Selalu Ada yang Belum Usai

Selalu ada yang belum usai
apakah karena hari selalu berulang?
dan jarum jam bergerak
menuju angka-angka yang sama?

pertemuan
mengantar pada perpisahan
dan perpisahan
selalu menyisakan kenangan
atau tidak meninggalkan apa-apa
kecuali waktu yang terus berjalan

selalu ada yang belum usai
ketika persoalan seperti telah selesai
apakah karena akhir melahirkan awal?
dan awal dibutuhkan untuk mengakhirinya?

selalu ada yang belum usai
selalu...


--Jumat, 15 Juni 2012--
CC

Jogja, Pada Suatu Hari

embun menguap di atas pagar besi tempat itu,
matahari tampak membumbung tinggi setengah tiang,
menutupi bayangan tubuh manusia,
kalau saja detik itu dapat berhenti,
akan kulakukan..
sengaja atau tidak, itu dibawah kuasaNya


kau dan aku
saling terpaku, menyapa di lahan parkir tempat itu
setelah itu, kau melemparkan senyum
dan kita berpisah lagi.. sama seperti pertemuan pertama..
akankah kita bertemu kembali untuk ketiga kalinya di tempat yang sama?
jika iya, aku tidak mau menunggu, karena itu butuh waktu yang lama..

Cerita di Balik Bilik CC

awalnya pengen tak beri judul cerita di balik nomer 0804-1-450-450, tapi berasa kayak prediksi nomer yang bakal keluar nanti malem, hhhee..

Call Center ini, situasional... hanya akan ada kalo ada SNMPTN, untuk itu pasti mudah membayangkan bahwa aku dapat bergabung menjadi bagian Call Center SNMPTN karena Agenda besar macam SNMPTN yang setiap tahun diadakan, perlu berbulan-bulan untuk mempersiapkan bilik informasi ini supaya layak launching, supaya dapat dipercaya sebagai bantuan para penelpon yang membutuhkan informasi, dan untuk tahun inilah kampusku yang dipercaya sebagai bagian kesekertariatan dan menangani Call Centernya. Aku bergabung di dalamnya.

6 bulan yang lalu, sungguh aku tidak berniat sedikitpun untuk mendaftar menjadi calon OP CC, namun karena ajakan salah seorang teman, aku menemaninya sebagai bentuk rasa setia kawanku padanya.
“Rik, ayo temenin daftar CC SNMPTN” pintanya padaku, sehabis jam kuliah.
“tapi, aku nggak bawa motor lo, aku jalan dari kos.”
“gapapa, yang penting ada temennya..”

sesampainya di rektorat, tempat pendaftaran CC SNMPTN, aku menunggu temanku di luar.
“Rik, ayo temenin masuk, daftar sekalian aja yok... aku nggak ada temennya” dia memanggilku.
“dasaarrr”
aku dan dia mengisi formulir, dan mengumpulkannya pada seorang petugas wanita yang ternyata dia yang menjadi Team Leader ku pada CC gelombang 1. Perlu diketahui kalau, CC bekerja selama 2 periode, yang pertama pada saat jalur undangan dan yang kedua jalur ujian tertulis SNMPTN. Nah, mbak yang melayaniku waktu itu, juga kutemui di CC gelombang 1.

Hingga sampai pada hari pertama aku bekerja sebagai CC. Panjang cerita sebenarnya, hingga aku diterima di dalamnya termasuk kenapa temanku yang kutemani mendaftar saat itu tidak berada disampingku hingga aku bekerja. Aku masih ingat betul, siapa yang kukenal pertama kali di CC. aku memanggilnya, momon. Gilak, sebagai perempuan dia keren sekali... hobi traveling nya bikin ngiri... untuk ukuran perempuan-perempuan yang hobi mendaki gunung, dan nyelem,dia tetap perempuan bersahaja dan keren. Selain momon, banyak teman yang hari demi hari, aku semakin mengenal mereka. Tidak ada hitungan minggu, aku semakin hafal dengan wajah mereka dan nama-nama mereka. Seiring berakhirnya tugas sebagai CC untuk jalur undangan (gelombang I) beberapa diantara kami, ada yang tidak melanjutkan bertugas untuk jalur ujian tertulis (gelombang II), dikarenakan beberapa hal. Untuk itulah, saat itu dibuka pendaftaran gelombang II untuk menggenapi teman-teman yang sudah tidak bergabung bersama kami saat itu. Selalu ada cerita baru jika kamu bertemu dengan orang yang baru [ula, begitu juga denganku.

