lelaki justru eratnya melebihi persahabatan sepasang perempuan. Dia mungkin tidak menyadari bahwa apa yang mereka berdua lakukan, biasa orang lain sebut dengan persahabatan, karena mereka berdua tidak pernah mengikrarkan hal tersebut. Yang mereka tahu, mereka hanya perlu saling berkunjung, saling mendengarkan, saling tertawa menertawakan, saling menangis tanpa perempuan ketahui, saling membuka diri, saling bercerita, saling berdebat, saling marah, saling membentak, saling memaafkan. Itu yang mereka lakukan setiap kali marah, selalu berujung saling memaafkan kemudian pergi ke kampus bersama dengan mengayuh sepeda.

Hingga suatu ketika, tanpa disadari tahun keempat mereka di kampus sudah di depan mata. Mereka berdua diwisuda. Mereka berdua berpisah, salah satunya mengenyam pendidikan lanjutan di di kota lain, sedangkan seorang lagi bekerja di ibukota dan memutuskan untuk menikahi perempuan yang ia cintai. Mereka berdua saling berjanji bahwa apapun yang terjadi pada diri mereka masing-masing, meskipun terpisah ruang dan waktu, mereka akan saling mengabari. Prinsipnya adalah kabar tentang apapun, keduanya harus mengetahuinya langsung dari sahabatnya. Bukan dari orang lain. Benar saja, kabar tentang sahabatnya yang menikah, mendapatkan pekerjaan, pindah rumah, rencana memiliki anak kembar, ia ketahui langsung dari sahabatnya bukan dari orang lain. Dan siapa sangka, doa dari siapapun itu, kini sang sahabat itu dalam rahim istrinya sedang dititipkan sepasang anak kembar. Ia tidak pernah berkoar bahwa selama ini ia memanjatkan doa agar sang sahabat selalu mendapatkan segala yang ia inginkan. Kini ia menyadari bahwa prioritas kepentingan dirinya di mata sahabatnya tidak akan sama seperti ketika mereka berdua hidup hanya seorang diri. Kini, sahabatnya memiliki list pertama pada prioritas kepentingannya, yaitu istri dan calon anaknya. Ia menyadari hal itu. Lalu kemanakah is harus berlari ketika seisi dunia ini justru akan memberatkan langkah kakinya? Ia menyadari bahwa sahabatnya kini, sudah menemukan sahabat sejatinya untuk kehidupannya, yaitu istri dan anaknya. Kini, ia hanya perlu untuk berupaya bertemu dengan sahabat sejati yang belum sempat ia temui. Mimpinya bukan lagi bisa tumbuh menjadi sarjana yang baik, atau tumbuh menjadi pengusaha yang sukses, atau pejabat pemerintahan yang mulia. Mimpinya sederhana, hanya ingin tumbuh menjadi seorang ayah yang baik, dan terus tumbuh menjadi anak yang baik bagi bapak ibunya yang semakin renta.

Meskipun terlihat tertawa dan jenaka, sesungguhnya di dalam hatinya ada perasaan yang masih ia sembunyikan; "setelah berbagai upaya kutempuh untuk memenuhi semua mimpiku, aku hanya takut justru aku tidak akan mendapatkan apapun. Kemanakah aku harus berlari dan menyampaikan perasaanku, kalau bukan padaMu?"

Jangan Menangis

Untuk perempuan bermata sendu, apa kabar hatimu?
Masihkah kamu dengan kebiasaanmu yang suka menyimpan duka seorang diri?
Oh Tuhan, sungguh kali ini aku tak tahu apa yang kuinginkan.. aku tak tahu solusi semacam apa yang kuingkan datang dari Mu.. Hanya berilah jalan keluar terbaik.. untuk hidupku... untuk hatiku... untuk hidup kami.

Jangan menangis..