Ikhlas

Tuhanku Yang Maha Lembut,

Aku letih dengan tidak baiknya
sikap oraang yang seharusnya mengerti
niat baikku.

Mengapakah Engkau mengijinkan
orang yang kubaiki
tidak berlaku baik kepadaku?

Aku tahu, ini pasti untuk kebaikanku.
Maka aku mohon,
kuatkanlah keikhlasanku
untuk memperbaiki sikapku
terhadap orang dan keadaan
yang tak bisa kuperbaiki.

Tuhan, kosongkanlah dadaku dari beban.

aamiin

Bahagia itu...

Banyak diantara kita merasa kesulitan utk mencari kebahagiaan, padahal kebahagiaan itu sangatlah sederhana,yaitu menerima dengan ikhlas semua hal yang sudah kita terima dan berbuat dengan ikhlas apa yang semestinya kita lakukan.Dan ikhlas itu bukan berarti bersikap pasif dan pasrah pada segala hal,tapi wujud dari ketegaran hati yang dibentuk oleh kejujuran pada diri sendiri.. dan sabar itu bukan berarti tidak menangis, sekuat apapun iman seseorang, air mata adalah butiran alamiah yang dianugerahkan Tuhan kepada makhluk bernama manusia, itu kataku.

Aku memilih bahagia untuk saat ini, meski perjalanan terselesaikannya tugas akhir tidak semulus kelihatannya.

aku memilih bahagia untuk saat ini, meski kadang aku butuh menangis di tengah pekerjaan, tapi yang paling kuingat bahwa “pekerjaanmu, membutuhkan kesabaranmu”

aku memilih bahagia untuk saat ini, meski kadang kerinduanku untuk pulang ke rumah cuma berakhir pada angan di dalam kamar sempit kos ku.

aku memilih bahagia, meski kadang sakit tidak pernah bilang kapan dia akan datang,

aku memilih bahagia untuk saat ini, meski kadang niat baikku tidak selalu bisa diterima dengan baik oleh orang lain.

aku memilih untuk bahagia,.... selamanya...

aku menunggunya kemarin, dan aku cukup melihatnya, aku bahagia...

Bahagia itu tidak menyakiti diri sendiri dan tidak menyakiti orang lain.
sederhana.

Question of Life

Apa yang akan kamu lakukan kalau cita-citamu kontradiksi dengan keinginan orang tuamu? Seorang teman bertanya pertanyaan serius padaku.

lalu ku jawab melalui pesan singkat, "Menyelaraskan diantara keduanya. Yakin deh mas, kalau orang tua tidak akan pernah memilihkan dan atau menyesatkan jalan untuk anaknya, yang ada hanya kadang anak (kita) tidak bisa membaca dengan baik niat dan ketulusan, harapan yang orang tua kita harapkan. Orang tua kadang memilihkan jalan yang keras untuk anaknya, menginginkan anaknya bercita-cita yang tidak mudah, namun sebenarnya kalau kita mencoba memahami lagi maksudnya, mungkin orang tua menginginkan kita supaya dapat menemukan peta untuk pulang kembali sendirian, dengan begitu ia yakin suatu saat nanti anaknya bisa melakukan apa-apa sendiri, tanpa orang tuanya, atau ketika dunia sudah tidak lagi memihak kepada dirinya. bisa lebih baik dari dirinya sendiri dan mungkin tidak melakukan kesalahan yang sama yang mungkin orang tuanya perbuat di masa mudanya, mungkin intinya begitu. "semakin rumit sebuah rintangan maka cita-cita itu sebenarnya semakin dekat." Intinya, mari memahami keinginan orang tua kita, lalu menyelaraskannya dengan keinginan kita, begitu :) setelah itu, Allah menyaksikan sekecil apapun perjuangan yg kita lakukan. Pilihan itu sepenuhnya ada di tangan kita, lebih baik direnungkan dulu."

