Run To You

Go Hye Son yang punya Angel Eyes, bener-bener bisa bikin hati porak poranda, jungkir balik bungge jumping sejak episode awal.. guling gulig nangis, tapi nagih bikin addicted.. oh my Godness *ala hubae
dan akhirnya jjjjajaaaang... nemu beberapa soundtracknya yang juga bikin nangis sendu mellow ala yuni shara.. Judulnya "Run To You"


[Run To You]
Artist: Lasse Lindh
Original Soundtrack - Angel Eyes



With you... Everything seems so easy
With you... My heartbeat has found its rhythm
With you... I'm so close to finding my home

With you... I don't care if I´m a little bit crazy
Cause with you nothing's wrong

I was broken, I was wasted
Then you came like an angel in the rain
Love used to slip trough me like waters slips trough hands
But with you it changed I know, I feel I am closer to your heart.

I am run run running to you
And I'll keep you safe forever
Through the tears,
trough the love and all the nights we share
I am run run running to you
And I'll keep you safe forever
Don't you know my love,
don't you know two hearts can beat as one?

Love used to slip trough me like water slips trough hands but no more
No more lonely nights, no more, no more
So come on, come on, hold on, hold on, hold on

I am run run running to you
And I'll keep you safe forever
Through the tears,
trough the love and all the nights we share
I am run-run-running to you
And I'll keep you safe forever
Don't you know my love,
don't you know two hearts can...
I am run run running to you
And I'll keep you safe forever
Through the tears,
trough the love and all the nights we share
I am run run running to you
And I'll keep you safe forever
Don't you know two hearts can beat as one?

Cinta Megah

Beberapa hari yang lalu saya pulang ke kampung halaman saya menggunakan kereta. Kereta yang saya tumpangi terkenal dengan rendah hati dan lapang dadanya yang luar biasa. Ya, Prameks. dengan uang duabelas ribu kita bisa menumpang dari ujung Balapan hingga ujung Kutoarjo, rendah hati sekali dia. Lapang dadanya adalah dia satu satunya kereta yang nggak pernah protes apabila harus didahului oleh kereta lainnya yang lebih mewah. Menunggu di salah satu stasiun hingga dilewati empat keretapun, prameks bisa sangat lapang dada.. :D back to topic. Hari itu saya sengaja duduk di gerbong biasa, bukan gerbong khusus perempuan tempat favorit saya. Toh, hari itu bukan weekend yang biasanya digunakan untuk mudik para perantau, yang menyebabkan kereta penuh sesak. Oke, saya dapat tempat duduk. Hingga stasiun Purwosari, samping kanan kiri kosong tidak ada yang menempati. Saya sengaja duduk di bagian tengah yang tidak terlalu pinggir, tepat di samping sandaran. Di stasiun Purwosari sebelah kanan saya duduk seorang ibu muda bersama dua anaknya, yang satu rombongan dengan suaminya yang menggendong anak paling kecilnya tetapi duduk di seberangnya. Sejak saat itu, saya mulai memperhatikan tiga anak kecil yang sibuk melakukan banyak hal. Bertanya, tertawa, bermain gadget, bermain boneka masha and the bear dan banyak hal lainnya. Saya cuma memperhatikan mereka. Hingga sampai di stasiun lempuyangan, tiga bapak-bapak di samping kiri suami ibu itu turun, dan ibu beserta dua anaknya pindah ke samping bapak tersebut untuk berkumpul menjadi satu. Lengkap, seorang bapak, ibu, anak perempuan yang paling besar, anak laki-laki, dan anak perempuan paling kecil. Samping kanan saya kosong dan ditempati oleh dua orang laki-laki muda ala smash. Ah, saya tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan. Gesturnya agak mencurigakan :D

