Ngomongin Soal PKN

Eh, lagi pada rame ngomongin kemenkes ya?
haik, jadi ngepoin postingannya dokter. Isinya:
1. bla...bla..bla...promosi PKN (bukan Pendidikan KewargaNegaraan tapi, Pekan K*nd*m Nasional) aduh!
Lalu, ada postingan gini,
2. "Jangan stigma orang dg HIV pasti perilaku seksualnya buruk krn penularan HIV tdk hanya krn hubungan seksual yg tdk aman"

coba deh, logikanya dimana?
nah lo, apa hubungannya pada mbagiin tuh k*nd*m sama penularan hiv? Katanya "World AIDS Day", kenapa yang dibagiin k*nd*mnya? harusnya tuh sosialisasi gaya hidup sehat, pergaulan yang sehat, donor darah yang sehat itu kayak gimana.
Mereka mah sukanya suudzon gitu, siapa coba yang punya stigma orang dg HIV pasti perilaku seksualnya buruk? mereka malah jadi bikin orang-orang alim jadi suudzon, justru karena mereka membagikan tuh k*nd*m.
Mau dikemanain tuh k*nd*m kalau sasarannya aja mahasiswa, para muda belia secara usia yang dasarnya belum menikah. mau mbok jadiin bahan rakitan buat ngeluncurin satelit di luar angkasa? Wahai bapak ibu yang berpendidikan, itu bukan semacam barang komplementer yang bisa nglengkapi fungsi barang lainnya. Bukan kayak mobil yang baru bisa jalan kalo ada bensinnya. Tuh k*nd*m barang siap pakai tanpa perlu ada barang komplementer. Mau dikemanain kalau nggak dipake coba? mau mbok bakar kaya rokok? bakar duit negara, buk! Nah pertanyaannya, siapa yang make coba kalau ibuk ngasihinnya ke para muda belia?

Kalau mau teriak-teriak promosi "World AIDS Day" itu bukan dengan ngebagiin tuh k*nd*m, sono pikirin agenda yang lebih bermutu, berkualitas, dan nggak ngeluarin duit yang justru nggak guna. Ngapain juga pake acara konser-konser jup* buat nglemparin k*nd*m, dipikir nggak pake duit apa ya? mending buat acara pekan pemeriksaan darah gratis kek, ato gimana, biar orang itu bisa deteksi dini.

Sejak saya lahir sampe jadi mahasiswa semester akhir, belum tau wujud dan teknis penggunaan tuh barang. Dulu, karena justru ada iklan tuh barang yang suka sliweran seenaknya di jam-jam belajar siswa, saya punya persepsi tuh barang sejenis minuman bersoda karena ada sensasi rasanya (salahmen iklan e ra jelas). Coba deh tuh iklan nggak usah ada, mendingan publikasinya tuh jangan lewat tivi, tapi lewat KUA, lewat dokter spesialis kandungan , rumah sakit, bidan, ato tenaga medis gitu aja.

Lanjut, ada postingan gini @blogDokter:
3. "K*nd*m bisa mencegah penularan HIV tetapi tidak terlalu efektif alias tidak dpt melindungi 100 persen"
tuh kata TETAPI, tidak terlalu efektif alias tidak dpt melindungi 100 persen harus dicetak tebal. Nulis sendiri, harusnya sadar salahnya dimana. Kalo nggak efektif kenapa juga ada acara bagi bagi gituan segala? ujung-ujungnya cuma bilang, buang buang duit Kisanak! Lah, bukannya buat mencegah, membentengi dari tersebarnya penyakit kayak gitu justru bisa dimulai pembekalan lewat Spiritual Quotient?