"Laa tahzan, Innallaha ma ana”

TUHAN MASIH MENUNGGU

kau terlalu suka menangis dan berdoa
entah tangis dan doa apa
yang pasti, kau terlalu suka merafal keduanya
duh Gusti...
Aku kalah, aku terhempas, aku terluka, aku lelah..
begitu doamu?

Entah pada siapa sesungguhnya rafalan kata-katamu itu kau tuju
karena Tuhan hanya tuli dalam ego dan sukamu, kawan..

hidup ini mengalir seperti air,
hidup ini bernyawa seperti nafas,
hidup ini berputar seperti roda,
hidup ini melangkah seperti kepergian dan kepulanganmu
jangan meratap dan hanya merafal doa
kau belum terlambat menata kembali jiwamu yang kelabu, kawan...

kata kakekku,
kita kadang terlena oleh siluet kepuasan maya
kita kadang terlena oleh kemewahan harta,
kita kadang terlena oleh kegembiraan
yang membuat kita melupakan 'duka'

kau belum terlambat kawan,
belum, belum terlambat
Tuhanmu masih menunggu tangis dan doa (egomu) itu reda,
untuk mengembalikan sesuatu yang hilang darimu,
tentu saja dengan usaha dan tetap doa (yang bukan egomu),
karena tidak ada yang gratis dan ada begitu saja...



[Abenk KW a.k.a Bambang Kisna W, Yogyakarta 5 Oktober 2007]

Maha

Apa Tuhan punya facebook? Lantas kenapa kamu berkeluh kesah dan merapal doa di dinding-dinding facebookmu?
Apa Tuhan punya twitter? Lantas kenapa kamu dengan mudah dan singkatnya menyebut Tuhanmu di setiap postinganmu?
Apa Tuhan punya email? Apa Tuhan punya nomer hape? Apa Tuhan punya blog?

Tidaaak... Dia jauh lebih dekat dari semua itu. Jauh lebih dekat daripada urat nadimu sendiri.
Lalu kenapa kamu sering melakukan hal-hal sia-sia itu? Itu bukan sia-sia. Itu adalah tulisan. Kamu tau kekuatan sebuah tulisan? Dia akan menjadi doa bagimu. Dia akan menjadi sejarah, pembuktian bahwa kamu punya harapan.
Tuhan itu Maha Mendengar kan ya? Tuhan itu Maha Melihat kan ya? Hal yang tidak diungkapkan saja, ada dalam kuasaNya... apalagi tulisan.. itu akan dibaca oleh orang lain, dan jika itu baik, maka orang lain yang membacanya akan mengamini doamu, mengamini harapanmu, membantu membawa doamu mendekati kenyataan... tentu dalam kuasaNya.

namun, ingat semua ada batasannya.

Mother's Day

Tak usah kau hiraukan, kemana kaki ini kupijakkan
ketika aku mengembara, di bumi yang mulai retak
memanggul pena, memetakan nasib di kertas putih
berburu takdir yang tak bisa diterka

maka...
jika tak kau dapati baktiku padamu
jangan sesalkan bulir peluh yang mengucur di nadiku
air susu yang mengalir di dalam darahku

selama langkahku tak membuyarkan warna pelangi
biarkan aku mengembara, di bumi yang mulai retak
tak peduli jejak kaki tinggalkan cerca
ucap jiwa sisakan kisah
ku tahu doamu selalu membimbingku
di perantauan ku tak bisa tenang tanpa cintamu
aku butuh nasihatmu karena perjalananku tak sesederhana air mengalir,
dan tak semudah kebetulan...

aku tak ingin seperti layang-layang,
menyerah dipermainkan angin
ada cita yang harus dicari
ada suara yang harus dikabarkan...

surga itu masih di telapakmu.. masih...
tangan Tuhan masih di tanganmu
dan saat aku mengembara, di bumi yang mulai retak
aku sadar, aku tak bisa berbakti
mungkin tak sekarang,
entah kapan, aku pun enggan berjanji...


>> to all mother in the world
22 Desember 2012 _ 22122012_