Sejak dari lempuyangan itu, saya menyaksikan pemandangan penuh cinta yang begitu megah. Kedua anak perempuan itu sibuk bermain boneka Masha, sedang adik kedua yang laki-laki berkata pada ibunya bahwa dia sangat mengantuk, kelelahan. Kemudian ibu muda itu berkata kepada suaminya untuk menukar adik perempuan yang paling kecil yang sedang di gendong sang ayah dengan adik laki-laki kedua itu. Ibunya menyuruhnya tidur dipangkuan sang ayah, sedang adik terkecilnya berada di pangkuan ibunya. Nampaknya, rasa kantuk itu menular. Hingga membuat kedua anak perempuan itu juga mengantuk dan tertidur. Adik perempuan paling kecil berada di pangkuan sang ibu, sang kakak laki-laki kedua berada di pangkuan sang ayah, dan kakak perempuan tertua tertidur pulas terduduk di antara keduanya. Saya menikmati pemandangan meneduhkan itu. Sang ayah, tidak hanya memangku anak laki-lakinya, meskipun tangan kirinya sedang memainkan gadget untuk menerima telepon, tetapi tangan kanan sang ayah rela untuk digunakan sebagai alas tidur bagi kepala anak perempuannya hingga beberapa jam ke depan sampai tujuan akhir kereta prameks. Beberapa kali sempat sang bapak, meminta bantuan kepada istrinya untuk mengangkatkan kepala anak perempuannya sesekali, untuk meregangkan tangannya yang mungkin membuatnya ngilu, kemudian ia kembali meletakkan tangannya ke posisi semula. Beberapa kali pula, saya melihat sang ayah yang telah mengantongi gadgetnya, mengusap anak laki-laki menggunakan tangan kirinya karena sang anak kelelahan yang menyebabkan ia melongop dan ngeces :D ibu dan bapak itu saling menatap dan tersenyum menggoda.

Entahlah apa yang sedang saya pikirkan, barangkali cinta itu bisa tampak sederhana sekaligus tampak begitu megah. Saya tidak bisa menyebut bahwa cinta, adalah kamu. Tetapi cinta itu adalah mereka, ada antara mereka, atau ada antara kita. Karena cinta butuh dua orang untuk melakukannya, hingga cinta terbentuk satuan lingual kerja 'saling mencintai'.


Cinta itu begitu megah, karena pemberian yang begitu berharga di dalam hidup adalah ketika mampu menebar cinta tiada henti.

Cinta itu begitu sederhana, jika kamu merasa tidak mampu membuatnya tertawa cukuplah untuk membuatnya tidak terluka.


"No one can change a person but a person can be a reason someone changes.." [Spongebob]

Senja di Kota itu [21 April 2014]

Perempuan itu mencoba membaca tanda di wajahku. Aku pergi tak menghiraukan siapapun, mataku panas, memerah kemudian hujan siang itu semakin deras. Siapa yang peduli? Kemudian aku duduk di teras tempat itu. Tempat yang paling mengerikan sepanjang hidupku. Bau yang mungkin akan membuat nyinyir semua orang. Rumah sakit. Pembicaraan yang baru saja terjadi membuatku tak menghiraukan perasaan siapapun, termasuk perasaanku sendiri. Aku baru sadar, bahwa selama ini kepedulianku pada perasaanku tidak lebih besar daripada perasaan kasihku kepada orang lain. Begitu egoiskah aku pada diriku sendiri? Ya, hari ini kukeluarkan semua jeritan yang kupendam. Aku menangis sejadi-jadinya di teras tempat itu. Tak peduli, dokter, perawat maupun pasien yang melihatku iba. Aku hanya berjanji, bahwa aku hanya boleh bersedih maksimal hingga matahari terbenam. Selama ini aku hanya tutup kuping dengan earphone tak bernada yang terpasang di telingaku jika orang berkata tidak baik tentangku, tentang bapakku, tentang emakku, tentang orang-orang yang kucintai. Lalu kemana saja aku selama ini? Aku hanya tak mau berdebat. Manusia tidak pernah benar di mata manusia lain. Kebenaran hanya milik Tuhan. Jika suatu persoalan terjebak pada orang yang usianya muda dengan orang tua, maka kebenaran adalah milik orang tua, dan sisanya untuk yang muda. Yang muda diam, yang tua berbicara tiada henti karena merasa benar. Aku jengah. Aku ingin didengar.