aku semakin banyak menemui orang dengan berbagai karakternya, baik sesama OP, tim IT, Team Leader, bapak-bapak dan ibu-ibu pegawai pusat komunikasi, dan juga penelpon tentunya.

Aku pasti akan merindukan terjaga dari pukul 8 malam hingga 8 pagi, merindukan cerita dari para TL, merindukan kalimat-kalimat ledekan di Grup discussion, merindukan bertanya banyak hal pada TL dan sesama OP dan IT, merindukan saling meledek antar OP dan IT, merindukan meresetkan passoword, merindukan mencatat nomer tiket, merindukan mengejakan nomer tiket, merindukan ibu-ibu dengan logat sundanya lalu aku dipanggil “teteh” –namanya bu Iis kemudian beliau sempat menelpon kembali hanya untuk mengucapkan “terimakasih”, merindukan di-hold oleh teller bank M, merindukan telepon bapak-bapak dari Boyolali yang tidak bisa berbahasa indonesia tapi untungnya mengerti bahasa indonesia, Bapak-bapak yang sama sekali tidak mengerti istilah ‘panlok’ itu apa, kemudian setelah dibantu ia mengucapkan ‘maturnuwun nggih mbak” dan secara tidak sengaja aku membalasnya dengan “sami-sami pak” ups keceplosan bener, berasa lagi kuliah, merindukan mendengar nyanyian salah seorang teman yang jika tidak di line telepon dia akan streamingan telenovela jika tidak dia akan keasyikan menyanyi sendiri, merindukan teman-teman yang kadang keasyikan cekikian sendiri entah karena membaca atau melihat kelucuan apa, merindukan menangis dan tertawa di balik bilik CC.

----------------------------------------------------------------

rasa rindu ini kadang muncul tidak terduga.

baru beberapa hari, status bekerja di Call Center berakhir, namun aku sudah merindukannya... bukan statusnya, namun aku merindukan suasana dan tetek mbengeknya termasuk orang-orang dengan berbagai cerita dan karakternya.

“sekecil apapun kebersamaan itu, pasti akan menimbulkan kerinduan ketika sudah berpisah.”

ahhh, iya rindu itu selalu datang ketika sudah berpisah.

Keakraban itu rasanya tidak tumbuh karena kesamaan usia maupun lamanya perkenalan, kali ini kita mampu membuktikannya. See :)

belum ada hitungan tahun sejak kita berkenalan, kita mampu menghancurkan dinding pembatas antara senior dengan junior... rasanya kagak ada deh istilah macam itu, kita seperti anak muda..

pasti akan ada cerita, ketika kita sudah tua nanti... bahwa kita pernah berada diantara orang-orang heboh, ceria, sendu, mellow, galau, saling menggoda, saling menjodohkan, penuh canda tawa, penuh ledekan, penuh hikmah.

aku bersedia,untuk menatap langsung mata kalian dan meyakinkan ini mudah meski sebenarnya bagiku tidak selalu begitu, untuk berusaha membuat kalian tersenyum sekalipun kalian berusaha sekali membuatku bosan; untuk berkunjung dari satu beranda ke beranda lain jika dengan itu kalian mempercayaiku menjadi teman.dalam apapun; untuk memberikan obat pada kalian sekalipun aku yg mungkin seharusnya membutuhkannya; untuk duduk sejajar dengan bangku kalian, dan dapat menolong kalian sekecil apapun; untuk memperkecil jarak usia jika dengan itu aku tau bagaimana menumbuhkan semangatmu...Aku belajar hafal bagaimana kalian...

