Semua Untuk Indonesia...

-->
 (mari sekali-sekali bicarakan kecintaan kita pada Indonesia)

Kulihat ibu pertiwi sedang bersusah hati...
Air matanya berlinang mas intan yang terpendam
Hutan, gunung, sawah, lautan
Simpanan kekayaan
Kini Ibu sedang lara, merintih dan berdoa...

Inikah pertanyaan dan jawaban atas semua perbuatan manusia pada tahun 2004? Yang semuanya akan terulang di tahun 2010? Akankah terulang lagi di tahun-tahun berikutnya, karena manusia (termasuk aku) belum juga menyadari kesalahan yang mereka perbuat?

Tuhan marahkah Kau padaku?
Sungguh deras curah murkaMu
Kau hempaskan jarimu di ujung Banda
Tercenganglah seluruh dunia
Tuhan mungkin Kau kuabaikan
Tak ku dengarkan peringatan
Kusakiti Engkau sampai perut bumi
Maafkan kami oh Rabbi...
Engkau Yang Perkasa jangan marah lagi
Biarkanlah kami songsong matahari
Engkau Yang Pengasih ampunilah dosa
Memang semua ini kesalahan kami...
Tuhan ampuni kami...
Tuhan tolonglah kami...

Yaa... hingga pada akhirnya manusia hanya akan menangisi semua yang telah terjadi. Akhir-akhir ini bumi pertiwi kita sedang diuji keimanannya oleh Sang Penguasa Jagad Raya.
Sabtu, 30 Oktober 2010...
Setelah selesai menunaikan shalat subuh, seperti biasanya ayahku menyetel televisi-nya untuk meng-update berita. Hingga aku yang sebenarnya disibukkan (sok sibuk) dengan kegiatan bersih-bersih, tertarik pada sebuah berita terkini yang tiba-tiba bisa membuatku panik. Gunung Merapi mengeluarkan lahar panasnya lagi. dan kali ini efeknya lebih parah... Abu vulkanik dan bau belerang mampu tercium hingga dalam kota Yogyakarta. Buru-buru aku mengambil hape-ku dan mengirimkan SMS kepada mbak kosku tercinta, dan menanyakan bagaimana keadaan teman-temanku disana. Setelah mbak Ismi (mbak kos) mengabarkan keadaannya, aku sedikit lega karena mereka alhamdulilah aman-aman saja. Sebenarnya pada hari kamis, aku sempat diajak seorang teman dari BEM FBS menggalang dana untuk korban Merapi. Namun, aku hanya mampu menyumbangkan sesuatu yang tidak seberapa, dan aku lebih memilih untuk pulang ke rumah (teganya aku!!! Egois...)
Hingga pada akhirnya, kuputuskan setelah shalat dhuhur untuk pulang ke kos di Jakal. Perjalanan naik motorku menempuh 2 jam perjalanan. Sempat terguyur hujan (berwarna coklat-mungkin campuran antara air dan debu) di Kulon Progo. Kemudian memasuki kota Jogja, jalanan terlihat sangat kering dengan tebu yang sangat tebal. Kupikir karena Jogja tidak hujan, maka aku lepaskan saja mantelku, kemudian kulanjutkan perjalananku. Hingga di kos, motorku sangat tak berwujud seperti motor, melainkan lebih condong mirip traktor pembajak sawah... pakaian dan helmku pun bernasib sama. Sesampainya dikos aku membersihkan mantel, motor dan badanku. Oiya, dikos ternyata juga sedang kebanjiran... Anugerah yang luar biasa... Namun sebelum aku datang, air-air itu sudah dibersihkan oleh mbak kosku (Mbak Ismi)..
Pada hari minggunya, kira-kira jam setengah enam aku bersiap-siap untuk ke Pos Pengungsian di Cangkringan, tepatnya di SD Kiyaran I, Wukirsari, Cangkringan. Aku berangkat bersama dengan teman-teman dari UGM, ada 6 perempuan (tangguh..hehehe) termasuk aku. Berangkat dengan menebeng mobilnya mbak Meynita (psikologi UGM 06). Kata mbak Ismi yang teman sekampusnya mbak Meynita, baru sebulan yang lalu Mbak Mey mendapatkan Surat Ijin Mengemudinya. Jadi kalau nanti mobil itu tiba-tiba melesat kencang dan mengeram mendadak, harap maklum. Benar kata mbak Ismi, selama perjalanan menuju Pos dan pulang dari Pos, mbak Mey berulang kali membuat isi perutku ingin dimuntahkan..hahaha... tidak papa...itu sebanding dengan melihat betapa tangguh dan ceria nya anak-anak merapi di pos pengungsian... Mobil kecil itu berpenumpang aku (PBD UNY 08), mbak Ismi (psikologi UGM 06), mbak Esti (Sastra Jepang UGM 05), Nur (Peternakan UGM 10), Ipeh (STTN 08), dan mbak Mey sebagai pengemudi. 