“Ya sudah, urusanku di sini sudah selesai. Aku akan pulang. Akan kutelpon kamu besok. Hati-hati di jalan.”
“Usia manusia tak sepanjang itu.” Kutelan kembali kata-kata ini sebelum melompati tenggorokan.
Ada sesuatu dari masa lalu mencegahku mengucapkannya betapapun sosok itu bukan saja sudah tertinggal lebih dari lima kilometer, meninggalkan rumah sakit melainkan bahkan, kehangatannya padaku, telah terpatri lebih lama dari itu. Aku menuju stasiun. Kembali ke kota perantauanku. Ia sudah cukup pulih untuk pulang dari rumah sakit bersama orang yang lebih ia sukai.
Suasana ramai stasiun tidak cukup mengalihkanku dari moment 1 jam yang lalu. Ada bagian yang membuatku sedih, sesedihnya. Pertanyaan liarku ini kemudian menguasai pikiranku, "Tidak begitu membanggakankah aku di matanya? Andai kamu tahu bahwa akupun sedang berikhtiar dan selalu berdoa untuk dapat membahagiakanmu..." Aku menahan airmataku, tertahan hingga 3 jam ke depan meskipun beberapa kali sempat terjatuh di dalam gerbong. Hanya akan kubasuh. Tidak akan lagi kumemungutnya. Tidak akan ada yang melihatnya.

Apa yang akan terjadi jika seseorang yang mencoba menyampaikan tentang bagaimana bersikap baik dan santun, justru dianggap anak sok tahu dan durhaka oleh seseorang yang dianggap memiliki surga di bawah telapak kakinya? Ketakutan terbesarku adalah ia akan benar-benar dibenci oleh Tuhannya.

Pernah mencoba merasakan betapa dinginnya hembusan angin di sore hari? Senja hari itu kunikmati di teras balkon belakang kosku. Sendirian. Aku hanya sedang berusaha menepati janjiku untuk bergembira setelah maghrib nanti dengan memejamkan mata, merasakan dinginnya hembusan angin sore itu, merasakan betapa hangatnya air mata. Kubuka mataku. Tidak kah kau lihat setiap senja menjelang maghrib selalu ada kawanan besar burung-burung liar yang melintas cepat dari langit menuju ufuk barat? Ya, dan aku melonjak kegirangan, bahwa bayangan segelap apapun itu tidak akan menyala selamanya, karena saat itu jualah saatnya matahari terbenam di ufuk barat. Dan senikmat apapun harta yang burung itu temukan di setiap siang hari, ia akan kembali ke rumahnya setiap hari pula, keluarga.


Dia, gadis sederhana

Nanti ada saatnya gadis berkerudung merah itu mencari atau dicari atau malah dicarikan seseorang untuk mendampingi hidupnya. Pernah dengar, “Laki-laki bebas memilih namun wanita berhak menolak”. Seems like true..

Jadi dia berhak menolak laki-laki yang mempunyai mobil tapi hasil dari orang tuanya. Dan iapun berhak menerima laki-laki yang meski hanya memiliki sepeda gunung tetapi dibeli dari hasil kerjanya sendiri.

Dia berhak menolak laki-laki yang gaya, fashion, style sudah se keren aktor atau boyband korea. Dan diapun berhak menerima laki-laki yang kesehariannya hanya memakai kaos dan baju koko.

Dia berhak menolak laki-laki yang memasang foto oki setiana dewi di ponselnya. Dan saya berhak menerima laki-laki yang selera musik dan bacaannya sama dengannya.

Dia berhak menolak laki-laki tampan yang sholatnya hanya saat magrib saja atau saat shalat jumat saja. Dan dia berhak menerima laki-laki sederhana yang selalu memenuhi kewajiban shalatnya dan mengusahakan untuk selalu tepat waktu serta selalu berusaha meluangkan waktunya untuk shalat sunnah.