4. "Kalau pemikiran ttg seks bagus si penerima k*nd*m, bisa saja k*nd*mnya dia hadiahkan ke keluarganya yg sdh menikah utk KB" (postingan selanjutnya)
aduuuh sayangnya saya agak pesimis, bapak ini terlalu polos, terlalu baik buat berpikiran kayak gitu. Orang bapak aja ngebagiinnya asal lempar gitu, tanpa ada tulisan -mohon diberikan kepada yang 'berhak'- atau -hanya dipakai oleh orang yang sudah menikah- atau apalah. Kata orang jawa, "mindho gaweni Pak!" Pa ya arep digagas sama orang yang nerima, meskipun dia pemikiran tentang seks-nya bagus, terus dia bakalan bawa sekardus gitu buat dibagiin sama keluarganya, nunggu pulang dari perantauan ke kampung halamannya baru dibagiin gitu? Aduh, budaya kita masih budaya santun, yang agak tabu mbicaraiin hal begituan secara vulgar meskipun sama orang-orang dekat. Karena hal semacam itu cukup privasi saja, Tuan!
ibaratnya kayak bapak nulis status di FB, mau mbok jadiin -publik- atau -privasi- itu semua tergantung bapak!


sekian. correct me if i'm wrong, cuma manusia awam yang nggak tau apa-apa.


[Ampuni hamba yaa Allah]

Reflection :')

Dulu, aku pernah sangat kagum pada manusia cerdas, sangat kaya, berhasil dalam karir hidup & hebat dalam dunianya... Sekarang, aku memilih untuk mengganti kriteria kekagumanku, aku kagum dengan manusia yang hebat di mata Tuhan, dimata bapak dan ibunya. Sekalipun kadang penampilannya begitu biasa & bersahaja!

Dulu, aku memilih marah karena merasa harga diriku dijatuhkan ketika orang lain berlaku kasar kepadaku, menggunjingku dan menyakitiku dengan kalimat-kalimat sindiran. Sekarang, aku memilih untuk bersyukur, karena aku yakin ada cinta yang akan datang dari mereka ketika aku mampu untuk memaafkan & bersabar.

Dulu, aku memilih mengejar dunia & menumpuknya sebisaku... Ternyata aku sadari kebutuhanku hanyalah makan & minum untuk hari ini & bagaimana cara membuangnya dari perutku... Sekarang, aku memilih untuk bersyukur dengan apa yang ada & memikirkan bagaimana aku bisa mengisi waktuku hari ini, dengan penuh kasih & bermanfaat untuk sesama...

Dulu, aku memilih mengejar prestasi sekuat tenaga, tanpa mempedulikan karakter. Sekarang, aku memilih untuk bersyukur apa yang sudah ada, sambil mengusahakan yang belum ada. Mendengar dan memahami cerita-cerita orang-orang di sekitarku.

Dulu, aku berpikir bahwa aku bisa membahagiakan orangtua, saudara & kawan-kawanku kalau aku berhasil dengan duniaku. Ternyata... yang membuat kebanyakan dari mereka bahagia adalah bukan itu semua, melainkan sikap, tingkah & sapaanku kepada mereka…. Sekarang, aku memilih untuk membuat mereka bahagia dengan apa yang ada padaku...

Dulu, pusat pikiranku adalah membuat rencana-rencana dahsyat untuk duniaku... Semakin ke sini, ternyata aku terlampau sering lalai pada pencarian bekalku untuk menemuiNya. Teman & saudara-saudaraku begitu cepat menghadap kepadaNYA. Sekarang, yang menjadi pusat pikiran dan rencanaku adalah bagaimana mempersiapkan diri dan terutama hatiku agar aku selalu siap jika suatu saat namaku dipanggil olehNya...

Tak ada yang dapat menjamin bahwa aku dapat menikmati teriknya matahari besok. Tak ada yang bisa memberikan jaminan bahwa aku masih bisa menghirup nafas esok hari... Kalau hari ini dan esok hari aku bisa hidup, itu semata-mata Anugerah Tuhan.

Allah, terimakasih.

Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta alam.

potongan doa

wahai..
sebuah nama yang belum tereja,
sebuah rupa yang belum tersketsa,
sebuah sosok yang entah dimana
calon pemimpin sisa perjalanan ini

Yaa Rabb...
Jaga ia di manapun berada
Mudahkan langkahnya
Tunjukkan jalannya
Luruskan niatnya
Bulatkan tekadnya
Mantapkan hatinya
Berkahilah rizkinya
:)

Mang Soleh dan Mang Udin

[repost dari sebuah fanspage]

Mang Udin, begitulah dia dipanggil, seorang penjual jasa perbaikan sepatu yang sering disebut tukang sol. Pagi buta sudah melangkahkan kakinya meninggalkan anak dan istrinya yang berharap, nanti sore hari mang Udin membawa uang untuk membeli nasi dan sedikit lauk pauk. Mang Udin terus menyusuri jalan sambil berteriak menawarkan jasanya dan jika hari sudah mulai terik, mang Udin mangkal di trotoar belakang sebuah kampus. Sampai tengah hari, baru satu orang yang menggunakan jasanya. Itu pun hanya perbaikan kecil.

Perut mulai keroncongan. Hanya air teh bekal dari rumah yang mengganjal perutnya. Mau beli makan, uangnya tidak cukup. Hanya berharap dapat order besar sehingga bisa membawa uang ke rumah. Perutnya sendiri tidak dia hiraukan.

Di tengah keputusasaan, dia berjumpa dengan seorang tukan sol lainnya. Wajahnya cukup berseri. “Pasti, si Abang ini sudah dapat uang banyak nich.” pikir mang Udin. Mereka berpapasan dan saling menyapa. Akhirnya berhenti untuk bercakap-cakap.

“Bagaimana dengan hasil hari ini bang? Sepertinya laris nih?” kata mang Udin memulai percakapan.

“Alhamdulillah. Ada beberapa orang memperbaiki sepatu.” kata tukang sol yang kemudian diketahui namanya Bang Soleh.

“Saya baru satu bang, itu pun cuma benerin jahitan.” kata mang Udin memelas.

“Alhamdulillah, itu harus disyukuri.”

“Mau disyukuri gimana, nggak cukup buat beli beras juga.” kata mang Udin sedikit kesal.

“Justru dengan bersyukur, nikmat kita akan ditambah.” kata bang Soleh sambil tetap tersenyum.

“Emang begitu bang?” tanya mang Udin, yang sebenarnya dia sudah tahu harus banyak bersyukur.

“Insya Allah. Mari kita ke Masjid dulu, sebentar lagi adzan dzuhur.” kata bang Soleh sambil mengangkat pikulannya.

Mang udin sedikit kikuk, karena dia tidak pernah “mampir” ke tempat shalat.

“Ayolah, kita mohon kepada Allah supaya kita diberi rezeki yang barakah.”

Akhirnya, mang Udin mengikuti bang Soleh menuju sebuah masjid terdekat. Bang Soleh begitu hapal tata letak masjid, sepertinya sering ke masjid tersebut.

Setelah shalat, bang Soleh mengajak mang Udin ke warung nasi untuk makan siang. Tentu saja mang Udin bingung, sebab dia tidak punya uang. Bang Soleh mengerti,

“Ayolah, kita makan dulu. Saya yang traktir.”

Akhirnya mang Udin ikut makan di warung Tegal terdekat. Setelah makan, mang Udin berkata,

“Saya tidak enak nih. Nanti uang untuk dapur abang berkurang dipakai traktir saya.”

“Tenang saja, Allah akan menggantinya. Bahkan lebih besar dan barakah.” kata bang Soleh tetap tersenyum.

“Abang yakin?”

“Insya Allah.” jawab bang soleh meyakinkan.

“Kalau begitu, saya mau shalat lagi, bersyukur, dan mau memberi kepada orang lain.” kata mang Udin penuh harap.

“Insya Allah. Allah akan menolong kita.” Kata bang Soleh sambil bersalaman dan mengucapkan salam untuk berpisah.

Keesokan harinya, mereka bertemu di tempat yang sama. Bang Soleh mendahului menyapa.

“Apa kabar mang Udin?”