Sesampainya di sana, kami disambut oleh anak-anak kecil (halaaah...lebai...) mereka menyapa kami..bukan ding lebih tepatnya Ipeh..hehehe... (karena dialah wanita tangguh yang sudah merelakan dirinya mengabdi kepada mereka sejak pertama kalinya Merapi dinyatakan dalam status awas-ternyata update status juga nih Merapi..hehehe..)... Seorang anak perempuan mendekatiku (namanya Nisa)... kemudian aku ajak ngobrol.. Dia menunjukkan sebuah kepiting dan keong yang ditemukannya saat bermain... Hmmm... melihat senyuman mereka, aku semakin yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kemudian ada cerita lagi dari seorang anak laki-laki (balita) bernama Ardi, yang ketika sabtu dini hari ditinggalkan ibunya... Namun, syukur alhamdulillah ibu yang dinantikannya kini telah ada di sampingnya. Ada juga seorang anak yang sangat ekspresif dan komunikatif menceritakan dirinya dan mbah Marijan sebagai tetangganya. Namanya (katanya) Agung Saputro, tapi dia sering menyebut dirinya sebagai Gathotkaca...hahaha... Lucu sekali anak ini... Aku jadi merasa minder, karena harusnya aku yang menghibur mereka, tapi malah justru mereka yang menghiburku. Lho? hwaaa... mbah Marijan menjadi sosok yang mengagumkan di mata kami... Lalu aku membantu sebisaku di dapur umum..

Sekadar melakukan hal-hal kecil yang bisa meringankan mereka. Di sana aku juga bertemu dengan teman-teman dari FIP UNY, salah satu yang kutanyai bernama Yeti. Ia anak PAUD, ada juga yang dari PGSD. Kami juga dibantu oleh bapak-bapak dari TNI, PMI hingga para baiarawati atau suster-suster. Sungguh aku mengaggumi hal ini. Di sinilah aku melihat sebuah rasa solodaritas yang sangat tinggi. High tolerate. Bahkan keramahan TNI-TNI itu juga membuatku berdecak kagum…bukannya kami yang melayani, malah mereka yang melayani… Bayangkan baru datang saja, kemudian beberapa menit melakukan hal kecil, mereka sudah menawari kami makan dan minum..hahaha… Baiklah kami tidak akan menolaknya, karena kami memang dating terlalu pagi.. Aku juga sempat melihat pos anak yang berada di belakang dapur umum yang didirikan FSLDK (Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus)-mungkin dari UGM yang juga bergabung dengan IP (Insan Parahita).. Pukul 2 siang kami pulang, tapi Ipeh kami biarkan tetap di sana... hehehe..