aku hampir lupa, bahwa aku pernah berujar “semoga kelak aku bisa naik pesawat dan pergi ke luar negeri”... dan inilah mimpiku... dan kita punya jalannya masing-masing..
sebentar lagi puasa, dan setelah itu sebentar lagi lebaran, sebelumnya 17 agustusan, hhee.. selamat menjalani semuanya :D
The Journey Has Begin. Seribu mil dimulai dengan Satu Langkah. dan inilah langkah kita. Step yang pernah kita lalui bersama, selamat berjuang menyelesaikan tugas akhir :), selamat menempuh hidup baru , selamat berkarya kembali, selamat terbang ke luar negeri, dan aku akan terbang ke negara dengan kincir anginnya yang besar [wussshhhhhh].. semoga Tuhan senantiasa memeluk mimpi-mimpi kita dan menjaga kita.

ijinkan aku menuliskan ucapan rasa terimakasih pada lembar kata pengatar dalam Tugas Akhirku, diantara baris di dalamnya, hanya itu yang dapat ku lakukan...yah, mungkin hanya itu bukti tertulis yang bisa kupersembahkan untuk kawan-kawan seperti kalian... dengan itu, semoga teman-teman tau betapa berharganya dirimu dalam hidupku (ciyeeee....)


backsong: [play] demi lovoto-gift of a friend
[project pop-ingatlah hari ini]
kau selalu di hati, kamu sangat berarti, istimewa di hati, slamanya rasa ini...
... jika tua nanti kita tlah hidup masing-masing, ingatlah hari ini...
...don't worried, just be happy, temanmu di sini...



salam “Kepercayaan dalam Kebersamaan” :) #slogan CC
semoga kita masih dipertemukan kembali di lain kesempatan..

[ari]
yang akan selalu merindukan CC veteran dan CC super
* thanks for being a part of my life

Air Mata

Bismillah....

Begitu dingin sore ini, seharusnya aku dapat menuai senyuman dan tawa maupun canda di tempat ini. Tawa riang, mungilnya suara – suara yang menggemaskan. Hmmm, ternyata tetap saja tak mampu mengusir segala keresahanku. Senyuman mereka mungkin setidaknya dapat menghilangkan kepenatanku. Pertanyaan yang kritis tapi tetap polos, :) …

Ku lihat langit mendung membingkis keindahan senja yang biasanya ada. Suasana begitu dingin dan sepi. Sementara sorak ramai mengusik sekitarku. Bak lagu Dewa “kosong” Seketika aku tak dapat bernafas kala mengingat dan merasakan perasaan itu hadir lagi. Seperti badai angin yang begitu besar telah menghempas keras dalam dadaku. Sesak. Haruskah aku menangis lagi? Sementara bilik – bilik kerinduan tak akan cukup tertawarkan oleh itu. Ya Tuhan.. tolong aku.

Terkadang begitu ingin aku berlari, pergi sejauh mungkin dari keberadaanku saat ini, meninggalkan apapun yang ada di sini. Dan tak mau aku sisakan apa yang sudah aku lewatkan. Akan tetapi tak bisa, aku tak bisa. Semua terekam jelas pada bayangan dan ingatanku. Kenangan. Yah, itulah kenangan. Namun bukankah sikap meninggalkan sesuatu hal yang harus kita selesaikan, kita tuntaskan dan berpura tak peduli atau acuh itu hanya akan dilakukan oleh seorang pengecut atau pecundang? Ku rasa aku tidak mau memantaskan diriku dengan sebutan itu. Tidak, insya Allah tidak.