Dia berhak menolak laki-laki yang terlalu mementingkan makan enak dan mewah, dan dia berhak menerima laki-laki yang akan mengajaknya untuk berpuasa sunnah.

Dia berhak menolak laki-laki yang kebal kebul dengan bangga membakar uangnya, uang bapak ibunya untuk merokok, dan dia berhak menerima laki-laki yang justru meluangkan waktunya di tengah kesibukannya bekerja atau belajar di perantauan untuk menemui dan menjenguk bapak ibunya di kampung halamannya.

Dia berhak menolak laki-laki yang terlampau sering melontarkan kata-kata kasar pada temannya, dan dia berhak menerima laki-laki yang tidak gengsi menjalin hubungan harmonis dan akrab dengan teman-temannya.

Dia berhak menolak atau menerima, tetapi pada akhirnya dia masih harus menunggu untuk menerima seseorang yang akan memilih dia nantinya.. Dia, gadis sederhana yang tidak rupawan dan begitu mencintai Tuhannya.

@fiktif

Surat Ibu

Teruntuk anakku nun disana,

Anakku...
Ini adalah surat dari ibumu yang lemah. Aku menuliskannya dalam keadaan malu, setelah keragu-raguan dan penantian panjang. Berkali-kali aku menahan untuk menggenggam pena. Akan tetapi, air mata menghalangi dan menghentikannya, maka mengalirlah rintihan hati.

Anakku...
Setelah umur panjang ini, kulihat engkau telah menjadi seorang pria dewasa yang memiliki akal sempurna dan keseimbangan emosional. Dan engkau berkewajiban membaca lembaran ini. Lalu jika engkau ingin, robeklah ia sebagaimana engkau telah merobek-robek sisi-sisi hatiku sebelumnya.

Anakku...
Dua puluh lima tahun lampau adalah hari yang benderang dalam hidupku. Ketika dokter memberitahuku bahwasanya aku hamil!. Para ibu, wahai Ananda, tahu betul makna kata-kata ini. Ia adalah campuran dari gembira dan bahagia, dan permulaan perjuangan di samping perubahan-perubahan psikis dan psikologis...
Setelah kabar gembira ini, aku mengandungmu selama sembilan bulan dalam perutku dengan penuh kegembiraan. Aku berdiri, tidur, makan, dan bernafas dengan payah. Akan tetapi, itu semua sama sekali tidak mengurangi kecintaan dan kegembiraanku dengan kehadiranmu. Bahkan, cinta dan kerinduan kepadamu terus tumbuh dan berkembang hari demi hari.
Aku mengandungmu hai anakku, dengan kesusahan diatas kesusahan, kepedihan diatas kepedihan. Aku gembira dengan gerakanmu, senang dengan bertambahnya bobotmu, padahal itu adalah beban yang berat bagiku...

Sungguh itu adalah masa-masa berat nan panjang. Setelah datang fajar yang membelah malam, dimana ku tidak dapat memejamkan mata. Aku menahan sakit, pedih, takut, dan cemas yang takkan mungkin pena ini dapat melukiskannya, dan lisan ini dapat menggambarkannya.

Sakitku kian bertambah hingga aku tak sanggup lagi menangis. Berkali-kali aku melihat kematian dihadapan mataku. Sehingga engkau keluar ke dunia ini, maka bercampurlah air mata kegembiraanku yang menghapus segala kepedihan dan lukaku, bahkan aku merindukanmu betapapun pedih lukaku. Dan aku menciummu sebelum setetes air pun membasahi tubuhmu.