Oiya, flashback sebentar...ketika  aku selesai shalat disebuah mushala di Cangkringan, di Pos pengungsian, aku menemukan sebuah tulisan yang diterbitkan oleh Keluarga Muslim FT UNY. Isinya kurang lebih seperti ini.....
Hidup kadang seperti petani yang berharap menanti hujan. Ketika awan gelap membumbung menutup langit, halilintar menyambar-nyambar memecut bumi, ketakutan pun muncul. Padahal, dibalik gelapnya langit dan kilatan petir, di situlah sesungguhnya tercurah hujan.
Di masa kekhalifahan Umar bin Khatab, pernah terjadi gempa besar. Orang-orang panik. Korban pun berjatuhan. Beberapa saat setelah kejadian itu, Khalifah menyampaikan pesannya, “Kalian suka melakukan bid’ah yang tidak ada dalam Al Quran, sunnah Rasul, dan ijma’ (kesepakatan umum) para sahabat Nabi, sehingga kemurkaan dan siksa Allah turun lebih cepat.” (Sunnah Al Baihaqi diriwayatkan dari Shafiyah binti Ubaid)
Ucapan itu begitu menarik. Tanpa tedeng aling-aling, beliau r.a. langsung menghubungkan antara bencana dengan dosa orang sekitarnya. Bagaimana mungkin sebuah negeri yang masih banyak dihuni para sahabat Rasul yang saleh, dipimpin oleh Umar yang begitu dekat dengan Rasul, bisa mendapat bencana karena kemaksiatan.
Pesan Umar itu akan lebih terasa tajam jika bencana terjadi pada diri umat saat ini. Tentu, dosa-dosa umat saat ini jauh lebih besar dibanding jaman para zahabat Rasul. Di masa itu, nyaris tidak ada kemusyrikan. Tidak ada perzinaan. Tidak ada korupsi dan penindasan. Sementara jaman ini, hampir semua potensi kebaikan tercemari limbah nafsu duniawi.
Bencana menurut Umar bin Khatab, walaupun di sekelilingnya banyak orang shaleh, terjadi karena pelanggaran terhadap nilai-nilai ajaran Islam. Bencana adalah teguran Allah swt agar hamba-hambanya bisa kebali kepada kebenaran.
Di jaman Nabi Musa as. gempa juga dimaknai beliau sebagai teguran berat. “Dan tetapkanlah untuk kami kebaikan di dunia ini dan di akhirat. Sungguh kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. (Allah) berfirman, ‘Siksa-Ku akan aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki, dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (QS 7:155-156)
Di masa Rasulillah saw pernah terjadi bencana wabah. Aisya r.a menanyakan soal wabah itu. Terutama, keadaan orang-orang beriman yang terjebak di daerah bencana. Rasulullah saw mengatakan bahwa wabah tha’un merupakan siksa Allah yang dikirimkan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Tetapi, Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi para hambaNya yang beriman. Maka, seorang mukmin yang berada di daeraj yang kejangkitan wabah itu, jika sabar dan ikhlas karena ia mengerti tidak akan terkena wabah itu kecuali kalau memang sudah ditakdirkan Allah baginya, maka Allah akan mencatat baginya pahala seorang mati syahid. (HR. Bukhari).
Bencana memang tidak akan ppilih kasih. Apakah di situ ada orang shaleh atau penikmat maksiat. Semua akan kena, siapapun yang dikehendakiNya. Semua akan merasakan kedhsyatannya. Cuma bedanya, orang kafir merasakannya sebagai azab. Sementara orang mukmin sebagai rahmat Allah swt. Dengan catatan: sabar dan ikhlas.
Ketika bencana sudah terjadi, besar atau kecil, seorang mukmin harus bersikap positif. Ia tidak mengeluh, apalagi menggugat: Allah tidak adil! (QS 89: 15-16)
Selalu saja, semua yang Allah turunkan termasuk juga bencana, akan punya hikmah dibaliknya. Ada pelajaran berharga dibalik penderitaan seorang mukmin. Di sana ada ampunan, teguran, solidaritas, juga pendidikan kesabaran dan keikhlasan.

"Ketika Kekasihku Menangis"

*Diambil dari kumpulan artikel Menggenggam Islam oleh Sarbaini*


Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah seraya membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahu, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bagian demi bagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut menyertainya.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."

Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanukum - peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu" Di luar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

***
Ah...
Sungguh agung hatimu wahai Rasul. Engkau merasakan betapa sakitnya sakaratul maut, namun engkau tak ingin kami merasakannya, engkau ingin menanggung sendiri semua sakit itu, demi kami.

Ah…
Sungguh besar cintamu pada kami hai Rasul. Di saat terakhirmu, engkau menangis. Kami tahu, engkau menangis karena mengkhawatirkan kami, ummatmu ini. Engkau takut kami tersesat, engkau takut kami berpaling dari Allah dan engkau. Engkau takut, ada di antara kami yang tidak dimasukkan ke surga, tidak menemanimu di sana.

Ah...
Air matakupun ikut mengalir. Akukah orang yang membuat Rasulullah menangis? Akukah orang yang dikhawatirkan Rasul? Akukah yang disebutnya “ummati…ummati…”.

Ya…Rasul, tentulah engkau akan kembali menangis, seandainya engkau melihat kami. Betapa banyak di antara kami, yang meninggalkan perintah Tuhanmu, dan justru melanggar larangan-Nya. Kamikah ummatmu?

Tentulah engkau akan kembali menitikkan air matamu yang mulia, karena begitu banyak ummatmu yang hidup tanpa mewarisi risalahmu. Engkau mengatur hidup ummatmu dengan al-Qur’an, sementara mereka mengatur kehidupan ini dengan aturan buatan manusia. Engkau menangis karena kami, sementara kami tak sekalipun menangis karena dosa-dosa kami, kami tak sekalipun menangis karena merindukanmu ya Rasul…
Maafkan aku, maafkan kami...