Kehidupan mempunyai jalur sendiri...

dimana ada hitam dan putih, dimana ada beragam warna yang mengentaskan segala asa dan rasa. Bagaimanapun bentuk dan rupa, kehidupan bersama ujian ada tugas dari-Nya. Tidaklah manusia diciptakan untuk juga menjalankan amanahNya? Semua adalah pemimpin mulai dari dan untuk dirinya maupun bersama. Dan dalam berbagai kehidupan ini ada bermacam pilihan, dimana keputusan dalam pilihan itu membawa resiko dan tanggung jawab. Yah, dan di situlah tanggung jawab penuhku sebagai manusia yang diciptakan-Nya, aku harus lebih paham. Aku tahu, aku tak punya kekuasaan apapun dalam kehendakku, karena aku bukan siapa -siapa di sini, bukan dunia yang kejam jika saja selalu kepahitan yang aku telan, Tuhan tidak akan mungkin mendzalimi hamba – hamba-Nya. Berfikir saja jika ada ujian dan cobaan karena Tuhan menginginkan kita lebih menjadi pribadi yang handal dan kuat , lebih kuat lagi dalam kehidupan. Insya Allah.

Namun memang, semua itu beratlah adanya untuk dijalankan. Keikhlasan, tak dapat kita lakukan dengan sekejap dan instan. Terkadang kesakitan dan luka – luka ini akan terbiarkan dengan berjalannya waktu hingga itu menjadi keikhlasan yang terurai dan menghambar bersama masa – masa yang berlalu dari hadapan kita.

Kadang aku berfikir saat aku benar - benar lelah dan tertekan ku coba berfokus pada keinginanku betapa inginya aku dapat lebih tulus untuk menjalankan semua ini, jika saja tiada tempat untukku melabuhkan kasih sayang dan cinta, bukankah ada Tuhan? Ada Allah SWT yang selalu ada untukku, walaupun tak mampu aku mengingkari aku butuh seseorang yang dapat berbagi suka duka denganku.hmm ya ya ya,

Kondisi yang menekan sering menjadikan aku bersuara dalam hati “ biarkan saja yang menyakiti bersama hati dan hak mereka, dan inilah ujian kesabaran yang sebenarnya, bukankah ikhlas itu tak akan pernah kita ketahui dimana ujungnya karena itu rahasia Allah dan hamba-Nya yang telah diridhoi-Nya. Sekalipun memberikan yang terbaik, kadang bukan kebaikan pula yang ku dapat, dan meskipun aku berusaha untuk menjaga dan mengamalkan kejujuranku dengan pengertian demi pengertian tapi ternyata masih ada dusta yang dapat melukaiku tanpa rasa peduli. Atau bahkan dapat menghancurkan utuhnya percayaku. Tak kan berhenti saja di situ, masih ada lagi, tetapi karena kasih sayang-Nya, cinta-Nya mengajarkan aku untuk memaafkan. Mungkin itulah kenapa aku merasakan betapa pedulinya aku pada jiwa – jiwa yang selalu saja menyakitiku. Mereka tak akan pernah tau, mungkin untuk sekarang, namun ku yakin sebuah kesabaran dengan sabar yang baik, itu pasti akan terasa.

Bukankah aku pernah mengucap :

“ apapun yang dari hati, akan tersampai pula pada hati”.

Rasanya memang kadang menyedihkan, karena aku seperti menghibur diriku sendiri, meleram keresahanku dan gelisahku. Padahal itu tak mudah. Bagaimana aku dapat berkata itu gampang? Jika saja aku selalu belajar dari apa yang telah aku dapatkan hari ini. Sementara semua juga butuh waktu untuk mencernanya.

Aku dapat menangis, karena aku manusia, tentu sekuat apapun iman manusia itu, air mata tetap butiran alamiah yang dianugerahkan oleh Allah untuk makhluk bernama manusia. Akan tetapi air mata bukan segalanya di atas pusara yang pedih ini.Duka tak dapat menutup nestapa dan hampa. Semua menjadikan aku belajar lebih bijaksana dalam segi sudut pandang pun juga pemahaman. Alhamdulillah....