Wahai anakku...
Tahun demi tahun umurmu terus berlalu. Aku terus membawamu dihatiku, dan memandikanmu dengan tanganku. kujadikan haribaanku sebagai kasurmu, dadaku sebagai makananmu. Aku begadang malam hari agar engkau dapat tidur dengan pulas. Dan aku merasakan lelalh dan kantuk disiang hari.
Harapanku sepanjang hari adalah melihat senyumanmu; dan kegembiraanku setiap saat adalah engkau meminta sesuatu yang kubuatkan untukmu. itulah puncak kebahagiaanku.
Siang dan malam terus berlalu, sedangkan aku terus dalam kondisi seperti itu; melayanimu tanpa jemu, dan menyusuimu tanpa henti, bekerja tanpa lelah, dan mengajakmu pada kebaikan, serta membimbingmu tanpa putus asa. Aku merawatmu hari demi hari sehingga engkau tumbuh menjadi kuat, menjadi seorang pemuda, dan tampak padamu tanda-tanda kedewasaan. Lalu akupun berlari kian kemari mencarikan wanita idamanmu.
Tibalah saat pernikahanmu. Hari engkau bersanding, maka hatiku terasa terputus. Air mataku mengalir karena gembira tetapi sedih karena akan berpisah denganmu.
Malam-malam telah menjadi kelam, hari-hari kian panjang, aku tidak melihatmu dan tidak mendengar suaramu, dan engkau masa bodoh dengan sebaik-baik orang yang merawatmu.

Wahai anakku...
Jadikan aku seperti kedudukan temanmu yang paling jauh! Jadikanlah aku wahai anakku, salah satu terminal bulanan dalam kehidupanmu agar aku dapat melihatmu walau hanya sesaat...

Wahai anakku...
Tulang punggungku telah rapuh, jemarikupun telah gemetaran, serta penyakit telah menggerogoti tubuhku dan melemahkanku. Aku berjalan, berdiri dan duduk dengan susah payah, namun hatiku masih tetap penuh dengan cinta dan kasih kepadamu.
Jika suatu hari ada seseorang yang memuliakanmu, tentulah engkau akan memujinya atas perbuatan baiknya itu. Sementara ibumu telah berbuat baik terhadapmu dengan kebaikan yang tidak pernah engkau lihat sebelum dan sesudahnya. Ibumu telah berkhidmat untukmu tahun demi tahun...

Wahai anakku...
Setiap kali aku mengetahui engkau bahagia dalam kehidupanmu bertambah kegembiraan dan kebahagiaanku. Jadikanlah aku seperti seluruh pembantumu yang engkau beri upah dan berilah aku upah berupa kasih sayangmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.

Duhai anakku...
Aku berangan-angan untuk melihatmu dan tidak menginginkan selain dari itu. Biarkanlah aku melihat masamnya mukamu, pahitnya senyummu, dan gelegak amarahmu...

Wahai anakku...
Hatiku hancur, air mataku mengucur. Aku bersyukur engkau telah hidup berlimpah rezeki. Banyak orang selalu membicarakan kebaikan akhlakmu serta kedermawananmu. Aku, seorang wanita lemah yang telah digerogoti kerinduan, dicambuk kesedihan. Seorang wanita yang menjadikan kesedihan sebagai syiarnya dan keresahan sebagai selimutnya.

Duhai anakku...
Inilah pintu surgamu. Laluilah ia. Ketuklah pintunya dengan senyum tulus, permohonan maaf, serta pertemuan yang baik. Semoga aku menemuimu disana dengan rahmat Tuhanku sebagaimana Rasulullah pernah bersabda,
"Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah, jika engkau ingin, maka sia-siakanlah pintu itu atau jagalah ia..." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Anakku...
Sejak engkau menjadi pemuda, yang mencari dan mengharapkan pahala. Tapi sekarang engkau melupakan hadits Nabi,
"Sesungguhnya sebaik-baik amalan kepada Allah shalat tepat pada waktunya, kemudian berbakti kepada kedua orang tua, kemudian berjihad dijalan Allah." (HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah dia pahala itu. Tanpa perlu memancung tenggorokan dan menumpahkan darah di medan jihad. Sesungguhnya aku berdo'a semoga engakau tidak termasuk golongan yang dikatakan Nabi Shallallahu alaihi wassallam,
"Sunguh celaka, sungguh celaka, sungguh celaka!" Dikatakan, "Siapa ya Rasulullah?" Beliau bersabda, "Seorang yang mendapatkan kedua orang tuanya di usia tua, salah satu atau keduanya, kemudian dia tidak masuk surga..." (HR. Muslim)
"Maukah kalian aku sampaikan tentang dosa yang terbesar?" Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengucapkannya tiga kali. Para sahabat menjawab, "Ya, wahai Rasulullah". Beliau bersabda, "Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua." (HR. Bukhari).
"Tidak masuk surga orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya." (HR. Ahmad).
"Tiga golongan orang yang tidak akan dilihat (dengan pandangan rahmat) oleh Allah pada hari kiamat; orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, orang yang suka minum minuman keras, orang yang suka mengungkit pemberiannya." (HR. Nasaai dan dinyatakan shahih oleh Albani).
"Terlaknat orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya." (HR. Hakim dan Thobrani serta dinyatakan shahih oleh Albani dalam Shahih at-Targhib wat-Tarhib, 2/334).