Semesta Bertakbir... ^_^

Maha Besar Allah....
Allahuakbar...
Jumat 10 September 2010...
Bahagia.... Rasa yang pasti ada di hati setiap umat muslim hari itu.. Karena kemenangan sudah ada didepan mata. Akan tetapi, rasa itupun dibalut oleh rasa sedih yang mendalam karena ramadhan yang merupakan ladang amal akan pergi meninggalkan kita.
Pagi itu, langit tampak cerah dan udara sejuk. Allah memang Maha Kuasa atas segala yang ada di muka bumi ini. Allah menurunkan hujan pada hari sebelum takbir berkumandang di bumi Purworejo (mungkin juga terjadi di kota lain), Allah menurunkan hujan membasahi bumi yang tidak sebentar, kemudian Allah juga menghendaki malam jumat dan jumat pagi, agar langit terang benderang supaya seluruh umat muslim dapat menyambut dan melaksanakan shalat ied secara suka cita. Sungguh aku mengagumi kejadian ini... Pagi-pagi, aku bangun. Kemudian aku shalat subuh... Setelah itu aku membuka jendela, kudapati udara yang sejuk, baunya seperti bumi yang baru saja diguyur hujan, setelah sekian lama terkena terik matahari. Sejuk sekali... Kemudian aku membersihkan rumah, membantu ibukku. Setengah tujuh, aku,bapakku, ibukku, dan masku pergi ke masjid... Kusaksikan keagungan Allah Yang Maha Dahsyat,, beratus-ratus orang menyebut asma Allah, dengan barisan yang tertata sangat rapih..

"Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan atau memaafkan kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa" (QS An Nisaa 149)... Yak, memang tidak harus pada hari idul fitri saja kita saling bermaafan..  dan tidak ada salahnya pula, kali ini aku meminta  maaf pada siapapun yang pernah kusakiti... "Maafkan ari... Thanks for being a party of my life.."

Untuk itu, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H, sahabatku...
Maafkan segala kesalahan, kelalaian, keangkuhan, ke'pelit'an, ke'njelei'an, kemarahan, kebodohan, ke'congkak'an, dan kekhilafanku yang lain yang mungkin menyakiti hati kawanku semua... Maaf...

Hmmm... tapi, akankah aku bertemu dengan Ramadhan yang akan datang... Aku hanya berharap, semoga aku menjadi pribadi yang lebih baik, pribadi yang bisa bersyukur atas segala pemberianMu, Yaa Allah....
Aku mulai merindukan, saat-saat maghrib setelah ashar itu, yaa Allah...

Mungkin tulisan ini terlambat untuk di post... tapi aku pikir tidak ada keterlembatan untuk mengingat betapa besarnya Kuasa Allah pada kehidupan kita... Allah-lah yang menghidupkan dan meniadakan kita, untuk itu aku mencukupkan diri atas cinta yang hanya datang dari Allah... itu saja...

Si Meong.... Aku merindukanmu....

-->
Belajar dari seekor kucing yang mampir ke tempatku, saat hari lebaran...

Beberapa bulan terakhir ini, ada seekor kucing yang terlalu sering mampir di rumahku (eh... bukan ding rumah bapak ibukku)... Ga selucu si Cleo sih (kucing milik mbak Erlita, mbak kosku tersayang..), tapi bagiku dia cukup bisa menghiburku dikala aku tidak punya teman di rumah... Panggil saja dia Si Meong (hehehe... meksa...). Si Meong ntu gak tentu ada di teras depan rumah... Jadi kalo dia sedang tidur dikursi depan rumah ya itulah kesempatanku untuk menggodanya..
Suatu kali, aku bermain dengannya, eh bukan ding mungkin lebih tepatnya aku bermain dengan ekornya... hihi... Kumainkan saja ekornya ketika dia duduk atau tiduran di dekatku.. Ekornya bergerak-gerak seperti jarum jam yang bolak-balik berputar... Lucu sekali...
Kemudian, terkadang aku mencuri makanan yang ada di dapur ibukku untuk memberi makan si Meong... Kadang pula, aku menggodanya dengan memainkan sebatang sapu lidi, supaya dia mengejarnya... Hehehe... maaf ya Meong, pusing yah??? Hemmm... salah siapa kamu mampir tempatku??? hehehe... pisss...
Hemm... Si Meong tidak hanya menjadi teman baikku ketika aku berada di rumah, tetapi dia juga jadi sumber inspirasi untuk tulisan ini (halaaahhh lebai pisan)...
Ketika Si Meong, bergeliat manja di kakiku dan mengibas-ibaskan ekornya di kakiku yang membuatku cukup geli, aku belajar darinya bahwa kita harus saling menyayangi walau kita itu berbeda, tidak punya ikatan persaudaraan dan walau kita baru mengenal...
Ketika Si meong, mencakar-cakarkan kukunya di pohon mungkin dengan maksud mengasah ketajaman cakarnya, aku belajar bahwa hidup kita juga harus punya pegangan atau apapun yang bisa di andalkan. Kita juga perlu mengasah potensi yang kita miliki. Dan itulah pegangan kita.
Ketika Si Meong mencari seekor belalang di rumput, dan ternyata ia tidak bermaksud untuk memakannya, aku mulai kagum pada hewan satu ini... Ia coba memastikan bahwa belalang itu baik-baik saja dan tidak mati... Ia mengamati, kemudian mungkin mencoba menciumnya (hhh... atau mungkin perasaanku saja)... Ternyata ia juga butuh mencari teman, untuk bisa ia sayangi walau mereka jelas-jelas berbeda.
Beberapa minggu yang lalu, ketika aku kembali dari Jogja untuk menghabiskan waktu libur kuliahku, beberapa hari aku tidak melihat Si Meong tidur di depan teras rumah... Mungkin Si Meong sudah menemukan tuannya atau mungkin Si meong sudah menemukan tempat yang lebih nyaman dibandingkan teras depan rumahku...
Tetapi, setelah aku shalat ied, aku mendapati si meong ada di depan pagar rumah... Hahahhh... aku menemukannya kembali... Lalu setelah aku masuk ke dalam rumah, ia hilang lagi... Siangnya, Si Meong muncul dengan agak ceria (hehehe sok tau) karena ia datang sambil berlari-lari... Ia mungkin habis keliling-keliling rumah untuk meminta maaf dari satu rumah ke rumah yang lain... (hehehe,.. mungkin)...dia mampir di tempat duduk di teras rumahku... dan ternyata ia tidur di sana... lucu sekali dia... Innocence..