Tuhan Maha Adil, Maha Mengasihi dan Maha Menyayangi. Dan Dia selalu mempunyai cara untuk menyampaikan kecintaan-Nya kepada hamba-Nya.

Ujian yang besar, mungkin dapat menghancurkan segala impian, tapi bukankah bisa saja apa yang tidak kita sukai itu adalah pesan kasih sayang-Nya, dan apa yang kita sukai dan kita bisa sakit di dalamnya itu pun karena Tuhan juga tak ingin kita menemukan kesalahan yang sama. Selalu ada cinta dari-Nya dalam bentuk apapun yang Ia suguhkan pada kita. Allahu Akbar..., betapa dahsyatnya rasa ini.

Dari sisa kehancuran itu, aku berfikir bahwa Tuhan akan menciptakan seseorang yang “besar” yang tegar, dan yang kuat, dan itulah pilihan-Nya, wallahu 'Alam. Memang pedih di saat kita butuh seseorang yang mampu menopang kita dalam kerapuhan namun itu tidak ada, atau bahkan mereka tak peduli pada kita, tapi mungkin juga dari situ aku juga merasa, bahwa aku ini milik Dia seutuhnya. Tuhan pun selalu merindukan kita yang merintih meminta dan berdoa hanya pada-Nya. Terkadang tak jarang prasangka curiga mampir dalam hati, tapi setelahnya, ku coba berbalik lagi berkata pada hatiku sendiri, perlahan ku kikis serabut hitam dalam hulu putihku, dan belajar bertahan untuk lebih percaya,

“ sesungguhnya dalam kesulitan ada kemudahan, sesudah kesulitan adan kemudahan”

Tiada yang berkurang sampai hari ini, bagi jiwa – jiwa yang pernah mengahancurkanku, yang sempat menghempaskan aku dalam jurang yang paling.....dalam, sekalipun hantaman keras itu membuat hatiku membiru karena kepalsuan, dan membuat aku terbaring lemah dalam panjangnya kebisuan, Sungguh Maha Besar Allah yang telah memberikan kasih sayang dan pengertian yang tulus padaku. Hingga aku dapat mengatakan

“ dan karena cinta itu memaafkan..., menerima, mengisi, dan juga mengerti”
Sekarang mungkin lebih tepatnya adalah untuk bersyukur, bahwa aku.. ataupun kita dapat mencintai, dan tak dapat membenci seseorang yang kita sayangi walau itu sungguh terasa sakit.

Sakit dalam mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah bukti kesungguhan dari hati dan nurani yang mau mengerti dan memahami. Mungkin terasa pedih bak luka yang tersiram oleh air garam yang asin, ...sakit. Perih sekali. Akan tetapi itulah kejujuranku, itulah hatiku, itulah nuraniku, jangan pernah salahkan perasaan yang putih ini. Inilah kesiapan, dan kebersediaan untuk rasa itu, mencintai. Mencintai membuat kita belajar dewasa dan mengerti. Hanya akan ada jiwa dan yang tulus yang dapat mengerti..., ketika pengertian itu tak berpihak padanya, ketika harus sabar dalam keinginannya, saat terpaksa untuk menunggu ketika semua tak dapat dilakukan dengan cepat dan segera, dan kala dapat melihat kesalahan dan suatu permasalahan dari berbagai sisi dengan beberapa penilaian yang telah ia ambil bersama pertimbangan – pertimbangan yang matang, insya Allah.


Aku selalu berharap pada-Nya, semoga tulus ini tidak akan pernah usang karena bala dan derita yang ada, biarkan selalu mekar dalam kegersangan. Dalam air mata ku bahagia, aku sangat bahagia, karena aku dapat mencintainya, mereka, dan aku dapat mengasihi semua jiwa yang pernah melukai dan mencaci, begitu dan betapa mereka itu adalah berharga. Lebih dari harta dan intan permata.