“Alhamdulillah, baik. Oh ya, saya sudah mengikuti saran Abang, tapi mengapa kok penghasilan saya malah turun? Hari ini, satu pun pekerjaan belum saya dapat.” kata mang Udin setengah menyalahkan.

Bang Soleh hanya tersenyum. Kemudian berkata,

“Masih ada hal yang perlu mang Udin lakukan untuk mendapat rezeki barakah.”

“Oh ya, apa itu?” tanya mang Udin penasaran.

“Tawakal, ikhlas, dan sabar.” kata bang Soleh sambil kemudian mengajak ke Masjid dan mentraktir makan siang lagi.

Keesokan harinya, mereka bertemu lagi, tetapi di tempat yang berbeda. Mang Udin yang berhari-hari ini sepi order berkata setengah menyalahkan lagi,

“Wah, saya makin parah. Kemarin nggak dapat order, sekarang juga belum. Apa saran abang tidak cocok untuk saya?”

“Bukan tidak, cocok. Mungkin keyakinan mang Udin belum kuat atas pertolongan Allah. Coba renungkan, sejauh mana mang Udin yakin bahwa Allah akan menolong kita?” jelas bang Soleh sambil tetap tersenyum.

Mang Udin cukup tersentak mendengar penjelasan tersebut. Dia mengakui bahwa hatinya sedikit ragu. Dia “hanya” coba-coba menjalankan apa yang dikatakan oleh bang Soleh.

“Bagaimana supaya yakin bang?” kata mang Udin sedikit pelan hampir terdengar.

Rupanya, bang Soleh sudah menebak, kemana arah pembicaraan.

“Saya mau bertanya, apakah kita janjian untuk bertemu hari ini, disini?” tanya bang Soleh.

“Tidak.”

“Tapi kenyataanya kita bertemu, bahkan 3 hari berturut. Mang Udin dapat rezeki bisa makan bersama saya. Jika bukan Allah yang mengatur, siapa lagi?” lanjut bang Soleh. Mang Udin terlihat berpikir dalam. Bang Soleh melanjutkan, “Mungkin, sudah banyak petunjuk dari Allah, hanya saja kita jarang atau kurang memperhatikan petunjuk tersebut. Kita tidak menyangka Allah akan menolong kita, karena kita sebenarnya tidak berharap. Kita tidak berharap, karena kita tidak yakin.”

Mang Udin manggut-manggut. Sepertinya mulai paham. Kemudian mulai tersenyum.

“OK deh, saya paham. Selama ini saya akui saya memang ragu. Sekarang saya yakin. Allah sebenarnya sudah membimbing saya, saya sendiri yang tidak melihat dan tidak mensyukurinya. Terima kasih abang.” kata mang Udin, matanya terlihat berkaca-kaca.

“Berterima kasihlah kepada Allah. Sebentar lagi dzuhur, kita ke Masjid yuk. Kita mohon ampun dan bersyukur kepada Allah.”

Mereka pun mengangkat pikulan dan mulai berjalan menuju masjid terdekat sambil diiringi rasa optimis bahwa hidup akan lebih baik.
Selesai shalat, keduanya berpisah melanjutkan mencari rezeki di tempat terpisah sembari berjalan menuju rumah masing-masing.

***

Nampaknya kita perlu, mengupgrade keyakinan-kepercayaan kita bahwa janjiNya pasti datang.
Mungkin agak berbeda dengan pegawai kantoran, PNS, pejabat birokrasi, yang justru jadwal istirahat siang mereka sudah diatur dari jam 12.00 sampai 13.00. Itu lebih dari cukup untuk shalat dan makan siang kemudian melanjutkan aktifitas kantor mereka, melanjutkan kewajiban mereka yang sebenarnya sudah dijanjikan pasti mendapat upah. tetapi, ada beberapa Tuan yang kadang dengan sengaja memperpanjang waktu istirahat siang mereka yang justru digunakan untuk keperluan lain yang sifatnya individualis.
Semoga segera disadarkan, bahwa di sisi lain di luar sana banyak orang macam Mang Soleh dan Mang Udin meskipun waktu istirahat siang, mereka gunakan untuk shalat dan makan siang meskipun hanya terpakai setengah jam, mereka akan langsung melanjutkan bekerja tanpa perlu tau berapa rupiah yang akan mereka dapatkan.
Yah, semua itu karena janji bahwa pegawai sudah punya patokan upah yang akan mereka dapatkan, tanpa perlu banting tulang macam Mang Soleh dan Mang Udin.
Semoga masih ada karakter tangguh macam mereka yang tawakal, ikhlas, dan sabar.