Dan sekarang aku tak mendapatinya lagi sedang tidur di teras rumah... Hmmmm... da da meong... Smoga kita bertemu kembali... ^_^ Hmmmm... ari merindukanmu...


Belajar Sebuah Kepercayaan dari seorang Doktor

Awal aku masuk kuliah ada pelajaran hebat dari seorang dosen sekaligus penasehat akademikku... Pelajaran yang mungkin tidak didapat dari bangku kuliah manapun... (Untuk Pak 'NoWar', maturnuwun Pak karena Anda sudah membagi pengalaman bapak kepada kami semua, sebuah pelajaran yang mungkin akan kami ingat sampai mati..)... Beliau bercerita tentang pengalamannya menjadi seorang pranatacara yang sangat multi talenta... Bisa berbahasa sunda, jawa (banget... bahasanya estetis sumpah!!!), minangkabau, batak, atau suku manapunlah mungkin beliau mampu.. Pranatacara berbahasa inggris, dan sedikit bahasa jepang... Jam terbangnya pun tak main-main. Sebuah acara keraton, petinggi-petinggi militer, pejabat-pejabat provinsi pernah beliau tangani. Luar biasa.... Dari beliau yang paling kuingat adalah bahwa untuk membangun sebuah kepercayaan dari publik butuh waktu lama dan butuh perjuangan keras, akan tetapi untuk menghancurkannya hanya butuh sedikit waktu dan sangat mudah.... Untuk itu diperlukan tanggung jawab...
Beliau sangat inspiratif sekali... Pokoke kereeeeeennnn...

Aku Perempuan Tegar

Senin, 20 September 2010...

Hari ini adalah awal aku memasuki kota Yogyakarta ini (lagi)... Berniat untuk membuat sebuah perubahan dalam hidupku, yang mungkin saja akan berpengaruh pada masa depanku nanti... Aku meninggalkan kota kecil di sebelah barat Yogyakarta, bernama Purworejo untuk membawa semua pengharapan itu tadi... Berat memang... Karena mungkin aku adalah anak yang manja yang tak terbiasa berpisah atau jauh-jauh dari bapak ibukku di kota itu... Aku seorang anak perempuan biasa, yang hanya punya sebuah tekad dan keinginan untuk menjadikannya terwujud... Aku bukan siapa-siapa... Aku hanya manusia yang sering dianggap lemah... Tapi tidak!  Aku adalah perempuan tegar... Insyaallah, aku yakin itu. Untuk itu kubawa harapanku dan kedua orang tuaku dikota Yogyakarta ini... Kelak akan kubawa, sebuah senyuman kebanggaan dari kedua orang tuaku di kota ini... Sebuah kebanggaan dengan menempatkan kedua orangtuaku di garda depan...
Ya Allah, aku hanya berharap apapun yang terbaik bagiku dan baik bagi siapa saja...
Ijinkanlah aku untuk mewujudkan semua harapan dan senyuman itu dari tanganku sendiri...
Ya Allah, ridhai hamba...