Wahai anakku...
Aku tidak akan mengangkat keluhanku dan tidak mengungkap kesedihanku kepada Allah, karena jika keduanya membumbung tinggi keatas awan, lalu sampai kepintu langit... Niscaya engkau akan ditimpakan azab dan kesialan perbuatan durhaka, yang turun kepadamu, dan keluargamu akan ditimpa musibah.
Tidak! Aku tidak akan melakukan itu wahai anakku... Engkau tetap belahan jantungku, penyejuk hatiku, dan perhiasan duniaku...
Uban telah menghiasi rambutmu duhai anakku. Engkau akan semakin tua. Suatu saat engkau akan menulis surat kepada anak-anakmu dengan airmata, sebagaimana aku menuliskannya kepadamu. Dan dihadapn Allah semua akan dikumpulkan dan diadili.

Wahai anakku...
Takutlah kamu kepada Allah. Perlakukanlah ibumu dengan baik. Seka airmatanya, hapus luka dan kesedihannya. Walau luka tetap akan meninggalkan goresan. Sesungguhnya surga ada diantara kedua telapak kaki ibumu.
Camkanlah wahai Anakku!

Ketuaan mulai nampak dalam belahan rambutmu. Tahun demi tahun akan berlalu, dan engkau akan menjadi tua renta, sedangkan setiap perbuatan pasti akan dibalas setimpal. Engkau akan menulis surat kepada setiap anak-anakmu dengan cucuran air mata, sebagaimana yang ibu tulis untukmu. Dan di sisi Allah, akan bertemu orang-orang yang berselisih, hai Anakku. Maka bertakwalah engkau kepada Allah terhadap ibumu. Usaplah air matanya dan hiburlah agar kesedihannya sirna.
Robek-robeklah surat ini setelah engkau membacanya. Namun ketahuilah, siapa saja yang beramal shaleh, maka keshalehan itu buat dirinya sendiri, dan siapa yang berbuat jahat, maka balasan buruk bakal menimpanya.
"Barangsiapa mengerjakan kebajikan, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa berbuat jahat, maka (dosanya) menjadi tanggungannya sendiri. Dan Rabbmu sekali-kali tidaklah menzalimi hamba-hamba-Nya." (QS. Fushshilat: 46).
Ibumu yang merindukan......

" isi surat dari buku karya Abu Zubeir Hawary "

(ke)mungkin(an) saat aku tak mengangkat teleponmu

Aku bisa saja tidak mengangkat teleponmu, karena mungkin aku sedang menangis. Aku hanya tak ingin suaraku terdengar sangat menyedihkan. Aku tak mengangkat teleponmu.
Kemudian beberapa saat kemudian atau satu hari setelah itu aku akan menelponmu sebagai ganti kamu telah menelponku namun tak kuterima. Kamu memarahiku, karena aku begitu sulit dihubungi. Aku memilih itu. Aku memilih dimarahi olehmu daripada kamu harus mendengar suaraku yang begitu menyedihkan.