Ku tutup lembaran ini, dengan lirihnya doa ku dalam hati, ku seka perlahan air mata yang sedari tadi kupertahankan untuk tetap dalam kelopaknya.

Ya Allah..., Tuhanku, Sungguh tiada daya dan upaya melainkan dari Rahmat-Mu, dan Pertolongan-Mu.Sayangi mereka ya Tuhan..., ketika kasih sayangku tak dapat tersampaikan dalam kejauhan mereka saat ini berada,Jaga mereka untukku, ketika penjagaanku tak mampu melewati batas jarak ruang dan waktu..dan Cintai mereka, ketika aku nanti tak mampu untuk mencintai lagi di dunia ini.....Amiin....



[strawberry]
Gemuruh Asa
Sabtu, 03 Juli 2010
18.42 wib

Naik Delman (istimewa)

Pada hari minggu kuturut ayah ke kota...
naik delman istimewa ku duduk di muka
ku duduk samping pak kusir yang sedang bekerja
mengendarai kuda supaya baik jalannya...
tuk tik tak tik tuk
tik tak tik tuk..
suara sepatu kuda...


aih, aku rindu naik delman..
sekarang kemana transportasi macam itu?
besok kalo mau nikah, ngak perlu ada arak-arakan mobil dengan tambahan buket bunga, cukup naik delman dan duduk samping 'pak kusir' yang 'mengendarai kuda'..

#nglindur...


'pak kusir': calon mas nya
'mengendarai kuda': nyupiri bahtera keluarga
'duduk samping pak kusir": mendampingi 'pak kusirnya'



#filosofi lagu naik delman

Cerita Eyang Uti

Di jalan pinggiran kampus sebelah, aku dan seorang teman berjalan-jalan pagi, ritual yang sering dilakukan jika kami berkumpul dan memiliki waktu senggang.

Hingga sampai kami di sebuah tempat yang bernama sunmor, pendeknya Sunday morning. Sebuah nama yang didedikasikan pada tempat yang disebut pasar setiap hari minggu pagi di Jogja. Kami berada di antara riuhnya mereka, ada yang sedang menawar, mengobrol, bercanda ditengah jalan, sampai kami mlipir untuk beristirahat dan sekadar mengobrol di tempat yang pas sambil sarapan pagi. Niat sebenarnya bukan itu, tapi kami terjebak pada situasi perut kosong alias kelaparan dan terjebak 'pas' lewat tempat itu. Setelah makan, kami pulang, mencari jalan yang lebih sepi..

nah, ini cerita sebenarnya yang hendak kubagikan.

aku dan dia mengobrol sekenanya, jalan sudah agak lengang, di depan kami berjalan dua orang yang renta ah, cukup renta... kulit keduanya tampak keriput, menandakan usia mereka diatas kepala lima, bersepatu ket, memakai pakaian training, pakaian olahraga khas orang dewasa, namun masih tampak catchy dipakai keduanya, keduanya memakai kacamata, rambut sang wanita sudah beruban, rambut putihnya mendominasi daripada rambut hitamnya, sedang sang lakinya memakai topi khas anak muda dengan warna rambut yang hampir sama. Yang tampak menarik adalah sang wanita itu bergeliat manja pada bapak itu. Begitu sang wanita memanggil laki-laki itu, bapak. Bapak menggandeng mesra ibu itu. Masih betah berada di belakang mereka, aku senyum-senyum sendiri. Terkadang genggaman tangan mereka lepaskan, dan sang bapak berganti merangkul sang ibu supaya lebih dekat dengannya, memastikan supaya ibu selalu berada di sampingnya.

Romantis itu.... ya itu...

cerita cinta hingga kamu menjadi eyang uti, hingga mati adalah janji terakhir.

[aku dan kamu berbeda, namun senyuman kita bermakna sama bukan?]