[Ari, 2013]

Casual, Elegant, Adorable

Bismillahirrahmanirrahim.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Allah, akhirnya saya memberanikan diri untuk sharing passion saya.
Berangkat dari ketertarikan saya mengaplikasikan gambaran-gambaran baju yang saya buat sendiri kemudian dimintakan pada penjahit untuk dijadikan gaun, akhirnya ada beberapa teman yang kemudian dengan senang hati minta dibuatkan. Ya, meski gambaran saya jika dibandingkan dengan gambaran-gambaran tangan desainer profesional, insya Allah saya akan selalu terus berusaha.

Saya beri judul "Indonesia's Autumn"
bulan-bulan November seperti ini, mungkin di Eropa sedang musim gugur. Kesan yang dibawa autumn itu "hangat". Untuk itu launching perdana kali ini, semoga bisa diterima dengan hangat oleh para pecinta gaun-pakaian muslimah.
[syar'i, elegant, intelligent, wonderful, adorable, multifunction, fashionable, unforgetable pieces, casual for your daily work and event,to look chick, stylish and precious, mixing culture and modern with perfect match, Let's be and stay tuned on Ardahanareswari]

terimakasih.
Jazakumullah.















dominasi gamis, insya Allah resleting selalu di depan. Tujuannya, untuk memudahkan bagi para ibu menyusui. Kemudian selalu di buat saku, tujuannya untuk memudahkan muslimah agar mudah mengantongi barang bawaan secara ringkas misal seperti hape, dan tidak perlu repot membawa tas terlalu banyak.

SMS: 081227335779

Selamat Hari Guru, Pak

Selamat hari Guru Pak :)

masih tentang tanggal 25 November, seharusnya pagi ini engkau berjalan gagah dan membawa senyuman masuk ke dalam kelas.

Jutaan terimakasih yang sebenarnya sudah kupersiapkan dan hendak kuberikan padamu pagi ini, enggan kusampaikan padamu. Semua hanya berujung menjadi sebuah doa yang tak terucap, kelu di ujung lidah, "engkau yang selalu menganggap kami paling tolol, menganggap hasil kerja keras dan pekerjaan kami berakhir tiada guna, kami hanya berharap semoga kelak engkau tersadarkan, entah dengan cara apa. semoga engkau sehat selalu."

Hubungan kita hanya sebatas relasi antara murid dengan guru kan? seharusnya tidak, sehingga aku bisa melakukan pembelaan terhadap semua perlakuanmu. Engkau tidak hanya sekadar guru, namun pembimbing, pendidik, kawan sharing tentang segala kesulitan-kegalauan dalam hidup dan ilmu pengetahuan, kawan yang saling memberi pelajaran hidup, suri tauladan bagi kami. Maka jika engkau benar-benar sadar akan titel yang tidak hanya sekadar 'guru' (bahwa dibelakang 'guru' masih ada semua itu tadi), maka tentu kata 'g*bl*k' tidak akan keluar dari mulutmu untuk kami.

Engkau seperti dewa, yang perkataannya tidak mungkin kami abaikan. Maka bertutur katalah yang baik, maka tentu kami akan senang bertemu denganmu (lagi).

Nice to meet you.
See you again.
Selamat Hari Guru.


Selasa, 26 November 2013.
kami yang akan selalu berdoa untuk segala kebaikanmu.